|
Kang Jalak...
sumuhun Karlina Supeli,Desy Ratna
Sari sami-sami urang sukabumi ( hehe.. dua nana
bumi na caket pisan sareng bumi mitoha abdi di Gg. Jayaniti, Gg. Pelita, tapi duanana teu
wanoh ka abdi )
ayeuna Karlina Supeli bumi na di
Taman Alfa Indah ( nu ieu oge teu tebih ti Petukangan... tapi angger we teu
wanoh ! )
Sareng Karlina Supeli, kapungkur
mah basa abdi SMP bade ka SMA keun masih sering tepang di Himpunan Astronomi
Amatir Jakarta di Planetarium Senen tea, kapungkur teh asa kaguummm pisan aya
wanoja ku pinter pisaaan dina widang astronomi.
Punten ku abdi di kintunkeun
sakedik info ngenaan Karlina Supeli.
Karlina Leksono Supelli
Tidak banyak orang eksakta yang akhirnya mendalami filsafat. Apalagi, ilmu yang disebut terakhir ini kemudian dipilih sebagai program studi untuk mengambil master dan doktor. Salah seorang dari yang sedikit itu adalah Karlina Leksono Supelli. Menyukai ilmu eksakta sejak SMA dan berlanjut ke jenjang S1 dengan memilih Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Jurusan Astronomi, ITB, Karlina belakangan banting setir melirik filsafat. �Sejak SMA, saya senang sekali fisika dan ilmu falak yang menjadi semacam obsesi,� ujar perempuan yang sejak kecil sudah melahap buku cerita petualangan karya Karl May, puisi Chairil Anwar dan cerita detektif ini. Desertasinya bahkan sempat mencuri perhatian banyak orang, karena berbicara soal kosmologi dan filsafat ilmu. Dalam Bab VI, yang merupakan bab terakhir disertasinya, Karlina melakukan pendekatan transendental. Semacam mencari syarat-syarat yang paling dasar dari pengetahuan. �Saya hanya memakai kosmologi untuk titik berangkat mengkaji keseluruhan kesahihan langkah-langkah yang dipakai dalam kosmologi itu,� kata pengajar luar biasa Program Studi Filsafat, Program Pascasarjana UI tersebut. Desertasi itu diakui Karlina merupakan pergulatan hidupnya selama puluhan tahun. Intinya, bongkar-pasang soal kosmologi. Bukan meruntuhkan, tetapi mengurai kembali semuanya. Lalu hilang di metafor ketika sampai pada pertanyaan yang paling hakiki dalam kosmologi: dari mana manusia datang, mau apa manusia di dunia ini, ke mana manusia akan pergi dan akan jadi apa semua ini. �Orang Jawa,� kata perempuan berdarah Sunda-Belanda itu, �Mengatakannya sebagai sangkan paraning dumadi.� Dengan kata lain, Lina � panggilan akrab Karlina di masa kecilnya -- pemahaman itu hanya bisa diperoleh kalau manusia mau masuk ke hakikat kehidupan transedental yang akan tercapai ketika seluruh pengetahuan ditanggalkan. �Anda bilang Tuhan Maha Besar,� katanya, �Tapi sebesar apa? Sebab itu metafor yang menggunakan bahasa manusia. Semacam bahasa kosmologi dalam dunia.� Awal mula perkenalan Lina dengan filsafat cukup unik. Semula ia, aku perempuan yang kerap merasa �bodoh� ini, tidak berminat sama sekali pada filsafat. Suatu hari ketika Ninok Leksono Dermawan, suaminya yang wartawan senior harian Kompas, yang waktu itu sedang meraih gelar doktornya di Universitas Indonesia, satu mata kuliah Filsafat Ilmu dari Toetie Heratie Noerhadie, tak bisa menghadirinya. Sebagai istri, Lina menawarkan menggantikannya. �Setelah itu, saya merasa filsafat suatu hal yang menarik,� kata penyuka lagu-lagu klasik dan lagu Selamat Malam nyanyian Evie Tamala ini. Menyukai kebebasan alam pedesaan sedari kecil, Lina sejak di kelas tiga SD mengaku sudah mengetahui akan menjadi apa setelah ia dewasa. Ini terutama sesudah ia membaca buku karangan Madame Curie, ahli fisika dan kimia Inggris kelahiran Polandia. Gambaran seorang scientist yang bekerja sendirian di laboratorium ternyata menarik baginya. �Saya ingat ketika saya bilang pada orang tua ingin menjadi Marie Curie,� aku pengoleksi 2.500 judul buku itu. Tapi keinginan atau katakanlah obsesi Lina menjadi orang yang soliter semacam itu sebenarnya lebih banyak disebabkan lingkungan masa kecilnya. Ibunya, yang orang Belanda, seorang perempuan yang kurang suka bergaul dan lebih betah di rumah yang dimanfaatkannya untuk membaca buku. Ketika pecah konfrontasi RI-Belanda dalam soal Irian Jaya, posisinya sebagai anak indo kurang menguntungkan dia. Ketika sedang mendapat pelajaran sejarah, ia dikatakan ketinggalan kapal Belanda yang mengangkut kaum pengungsi Belanda pulang ke negerinya. �Itu bercanda, tapi saya merasa asal-sul saya dipertanyakan,� kata kelahiran Jakarta itu. Lina sempat juga merasa tidak punya akar budaya. Jika ia pergi ke Belanda, ia disebut orang indo karena bapaknya orang Indonesia, sedangkan jika di Indonesia dia disebut penjajah. �Saya punya akar, tetapi tidak pernah merasa menapaknya dengan kokoh,� ujarnya. Karlina, misalnya, mengaku tidak bisa menceritakan budaya sang bapak yang orang Sunda secara rinci. Baginya, Jawa Barat tidak menjadi rumah budaya, karena ada darah Belanda dalam tubuhnya. Sebaliknya, ia juga tidak mampu berbicara bahasa Belanda secara utuh, karena ia tidak pernah dibesarkan di sana. Bahkan ada penolakan dalam dirinya karena ketika di sekolah diajarkan bahwa Belanda itu jahat. Akibatnya, ia pun tidak mau masuk ke dalam rumah budaya Belanda. �Jadi sangat komplek,� cetus perempuan yang selalu merasa dirinya berpembawaan serius ini. Mungkin itu juga sebabnya Karlina selalu merasa aman berada di tengah alam. Sebaliknya berada di antara manusia membuatnya merasa tidak nyaman. Malahan, belakangan dia makin tidak percaya diri jika bertemu orang. Karlina memang pernah terlibat dan berhubungan dengan orang banyak -- tapi itu sudah lama ditinggalkannya, katanya. �Saya sampai dibilang pengecut oleh Toetie Heratie. Karena kalau ada konflik, saya bersikap sebagai trenggiling. Tidak dihadapi sampai tuntas, tetapi menghindar,� kata Lina yang sempat ditahan karena aktivitasnya di Suara Ibu Peduli ketika sedang hangat-hangatnya aksi pelengseran Presiden Soeharto, 1998. Yang kini terpenting baginya adalah mengajarkan pada anak-anaknya soal pentingnya waktu. Meski ingin bersikap sedemokratis mungkin, Lina tidak mau anak-anaknya terlambat ke sekolah. Demokrasi di rumah keluarga Leksono adalah demokrasi liberal. �Orang bisa bicara sebebas-bebasnya,� ujarnya. BIO
DATA
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links
|
- Re: [Urang Sunda] Saha Karlian Supeli teh? Oman Abdurahman
- Re: [Urang Sunda] Saha Karlian Supeli teh? asep juarna
- Re: [Urang Sunda] Saha Karlian Supeli teh? Icho
- Re: [Urang Sunda] Saha Karlian Supeli teh? asep juarna
- [Urang Sunda] Dominasi Elmu Geografi Jalak Harupat
- [Urang Sunda] Re: Dominasi Elmu Geografi Oman Abdurahman
- Re: [Urang Sunda] Saha Karlian Supeli teh? asep juarna
- Re: [Urang Sunda]waleran ngenaan Saha Karlian ... herdis herdiansyah
- Re: [Urang Sunda]waleran ngenaan Saha Karl... kumincir
- RE: [Urang Sunda]waleran ngenaan Saha ... MSasmita
- [Urang Sunda] Jurig filsafat seka... herdis herdiansyah
- Re: [Urang Sunda] Jurig filsa... asep juarna

