On 12/30/05, Zaki Akhmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Atau bisa kita lihat dari sudut pandang budaya sharing yang kurang di
Indonesia? Atau budaya yang sharing yang kurang ini juga diakibatkan
ketakutan orang-orang bermata elang disirikin orang lain? Jadilah
orang-orang pintar Indonesia lebih memilih untuk tinggal di LN: hidup
nyaman, dihargai, dan tentu tidak disirikin orang lain. Soalnya ketika
pulang ke .id bakal capek berantem dulu untuk bisa tetap berdiri teguh
di keyakinannya. Jadi "agent of change" di Indonesia benar-benar butuh
energi ekstra.

Bisa juga karena capek disirikin orang, orang-orang bermata elang ini
malas untuk sharing pandangannya. Mereka jalan saja sendiri diatas
keyakinannya.

atau mungkin gak karna kita gak siap menerima keyakinan yang berbeda, om Zaki? di diskusi orang2 barat, saya sering dengar begini, "I think mr.X will disagree with me".  seolah2 menunjukkan kesiapannya untuk berbeda pandangan.

demokrasi sering di artikan orang hanya hanya kebebasan berpendapat. tapi yang paling susah dan penting itu sebenarnya kemampuan kita menerima perbedaan. menurut saya ini yang terjadi dengan Indonesia sekarang. Kita gak siap menerima perbedaan pendapat, keyakinan yang berbeda.

saya contohkan dengan kasus Roy Suryo. wait a minute, kalau bicara Roy Suryo sensitif, jadi saya claim dulu bahwa ini gak ada hubungan dengan kasus Roy Suryo, hanya contoh tentang perbedaan aja.

begini, kalau teman2 yang bersebrangan dengan Roy Suryo tidak tahan duduk satu meja selama 5 menit dengan Roy Suryo, artinya kita gak siap berbeda, let's forget about democracy.

Bayangkan kalau semua bilang The World is Flat. Untung ada om Enda yang bilang The World is Spiky.

sorry OOT

--
Pakcik
Under Construction

Kirim email ke