> Engineers often must solve problems without understanding the > underlying theory. Certainly, engineers benefit from scientific > theory, but sometimes the solution is required before the theory can > catch up to the practice. For example, theoriest are still trying to > fully explain high-temperature superconductors while engineers are > busy forming flexible wires out of these new materials that may be > used in future generations of electrical devices. > > Demikianlah. Itulah sebabnya mahasiswa sengaja saya "tekan" dengan > kondisi seperti yang akan mereka hadapi di luar nanti. Menjadi > engineer memang tidak mudah. Jika menyerah dengan tantangan di kuliah, > bagaimana nantinya setelah lulus? Bagaimana jika diberi tanggung-jawab > untuk membuat alat yang akan dikirimkan ke Jupiter? Tidak ada buku > "how to design circuits (or software) for Jupiter." ha ha ha. > > Ayo ... komentar-komentar lainnya. >
Memang seharusnya dan dimana-mana seperti itu , kalu mau develop "hello world" saja mesti tahu assembly dan cara kerja compiler yah gak selesai2 programnya dong. PS: saya bisa hitung jari berapa engineer yg saya pikir "tahu semuanya" Masalah lain yang saya liat dari pertanyaan orang2 indonesia ke saya japri juga kurang lebih seputar ini, dikira orang sebelum bisa datang ke tempat R&D dan bikin barang untuk/di jupiter networks harus tahu semuanya in detail , padahal tidak begitu. Banyak pengalaman sebenarnya datang dari learning by doing. Petama, Orang2 atau mahasiswa India yang datang kesini (selain yang IIT--karena IIT special case) rata2 juga saya lihat gak lebih pintar dari mahasiswa indonesia koq , bedanya orang2 india ini banyak sekali yang "mengarahkan" dan daya juangnya sangat tinggi (secara mental dan attitude). Kedua , banyak persh di India dan US yang bisa menggali potensi mereka .. Dua hal ini saja di Indonesia yang jarang banget.. Carlos
