abdul kadir wrote: > >Tanggapan dari Kadir : > Ass.wr.wb. > Tidak disadari diskusi kita sampai jauh, sampai mengaburkan nilai-nilai mana > yang baik dan mana yang tidak baik. > Sebenarnya ini adalah pelajaran dasar kita waktu sekolah di SD. > Kalau kita sedang makan jangan bicara, kalau ada ulangan / ujian jangan > menyontek, dll.
EW: Retorik yang tidak ada maknanya dalam topik diskusi sekarang! > Begitu juga membicarakan kekurangan orang lain, yang waktu itu guru saya > mengatakan tidak baik.. EW: Retorik lagi dan bersembunyi dibalik retorik guru SD > Di agamapun demikian diajarkan, dan itu berlaku baik dia seorang pemimpin > atau orang biasa. EW: Bersembunyi dibalik ajaran agama (ajaran mana?, agama apa? mari kita diskusikan) > Saya tidak mempunyai authority untuk melarang orang berpendapat tetapi saya > punya hak / kewajiban menyampaikan mana yang benar dan salah sesuai dengan > apa yang saya dapat. EW: Kebenaran yang mana??? > Dan kalau pendapat saya dianggap salah saya harus belajarlagi atas > kekurangan saya. EW: Retorik lagi > Perlu direnungi, kalau apa yang kita bicarakan membawa akibat buruk pada > yang bersangkutan siapa yang bertanggung jawab. Paling hanya menjawab "oh > itu hanya hipotesis aja / atau sebagai wacana, dll". > Atau menyalahkan sumber beritanya. EW: Seorang figure masyarakat itu memang harus selalu siap untuk menjadi bahan pembicaraan tidak saja dalam diskusi lingkungan kecil milis Undip melainkan juga dalam mass media. Kalau tidak mau dibicarakan mengenai kepemimpinannya ya janganlah jadi pemimpin manusia jadilah penggembala (pastor) kambing atau bebek, saya tanggung tidak ada kambing atau bebek yang membicarakan keburukan gembalanya; at least, tidak akan dibicarakan secara terbuka di mailing list Undip. Memang inilah yang saya kritik habis-habisan bahwa di Indonesia tidak saja banyak pemimpin tidak suka untuk dibicarakan/dikritik oleh umum melainkan juga banyak orang, seperti Abdul Kadir, yang tidak menginginkan hal ini. Betapa tercermin ketidak tahuannya mengenai "feedback mechanism" yang amat critical dalam membentuk masyarakat yang demokratis. > Dan issu yang membawa image negatif kalau terjadi pada dirisendiri / > keluarga bagaimana perasaannya. EW: Meskipun harus dibedakan karena saya tidak menjadi panutan orang banyak, namun dengan common sense justru akan menyelesaikan masalah dari pada sembunyi dalam retorik, peri bahasa, gurindam dst. Kalau ada orang yang mengissukan mengenai saya, saya ingin disampaikan secara terbuka sehingga saya bisa tahu, sehingga saya bisa mengkoreksi seperlunya. > Boleh aja mengkritik orang, tetapi ada batasan-batasannya. Kalau kita tidak > mempunyai batasan itu maka apabedanya kita dengan orang yang tidak terdidik. > Yang dimaksud bijaksana disini adalah hendaknya tidak berprasangka buruk. > Apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar belum tentu itu benar. EW: Batasannya adalah LOGIKA, tidak dengan kotbah retorik mengenai kebaikan. Salah-salah bisa terjerumus ke kemunafikan. > Contoh : Pak Eko melihat orang terkapar dengan terhunus sebuah pisau yang > kebutulan ada orang lain disebelahnya. Dan Pak Eko tidak melihat dia yang > menusuknya. Apakah Pak Eko akan bilang dia yang membunuh ?. > Menyerang orang tanpa pemberitahuan/ mengecek dulu berita sama aja dengan > BOMBARDIR. EW: Saudara Kadir saya nasehatkan kalau buat analogi ambil dari bidang keahlian anda sendiri supaya tidak dangkal dan ngacau. Baca lagi semua tanggapan saya dalam thread diskusi ini. Salah satu hal yang menyolok dalam tanggapan saya adalah saya belum mempercayai bahwa berita tsb benar (menyolok karena saya tulis eksplisit sebagai pengandaian). Saya tidak menanggapi secara khusus mengenai analogi diatas karena pertama saya tidak paham bahasanya "apa itu, terkapar dengan terhunus sebuah pisau?" ada orang lain disebelahnya. Disebelah pisau atau disebelah orang yang terkapar? Bagaimana bisa menganalisa siapa yang membunuh kalau tidak ada informasi siapa yang mati?. Yang mati orang yang terkapar atau orang yang disebelahnya?? Inilah satu contohnya bahwa di Indonesia banyak orang terpelajar (saya mengassumsikan Abdul Kadir terpelajar karena emailnya dengan domain iptn) cas-cis-cus (kelihatan lancar dan bijaksana) kalau berkotbah mengenai retorik kebenaran namun giliran sedikit saja mendiskripsikan situasi atau mengambil kesimpulan dari opini orang dimana memerlukan pemikiran logis hasilnya kacau tidak karu-karuan. > Syukurlah berita ini (N.M) sekarang sudah jelas, dan mudah-mudahan membawa > hikmah buat kita. EW: Wawancara dengan Majid dalam Gatra juga menyebut peran dari reaksi (feedback) dari pelajar Muslim mengenai issu pernikahan putrinya dengan pemuda Yahudi (yang menyebabkan Nurcholish Majid memberikan penjelasan). Sekali lagi jangan salah ngerti yang menjadi issu bukan soal urusan pribadinya melainkan urusan publik yakni bagaimana SEBENARNYA sikap Majid sebagai panutan dari banyak umat Islam mengenai perkawinan campur, apakah ia MENCAMPAKKAN aturan dan tradisi Islam atau ia tetap teguh menjunjung tinggi. Saya tekankan sekali lagi pemikiran kritis, feeback mechanism, diskusi secara fair dan terbuka merupakan KUNCI dari berhasilnya membentuk suatu measyarakat yang demokratis, maju dan mature. > Salam dari saya buat semua kawan-kawan UNDIP. EW: Salam-salaman terus mau kampanye cari bolo atau gimana ini. Eko Raharjo Calgary -------------------------- Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 321 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
