On 1/12/06, Made Wiryana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>  - Bangunan dan mebel (biasnya PTS mengambil kredit dan membayar
> per bulan), utk PTN ini rata-rata sudah tertutupi

Tidak betul. Kecuali kalau kita masih mau menggunakan bangku
tahun 1920 :) ha ha ha.
Ada lagi yang repot kalau di PTN, yaitu aset tidak bisa dihilangkan
begitu saja. Jadi, contohnya bisa saja ada komputer yang sudah
rongsokang (misalnya XT), maka dia tidak bisa dibuang/dihapuskan.
(Bisa sih, tapi prosesnya itu lho.) Bisa-bisa kena tuduhan korupsi.
Jadi ada cost untuk inventory.

>  - Gaji dosen dan karyawan (dosen dan karyawan kebanaykan PNS
> khan jadi sebagian di PTN sudah tertutupi)

Emang gaji dosen PNS berapa gitu? ;-)
Kalau saya digaji, mungkin resminya hanya Rp 1 juta/bulan.
Gak bisa hidup kalau hanya ngandalkan itu.
Office boy di tempat saya, gaji resminya dibawah UMR.
(hanya cukup untuk naik angkot)

>  - Biaya peningkatan SDM yang tidak murah

Ini sama, meskipun memang benar opportunity lebih besar
di PTN.

>  - Bahan habis
>  - Biaya administrasi

Dua-duanya sama rasanya.

>  SIlahkan difikir-fikir, bagi PTN sebetlnya sebagian dana
> sudah tertutupi,dan bagi PTS masih perlu ditutupi

Nggak juga lho.

Ada enaknya di PTS. PTS bisa menentukan biaya SPP sendiri.
Ada kenaikan SPP, biaya ini dan itu bisa diputuskan
dengan segera. Kalau di PTN, harus melalui birokrasi yang
panjang. Saya ingat ketika diusulkan untuk menambahkan
biaya Rp 10 ribu/semester agar mahasiswa mendapatkan
akses Internet, itu butuh diskusi bertahun-tahun.


-- budi

Kirim email ke