Pakcik wrote:
> On 12/30/05, Muhamad Carlos Patriawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> > >
> > > atau mungkin gak karna kita gak siap menerima keyakinan yang berbeda, om
> > > Zaki? di diskusi orang2 barat, saya sering dengar begini, "I think 
> > > mr.Xwill
> > > disagree with me".  seolah2 menunjukkan kesiapannya untuk berbeda
> > pandangan.
> > >
> >
> > Dalam dunia modern,seringkali bukan setuju atau tidak setujunya yang
> > penting,melainkan "reasoning" dibelakangnya.
> >
>
> saya agak2 setuju tapi pada akhirnya gak setuju.  :)
>
> Kalau reasoning nya bagus, dan tingkat pendidikan warganya bagus sehingga
> bisa terima reasoning itu, otomatis di dukung.   Siapa yang bisa bikin
> reasoning yang bagus? expert, pakar, ahli. Unfortunately, di dunia demokrasi
> gak ada pakar. semua setara.
>
> Jadi siapa yang "benar" di dunia demokrasi? mayoritas, crowd.  Jadi kalau
> saya bilang X dengan reasoning gak karuan, tapi ternyata semua orang
> mendukung, berarti X lah yang benar.

aha,point yang bagus .... betul,makanya dalam dunia demokrasi,hanya
pemilihan pemimpin saja yang melibatkan seluruh rakyat.

Sedangkan untuk hal2 yang sifatnya strategis,itu diserahkan kepada
expert,dirjen,sekjen,menteri,polisi,alim ulama dan para cendekiawan :)


>
> http://en.wikipedia.org/wiki/The_Wisdom_of_Crowds
>
> ada penelitian tentang who wants to be a millionare, gak tau benar apa
> nggak. ternyata yang paling sering benar itu adalah ask audiences di banding
> 50-50 dan ask friend/expert. Tapi gak tau ini berlaku di Indonesia yang
> katanya tingkat pendidikannya rendah.
>
> hehehe ayo para pakar, salah sendiri milih demokrasi. :)

bukan 'demokrasi'nya tapi 'euphoria democrasinya' yang dimanfaatkan
sebagian orang yang salah.

banyak org beranggapakan kalo demokrasi=kebebasan melakukan apa saja
termasuk kebebasan pers/media

nah skrg pers/media memanfaatkan kebebasan tsb dengan mempertontonkan
tayangan tidak senonoh atau pembodohan massal seperti tayangan
hantu,nah reasoning si pers/media "wah ini ratingnya tinggi
pak...masyrakat suka",para kaum cendekia dan tokoh agama terkejut,koq
begini ya ? nah disinilah peran kaum cendekia/expert memberikan "arah"
kepada majoritas/masyrakat (yang salah).

> Setelah itu, jika "reasoningnya" sudah didiskusikan sedemikian rupa dan
> > tampak pilihan mana yang paling reasonable,everybody (termasuk yang gak
> > setuju) harus commit dengan kebijakan itu.
> >
>
> Setuju. unfortunately diskusi tidak sama dengan voting (memilih). Di DPR ada
> voting, harus menyepakati sesuatu, harus bikin policy. Sementara di tempat
> lain seperti milis ini gak harus memutuskan sesuatu kan. kita diskusi, bikin
> wacana.

oooh milis toch :-) hahahaha lets shoot it PakCik kalau ada yang gak
cocok asalkan pakai reasoning yang kuat :)) tapi begitu ketemu satu
titik temu kita diskusi di higher level,jadi gak ngomongin hal yg sama
lagi.

Carlos

Kirim email ke