Rochim Hadisantosa wrote:
> Assalamu'alaikum, Salam Sejahtera
>
> Anda lupa, bahwa setiap muslim bersaudara, maka bila seorang
> melakukan kesalahan, merupakan kewajiban bagi muslim lainnya untuk
> meluruskan. Dan peringatan, nasehat, adalah hak setiap muslim dari
> muslim lainnya. Maka saya tengah mengambil keWAJIBan itu, untuk
> memberi anda saran.
Eko Raharjo:
Masalahnya adalah anda menganggap saya bersalah tanpa alasan. Kedua
adalah lebih parah lagi yakni anda lancang mulut, tidak tahu aturan dan
tak tahu diri, memintakan maaf atas nama saya. Kelakuan ini merupakan
pelanggaran hak-2 asasi orang yang amat serius, yakni hak orang untuk
mengetahui apa tuduhannya (kesalahannya), hak orang untuk membela
diri dan hak dan kebebasan orang untuk berpikir, berpendapat secara
mandiri! Anda secara tak tahu malu telah berusaha merampas hak-hak
asasi tersebut dari saya!
Mengapa Islam dimata orang, terutama masyarakat di negara maju,
disalah-artikan sebagai primitif dan kelam, kemungkinan karena
adanya muslim seperti anda, who has no idea what you're talking! Anda
tidak rumongso (mengerti) meskipun pernyataan-2 yang anda keluarkan
adalah sangat arogan dan malicious (jahat). Anda kira kalau sudah memakai
kata-kata seperti: "memaafkan", "muslim", "saudara", "kebesaran hati",
dst" maka otomatis pernyataan anda akan berbobot dan benar. Anda asal
nyomot retorik yang ada tanpa paham arti, konteks maupun follow up nya,
dimana sangat berbahaya dan menyesatkan. Amat menyedihkan bahwa
di Indonesia tidak hanya anda sendiri yang punya pikiran rancu, bahkan
orang seperti Kapolda Metro Jaya pun rangkul-rangkulan dengan
Tommy Suharto ("saudara sesama Muslim"), Pokoknya apik-apikan.
Rochim wrote:
>Tak apa, pintu maaf saya selalu terbuka buat Eko, meski bila dia
>merasa tidak membutuhkannya, karena saya tahu bahwa kelak di hari
>penimbangan segala amal, manusia pasti akan memerlukan permaafan
>setiap orang yang ia berlaku aniaya kepadanya. Baik itu kepada
>sesama muslim, maupun kepada umat beragama lain di depan Tuhannya.
Eko Raharjo:
Lihatlah betapa arogannya anda, sudah berusaha merampas
hak-hak asasi orang masih mengharapkan permintaan maaf :)
Perlu anda ketahui tidak ada satu kalimatpun dari pernyataan-2 anda
yang bersubstansi, semuanya retorik-retorik basi.
Oleh karena itu saya hanya bisa bilang "nyebut...Chim... nyebut!"
Sungguh sayang, bahwa sebenarnya keyakinan akan Allah yang Esa
dan niat untuk mencontoh nabi Muhammad saw, yang senantiasa
mereform praktek-2 dan sikap hidup "jahiliyah" di masyarakat,
menajamkan rasa keadilan dan pencarian akan kebenaran yang hakiki,
namun Rochim mabok akan retorik-retorik manis berbunga-bunga
yang membuta tanpa makna. Tidak ada bedanya dengan kuda lumping
yang ketagihan dengan bau wangi kemenyan!
Eko Raharjo
Calgary
>
>
> Dan bila anda paham saya tengah memberikan HAK yang sepantasnya
> anda terima, untuk menerima nasehat itu.
>
> Saya pun tidak mengenal anda, tetapi seperti satu tubuh, bila
> diantara kami melakukan kesalahan, kewajiban bagi lainnya untuk
> menegur dan memperbaiki. Permintaan saya untuk memaklumi dan
> memaafkan saudara Eko adalah dalam kerangka berpikir saya yg
> demikian.
>
> Tapi demikianlah jadinya bagi pemahaman anda, anda justru mencela
> itu dan mempertanyakannya, hanya karena sekedar ia 'tidak
> mengenal'. Bahkan mengatakan kapasitas berpikir saya seperti
> "onta". Sungguh 'hebat' kalimat ini. Saya bersyukur bahwa kata-kata
> itu bukanlah kata-kata yang keluar dari mulut saya kepda orang
> lain, tapi dari orang lain kepada saya.
>
> Tak apa, pintu maaf saya selalu terbuka buat Eko, meski bila dia
> merasa tidak membutuhkannya, karena saya tahu bahwa kelak di hari
> penimbangan segala amal, manusia pasti akan memerlukan permaafan
> setiap orang yang ia berlaku aniaya kepadanya. Baik itu kepada
> sesama muslim, maupun kepada umat beragama lain di depan Tuhannya.
>
> Sebuah nasehat lagi bagi anda, hormatilah paling tidak diri anda
> sendiri. Jangan menjatuhkan martabat kehormatan diri sendiri dengan
> kata-kata anda sendiri.
>
> Kata-kata yang anda ucapkan, disana letak kapasitas anda sendiri
> sebenarnya. Dan kapasitas saya tidak diukur dari apa yang orang
> lain katakan kepada saya, tapi apa yang saya katakan kepada orang
> lain. Maka sungguh tepat bila saya memberi nasehat, khususnya
> kepada diri sendiri juga kepada saudara Eko, untuk merenungkan
> ulang setiap kata-kata sebelum menuliskan, khususnya yg berhubungan
> dengan perasaaan orang lain, apakah itu sesuai dengan akhlak
> islami, apakah itu tidak melukai sesama muslim maupun non muslim.
>
> Saya tahu benar kebesaran hati dan kerendahan hati rekan Kristiani,
> meskipun bila sesuatu menyinggung perasaaannya, mereka tidak akan
> mengeluarkan kata-kata kasar untuk itu, apalagi di milis ini. Dan
> memanglah demikian, saya tidak membaca itu di milis ini. Saya juga
> berpikir pintu maaf dari rekan Kristiani selalu terbuka, sebab saya
> pernah mendengar sebuah ajaran mereka: permaafan yang tak bersyarat
> dan tak terbatas. Saya sangat respek dan menghormati itu sebagai
> sesuatu yang benar.
>
> Maka sekali lagi saya ulangi : Saya sebagai rekan, sebagai saudara
> muslim, memohonkan pemaafan buat Eko kepada rekan lain di milis
> ini yg saya tahu bahwa mereka tidak berkenan kepada tulisan-2 Eko
> "Gereja Melindungi Kriminal".
>
> Saya juga mohon maaf kepada rekan-2 lain di milis ini, termasuk
> saudara Eko, andaikata tulisan saya ini yang berhubungan dengan
> 'diskusi yang mengganggu dan tak perlu' itu, di milis ini, menjadi
> menganggu milis ini juga.
>
> Wasalam,
> rochim
>
--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 582
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id