atik wrote:

> Ass. Wr. Wb.
>
> Maaf, saya terpaksa ikut nimbrung dalam permasalahan ini, karena  saya agak
> risih juga membaca perdebatan2 dengan topik ini, terutama dengan komentar -
> komentar Sdr. Eko yang semakin arogan.

Eko Raharjo
Lah sdri. Atik mau nimbrung aja kok pake minta maaf. Itu kan bukti
masyarakat kita dipenuhi dengan basa-basi yang tidak perlu. Tentu saja
anda sendiri tidak kroso (rumongso) karena memang sudah menjadi
kebiasaan. Tetapi persis hal inilah yang saya kritik. Di Indonesia orang
kebanyakan mementingkan basa-basi tanpa tahu tempatnya. Dalam
arena diskusi yang penting adalah isi, substansi, reasons bukan basa-basi.
Kalau saya ndayoh (mendatangi pesta kemantin), saya pasti berusaha
sebaik-baiknya berbasa-basi kromo-inggil, pake blangkon, surjan.
Jempol tangan kanan saya sembulkan, 4 jari lainnya saya sembunyikan.
Sedangkan tangan kiri, ya tahu sendirilah akan saya parkir ditempat
yang semestinya.

Posting dari Rochim, tidak satu kalimatpun membahas mengenai isi tulisan
saya. Tidak satupun memuat reason mengapa ia tahu-tahu menganggap
saya bersalah. Tahu-tahu ia mengalihkan topik kesuatu pembicaraan
yang personal dan irasional yakni memintakan maaf akan kesalahan saya.
Respon saya adalah memakai etika internasional yakni menunjukkan
kesalahan Rochim dan mengungkapkan perasaan saya (based on the
facts that he actually the one who has offended me).

Saya menyadari situasi orang Indonesia dimana kebanyakan orang
masih gandrung akan kata-kata manis - kosong dan masih alergi dengan
ungkapan kemanusiaan yang "beloko" yang merupakan respon dari
situasi nyata yang buruk atau aksi (komentar iseng) seseorang dengan
cara yang tak bertanggung jawab. Saya tidak merasa kecewa sedikitpun
mengenai hal ini. Perlu waktu dan pengalaman untuk berubah.

Seperti saya tekankan berulang kali, bahwa tulisan-tulisan saya tidak
bermaksud untuk menyenangkan orang, mencari simpati, hormat
ataupun uang. Dalam hidup saya sehari-hari disini saya sudah
mendapatkan semuanya secara cukup (tidak mungkin saya mendapat
hormat berlebih-lebihan disini wong tidak ada upacara bendera:)).
Namun saya masih membutuhkan hak-hak asazi saya seperti hak-hak
mengetahui tuduhan yang dikenakan kepada saya, hak untuk
membela diri dan hak untuk berpikir berpendapat secara bebas mandiri.
Jadi kalau ada orang yang menyalahkan saya, saya berhak untuk
tahu apa kesalahan saya!. Sehingga saya bisa exercise hak saya
untuk membela diri dst. Saya pertahankan mati-matian hak-hak
asasi saya tersebut.

Adalah benar tidak ada gunanya berdiskusi dengan Rochim mengenai
offence dia terhadap saya ditempat umum (meskipun ia melakukannya
di tempat umum). Saya akan teruskan lewat jalur pribadi, sebab dia
berhutang kepada saya untuk menerangkan tuduhannya terhadap
saya.

Chim! perhitungan belum selesai mari kita selesaikan antara
kita berdua!.

Eko Raharjo


--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 629
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke