On Wed, Apr 26, 2006 at 01:44:32PM -0000, m.c. ptrwn wrote:
> btw tempo hari kan ada peraturan baru yg menetapkan barang import untuk
> telekomunikasi harus disertifikasi dulu dan lebih merekomendasikan
> barang yang komponenya dibuat didalam negeri.

yang terpenting untuk isu semacam ini adalah bagaimana operasionalisasi
(juklak/juknis) dari peraturan tsb. seringkali peraturan tinggal peraturan
karena tidak ada jalan untuk melakukan eksekusi. lebih buruk lagi, seringkali
untuk juklak dan juknis ini 'dipagari' oleh sekelompok kepentingan. seperti
ada pepatah: lepas dari mulut singa, masuk ke mulut buaya.

itu satu sisi, walaupun bunyi dari peraturan tsb. (kalau ada) memang cukup
menggembirakan.

> btw, kalau semua barang itu distop importnya, apakah sudah ada barang
> pengganti buatan lokal yg sama persis ?  ada berapa r&d engineer .id yg
> expert di linux driver dan bisa solving masalah seperti semaphore
> lockup  ?

barang tentu dibuat berdasar spesifikasi, spesifikasi dibuat berdasar
kebutuhan. walaupun kenyataannya dalam bisnis, kebutuhan itu belakangan :-)

ada berapa engineer di Indonesia yang siap melakukan troubleshot/development/dll
thd produk appliance tertentu? pertanyaan saya salah :-) pertanyaan pertama
mestinya: apa mungkin seorang insinyur indonesia mengoprek appliances tsb?
baru, kalau jawabannya mungkin, maka pertanyaan dilanjutkan: ada berapa orang
yang bisa, cukup atau tidak dst..dst.. nah, sebelum menjawab pertanyaan pertama,
apa iya kebutuhan tsb. memang dibutuhkan dalam implementasi real? jawabannya
tidak bukan? yang dibutuhkan adalah sertifikasi CCNA/CDMA/STMJ/dll

tapi, menjawab pertanyaan anda, jawaban saya adalah: tidak tahu. minimal dari 
apa
yang bisa (saya) lihat dalam bisnis IT di negara ini, nampaknya kerjaan seperti
itu mendapat urutan ke sekian ribu. bukan berarti tidak ada. apalagi kalau ada
sinergi di berbagai bidang, berikut bidang pendidikan, mestinya sih (dugaan 
saja)
kita memiliki resources (SDM) yang cukup berlebih. masalahnya barangkali kembali
ke aspek penguasaan intelectual capital seperti yang sudah dilakukan oleh orang-
orang di .. ehem.. india, cina dll. bukan tidak mungkin resources berupa 
intelectual
capital di negara ini dikuasai dan digunakan untuk kemaslahatan negara lain. 
buktinya
ngurusin/dominasi thd natural resources di negara ini saja sudah sangat 
memprihatinkan.

di satu sisi, mendatangkan vendor-vendor raksasa untuk melakukan R&D di sini itu
menguntungkan, tapi di sisi lain seperti menyerahkan jiwa kita kepada iblis 
(ha..ha..).

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

Kirim email ke