Terus usulnya mbak Clara supaya mekanisme bisa lebih baik seperti apa? Saya usul bagaimana kalau dimulai dengan menyerahkan fotocopy pajak penghasilan yang dilaporkan ke kantor pajak.
Kira-kira bisa tidak? Cheers, IW >===== Original Message From clara darminto <[EMAIL PROTECTED]> ===== >Ibu-ibu & bapak-bapak.... > >Sebenarnya sesuai UUD, semua warga negara "berhak" mendapat pendidikan. Dengan begitu, idealnya anak sekolah dari SD sampai PT harusnya nggak mbayar karena ditanggung negara. Tapi dari mana negara dapat duit untuk membiayai itu semua? Bukankah Indonesia termasuk negara yang ber-GNP rendah? > >Kalau di negara lain, salah satu penghasilan negara didapatkan dari pajak. Bagaimana dengan di Indonesia? Sing ra mbayar pajak uakeeehh tenan. Pajak yang terbayar pun uakeeehhhh tenan sing ditilep. Jadinya? rakyat lah yang sengsara. Sampai bayar SPP pun susah. Di sebuah negara yang tingkat kekayaannya suangat beragam kayak Indonesia, sistem subsidi silang memang sangat tepat karena uang 500rb bisa sangat relatif: murah bagi yang kaya, mahal bagi yang berkekurangan. > >Cuma.... lagi-lagi yang perlu diprihatinkan adalah, banyak orang kaya yang berpura-pura. Coba saja kalau pas wawancara SPP di sekolah2 di Jakarta yang menggunakan sistem subsidi silang itu. Sim salabim semua nggak ada yang bawa Mercy, Audi, BMW atau Jaguar nya. Datang pun bersandal jepit. Wajah melas dipasang, kalau perlu beli topeng ber-trade mark "wajah melas". Slip gaji direkayasa, kalau perlu nyogok pak RT untuk mengeluarkan surat tanda nggak mampu. Semua dengan tujuan supaya tidak dikenakan SPP yang tinggi. Padahal, kalau mau baik, sekolah pun membutuhkan dana yang besar. Guru-guru perlu dibayar layak supaya mendedikasikan waktunya melulu untuk pendidikan dan tidak perlu nyambi kesana kemari. > >Jadi enaknya mulai dari mana ya kita? > >Salam, >Clara > >PS: Mbak Imas, yang pada berebut mau jadi kusir nya kuda patung Diponegoro sudah pada menyadari bahwa rebutan menjadi kusir nggak ada gunanya, koq mbak. Syukur ya mbak, ya. > > > >Daryono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >Bpk/Ibu > >Kalo menurut saya pembayara SPP itu harus ada range nya... > dimana harus didata penghasilan perbualan dari orang tuanya dulu sebelum masuk undip... > >misal si A bapaknya berpenghasilan RP. 100 jt /bulan ya jangan 450 rb.... > >Beda sa,a si B yang bapaknya Berpenghasilan rp.500 rb / bulan...masak harus 450 rb per semster... > >jadi inilah yang disebut subsidi silang.... > > > > > >--------------------------------- >From: Ibnu Widiyanto [mailto:[EMAIL PROTECTED] >Sent: Thu 3/11/2004 11:02 PM >To: Ressa Yanuardin Widiyatmoko; [EMAIL PROTECTED] >Subject: RE: [UNDIP] Kampus FE UNDIP > > > >Itungan bodon.... > >Saya dulu mbayar SPP hanya sekitar Rp 22.500 (kalau nggak salah ya). Itu tahun >1981. Tahun 1983, saya mbayar SPP untuk fakultas lain sebesar Rp 30000. Waktu >itu US $ 1 = Rp 600an. > >Sekarang US $ 1 = Rp 9000an. Berarti ada kenaikan nilai dollar US sebesar >1500%. Kalau demikian SPP Undip itu minimal harus naik 1500% dong. Jadi SPPnya >sebesar Rp 450.000,-. > >Tahun 1980an, gaji dosen junior Undip sekitar Rp 150000 an sebulan. Karena ada >kenaikan 1500%, berarti gaji dosen junior Undip minimal adalah Rp 2250000. >Kenyataannya gaji dosen junior Undip sekarang kurang dari Rp 1250000 per >bulan. Jadi ada deficit gaji sebesar Rp 1 juta. > >Kalau jumlah dosen Undip, katakan, sebanyak 1000 orang. Berarti setiap bulan >Undip harus nomboki kekurangan gaji dosen sebesar Rp 1 milyar. Katakan jumlah >mhs Undip adalah 20000. Maka beban setiap mhs Undip untuk nambah kekurangan >gaji adalah sebesar Rp 50 ribu per mhs. > >Kalau sekarang mhs Undip cuman mbayar SPP sebesar Rp 500 ribu tok, berarti ada >dana itu hanya bisa digunakan untuk mbayar gaji dosen plus biaya operasional >sehari-hari. Jangan ditanya deh apakah kampusnya megah atau tidak? Duit >darimana? Biaya operasional itu jelas mestinya persis dengan kegiatan >operasional 20 tahun lalu yakni belum ada komputer, internet dan data >projector. Belum lagi, tuntutan untuk melakukan pengembangan akademik. > >Kalau demikian SPP sebesar Rp 500 ribu per semester itu sangat tidak wajar, >sangat jauh dari kebutuhan normal. > >Makanya, SPP Undip itu mestinya dinaikkan. Mosok SPP SD saja Rp 400 ribu, SPP >Undip nggak jauh beda. > >Piye jal? > > >CU > >IW > > >>===== Original Message From "Ressa Yanuardin Widiyatmoko" ><[EMAIL PROTECTED]> ===== >>Untuk menolong mahasiswa yang gak mampu itu, selain mengandalkan beasiswa >yang masuk ke Undip, bisa gak kita gunakan sistem subsidi silang. Saya sendiri >pernah mengalaminya pada waktu SMU, dimana pada waktu itu teman sekolah saya >bisa membayar SPP SMU Cuma Rp. 5.600,00 dan ada yang membayar SPP SMU Rp. >250.000,00 untuk teman saya yang mampu. Memang kondisinya tidak bisa disamakan >pada masa itu, tetapi paling tidak bisa dijadikan acuan dasar dan disesuaikan >buat membantu adik-adik kita itu. Terus terang saja, saya sangat senang >diskusi ini bisa mengarah lebih membantu kampus kita tercinta ini daripada >diskusi debat kusir kemarin. :) Salam Damai >> >> >>Ressa Yanuardin Widiyatmoko >>Traffic Management, Marketing and Sales Division >>PT. Televisi Transformasi Indonesia >>Jl. Kapt. P. Tendean Kav 12-14A >>Jakarta 12790 - Indonesia >>email : [EMAIL PROTECTED] >> >>-----Original Message----- >>From: Kurnia Wijayanti [mailto:[EMAIL PROTECTED] >>Sent: 11 Maret 2004 13:26 >>To: [EMAIL PROTECTED] >>Subject: Re: [UNDIP] Kampus FE UNDIP >> >>waduh pak jg gitu donk, liat aja faktanya pak, kemren tuh pas bayar spp, >>rektorat didatangi banyak orang tua mhs yg nangis2 minta keringanan dan >>perpanjangan waktu, ini beneran lho. Lha staff yg ngurusi aja ikut2an >>mbrebes mili kok.Mungkin 500 rb tuh ringan bagi yg mampu, tp yang pas2 an >>waduhhhh abot tenan. Jadi inget cerita ibu saya, dulu pas th 64 masuk undip >>Sospol, gratis lho, tanpa SPP, setelah Orde Baru malah kuliah jadi bayar >>mahal >> >>----- Original Message ----- >>From: "Ibnu Widiyanto" <[EMAIL PROTECTED]> >>To: "Agus B Raharjo" <[EMAIL PROTECTED]>; "undip" <[EMAIL PROTECTED]> >>Sent: Thursday, March 11, 2004 11:01 AM >>Subject: RE: [UNDIP] Kampus FE UNDIP >> >> >>> podo kreatif ternyata.... >>> >>> kalau sudah terbiasa SPP nya mahal, nanti kan SPP 150 juta nggak terasa >>mahal. >>> >>> Bagi saya yang benar adalah SPP Universitas harusnya mahal sehingga yang >>punya >>> sponsor saja (keuangannya mapan) yang bisa maksud universitas. Bagi yang >>nggak >>> mampu bisa mengajukan bursary. >>> >>> Yang sering terjadi kan mahasiswanya protes mbayar sekolahnya mahal, >>padahal >>> orang tuanya nggak keberatan. Yang lebih tragis lagi, mintanya duit untuk >>> mbayar SPP ke orang tuanya di markup. Sisanya untuk nonton sama doi. Kalau >>> begini opo ora lheb....temenan... >>> >>> >>> CU >>> >>> IW >>> >> >> >>-------------------------------------------------------------------------- >>Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id >>to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1671 >>DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id >> >> >> >>-------------------------------------------------------------------------- >>Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id >>to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1680 >>DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id > > >-------------------------------------------------------------------------- >Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id >to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1687 >DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id > > > > > > > >--------------------------------- >Do you Yahoo!? >Yahoo! Search - Find what you�re looking for faster. -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1695 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
