Dear all:
Nimbrung ya....

Kalau kita nonton TV program yang bejudul Royal Canadian Air Farce atau This
Hour has 20 Minutes, kita pasti "ngelus" dada. Disini, semua public figure
malah harus siap jadi bahan ejekan, lelucon, humor dan sebangsanya. Jadi kalau
jadi public figure nggak ingin dikerjain ya bertindaklah yang lurus-lurus
saja. Cuman apa ya kuat...
Kita kan sebagai manusia (belum jadi public figure je) hanya bisa berharap
semoga senantiasa ditunjuki jalan yang lurus....

Kok hanya diejek... perdana menteri Kanada dulu pernah diraupi (apa ya bahasa
Indonesianya) APPLE PIE oleh seorang protestor. Ditangkap memang protestor
itu. Tapi, penggembira partai perdana menteri itu nggak terus turun ke jalan
bikin onar. Adem-adem saja. Malah terus jadi bahan ketawaan.

Mungkin saatnya di Indonesia dibiasakan kritikan, ejekan en sejenisnya kepada
public figure. Dan segenap pengagum, penggembira, fans jangan marah dong.

Kalau kita santai, kita bisa ngerjain (termasuk mengejek, mengkritisi,
menyanjung etc.) kasus di seputar orang besar seperti Nurcholis Madjid, Gus
Dur, Soeharto, Habibie, Megawati, Amien Rais, Ibnu Widiyanto (eh..belum jadi
public figure ding...ha...ha..tapi sure, saya orang besar  wong abote 120kg
je.). Yang bersangkutan dan pengikutnya nggak boleh marah en tersinggung
dong.... (mung mbatin....).

Intinya, mari kita kritisi semuanya entah itu public figure punya salah atau
bukan. Jangan sampai seorang panutan ngomongnya A, dia sendiri melakukan B.
Ini tentunya mempengaruhi kualitas dan konsistensi omongan dan tindakannya.


Itu dulu.

Salam dari Halifax,

IW
PS. Di Halifax sekarang musim Lobster, mas Eko dan pak Abdul Kadir, dan yang
lainnya, bisa lho bertandang ke gubug sewaan kami...Mari makan Lobster
bersama.
Ditanggung Lobster Halifax lebih uuenaak dibandingkan Lobster Calgarynya mas
Eko Rahardjo.



>===== Original Message From "Erwin Bayu Aji" <[EMAIL PROTECTED]> =====
>Wah, milist jadi rame gini...membuka wacana kita untuk berdemokrasi
>berpendapat, nggak ada salahnya kita semua mempunyai beda sudut pandang satu
>sama lain.
>
>Dalam hal ini saya sependapat dengan mas eko bahwa :
>"Seorang figure masyarakat itu memang harus selalu siap untuk menjadi bahan
>pembicaraan tidak saja dalam diskusi lingkungan
>kecil milis Undip melainkan juga dalam mass media". "Sekali lagi jangan
>salah ngerti yang menjadi issu bukan soal urusan pribadinya melainkan urusan
>publik yakni bagaimana SEBENARNYA sikap Majid sebagai panutan dari banyak
>umat Islam mengenai perkawinan campur, apakah ia MENCAMPAKKAN aturan dan
>tradisi Islam atau ia tetap teguh menjunjung tinggi. Saya tekankan sekali
>lagi pemikiran kritis, feeback mechanism, diskusi secara fair dan terbuka
>merupakan KUNCI dari berhasilnya membentuk suatu measyarakat yang
>demokratis, maju dan mature".
>
>sebagai orang awan saya ingin mengatakan bahwa,
>Dalam forum diskusi milist ini juga kan nggak harus selalu kita
>mendiskusikan hal-hal yg baik aja, boleh donk sekali-kali kita
>meluruskan/mencari fakta akan kebenaran suatu berita, terlepas nantinya hal
>tsb benar/salah. dan kita juga boleh mengungkapkan wacana kita didepan umum.
>Dan juga nggak ada salahnya kita membicarakan seorang presiden/pemimpin
>ummat dsb, yg notabene mereka itu berpengaruh dimasyarakat. Ya siapa tau
>kita bisa membuka wacana satu sama lain antar anggota, ini lho yg harus
>dilakukan, dan ini lho yg tidak harus dilakukan jika menjadi seorang
>pemimpin, dan pemimpin itu harus selalu bisa menerima berita/gosip atau
>apalah yg menyangkut dirinya dan dia juga berhak meluruskan/memberikan
>klarifikasi. (hal tsb menurut saya dalam suatu demokrasi, nggak harus
>ditutup-tutupi dan dihalang-halangi, wajar-wajar aja lah), toh forum ini
>cuma forum internal yg sekup=nya kecil dibandingkan media massa.
>
>itu aja sih...hehhee..maklum menyimak forum ini menjadi asyik aja. gini ini
>yg saya harapkan. bukan hanya melulu berita2 basi atau sekedar cuplik sana
>cuplik sini, tapi kabar terbaru yg belum terklarifikasi juga seharusnya
>lebih dibahas..(toh akhirnya nanti InsyaAllah kita bisa mendapatkan
>kebenarannya, kalo emang kita berniat untuk meluruskan/mendiskusikan hal tsb
>secara baik)
>
>rgds,
>Erwin
>
>
>
>
>-----Original Message-----
>From: Eko W Raharjo [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Tuesday, April 16, 2002 10:05 PM
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [UNDIP] Nurcholish Majid, sang Putri & Yahudi
>
>
>
>abdul kadir wrote:
>> >Tanggapan dari Kadir :
>> Ass.wr.wb.
>> Tidak disadari diskusi kita sampai jauh, sampai mengaburkan nilai-nilai
>mana
>> yang baik dan mana yang tidak baik.
>> Sebenarnya ini adalah pelajaran dasar kita waktu sekolah di SD.
>> Kalau kita sedang makan jangan bicara, kalau ada ulangan / ujian jangan
>> menyontek, dll.
>
>EW:
>Retorik yang tidak ada maknanya dalam topik diskusi sekarang!
>
>> Begitu juga membicarakan kekurangan orang lain, yang waktu itu guru saya
>> mengatakan tidak baik..
>
>EW:
>Retorik lagi dan bersembunyi dibalik retorik guru SD
>
>> Di agamapun demikian diajarkan, dan itu berlaku baik dia seorang pemimpin
>> atau orang biasa.
>
>EW:
>Bersembunyi dibalik ajaran agama (ajaran mana?, agama apa? mari kita
>diskusikan)
>
>> Saya tidak mempunyai authority untuk melarang orang berpendapat tetapi
>saya
>> punya hak / kewajiban menyampaikan mana yang benar dan salah sesuai dengan
>> apa yang saya dapat.
>
>EW: Kebenaran yang mana???
>
>> Dan kalau pendapat saya dianggap salah saya harus belajarlagi atas
>> kekurangan saya.
>
>EW: Retorik lagi
>
>> Perlu direnungi, kalau apa yang kita bicarakan membawa akibat buruk pada
>> yang bersangkutan siapa yang bertanggung jawab. Paling hanya menjawab "oh
>> itu hanya hipotesis aja / atau sebagai wacana, dll".
>> Atau menyalahkan sumber beritanya.
>
>EW:
>Seorang figure masyarakat itu memang harus selalu siap untuk
>menjadi bahan pembicaraan tidak saja dalam diskusi lingkungan
>kecil milis Undip melainkan juga dalam mass media. Kalau
>tidak mau dibicarakan mengenai kepemimpinannya ya janganlah
>jadi pemimpin manusia jadilah penggembala (pastor) kambing atau
>bebek, saya tanggung tidak ada kambing atau bebek yang
>membicarakan keburukan gembalanya; at least, tidak akan
>dibicarakan secara terbuka di mailing list Undip.
>
>Memang inilah yang saya kritik habis-habisan bahwa di Indonesia
>tidak saja banyak pemimpin tidak suka untuk dibicarakan/dikritik
>oleh umum melainkan juga banyak orang, seperti Abdul Kadir, yang
>tidak menginginkan hal ini. Betapa tercermin ketidak tahuannya
>mengenai "feedback mechanism" yang amat critical dalam membentuk
>masyarakat yang demokratis.
>
>> Dan issu yang membawa image negatif kalau terjadi pada dirisendiri /
>> keluarga bagaimana perasaannya.
>
>EW:
>Meskipun harus dibedakan karena saya tidak menjadi panutan orang
>banyak, namun dengan common sense justru akan menyelesaikan
>masalah dari pada sembunyi dalam retorik, peri bahasa, gurindam dst.
>Kalau ada orang yang mengissukan mengenai saya, saya ingin
>disampaikan secara terbuka sehingga saya bisa tahu, sehingga saya
>bisa mengkoreksi seperlunya.
>
>
>> Boleh aja mengkritik orang, tetapi ada batasan-batasannya. Kalau kita
>tidak
>> mempunyai batasan itu maka apabedanya kita dengan orang yang tidak
>terdidik.
>> Yang dimaksud bijaksana disini adalah hendaknya tidak berprasangka buruk.
>> Apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar belum tentu itu benar.
>
>EW:
>Batasannya adalah LOGIKA, tidak dengan kotbah retorik mengenai
>kebaikan. Salah-salah bisa terjerumus ke kemunafikan.
>
>> Contoh : Pak Eko melihat orang terkapar dengan terhunus sebuah pisau yang
>> kebutulan ada orang lain disebelahnya. Dan Pak Eko tidak melihat dia yang
>> menusuknya. Apakah Pak Eko akan bilang dia yang membunuh ?.
>> Menyerang orang tanpa pemberitahuan/ mengecek dulu berita sama aja dengan
>> BOMBARDIR.
>
>EW:
>Saudara Kadir saya nasehatkan kalau buat analogi ambil dari bidang
>keahlian anda sendiri supaya tidak dangkal dan ngacau. Baca lagi semua
>tanggapan saya dalam thread diskusi ini. Salah satu hal yang menyolok
>dalam tanggapan saya adalah saya belum mempercayai bahwa berita tsb
>benar (menyolok karena saya tulis eksplisit sebagai pengandaian).
>
>Saya tidak menanggapi secara khusus mengenai analogi diatas karena
>pertama saya tidak paham bahasanya "apa itu, terkapar dengan
>terhunus sebuah pisau?" ada orang lain disebelahnya. Disebelah
>pisau atau disebelah orang yang terkapar? Bagaimana bisa
>menganalisa siapa yang membunuh kalau tidak ada informasi siapa
>yang mati?. Yang mati orang yang terkapar atau orang yang
>disebelahnya??
>
>Inilah satu contohnya bahwa di Indonesia banyak orang terpelajar
>(saya mengassumsikan Abdul Kadir terpelajar karena emailnya dengan
>domain iptn) cas-cis-cus (kelihatan lancar dan bijaksana) kalau
>berkotbah mengenai retorik kebenaran namun giliran sedikit saja
>mendiskripsikan situasi atau mengambil kesimpulan dari opini
>orang dimana memerlukan pemikiran logis hasilnya kacau tidak
>karu-karuan.
>
>> Syukurlah berita ini (N.M) sekarang sudah jelas, dan mudah-mudahan membawa
>> hikmah buat kita.
>
>EW:
>Wawancara dengan Majid dalam Gatra juga menyebut peran dari
>reaksi (feedback) dari pelajar Muslim mengenai issu pernikahan
>putrinya dengan pemuda Yahudi (yang menyebabkan Nurcholish Majid
>memberikan penjelasan). Sekali lagi jangan salah ngerti yang menjadi
>issu bukan soal urusan pribadinya melainkan urusan publik
>yakni bagaimana SEBENARNYA sikap Majid sebagai panutan dari
>banyak umat Islam mengenai perkawinan campur, apakah ia
>MENCAMPAKKAN aturan dan tradisi Islam atau ia tetap teguh
>menjunjung tinggi. Saya tekankan sekali lagi pemikiran kritis,
>feeback mechanism, diskusi secara fair dan terbuka merupakan KUNCI
>dari berhasilnya membentuk suatu measyarakat yang demokratis, maju
>dan mature.
>
>> Salam dari saya buat semua kawan-kawan UNDIP.
>
>EW:
>Salam-salaman terus mau kampanye cari bolo atau gimana ini.
>
>Eko Raharjo
>Calgary
>
>--------------------------
>Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
>to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 321
>DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id
>
>
>--------------------------
>Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
>to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 322
>DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id


--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 324
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke