Assalamualaikum
 
Mugia ieu bisa jadi pieunteungeun keur urang,
hampura ka sadayana lamun geus nyaraho.
 
Wassalam
Nana


Do you Yahoo!?
Yahoo! Sports - Sign up for Fantasy Baseball.

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




Yahoo! Groups Links

Republika Online : http://www.republika.co.id

               04 April 2005  15:12:46Home | About Us| Koran| Arsip| 


                  BERITA UTAMA 

                  EKONOMI SYARIAH 

                  EKONOMI/BISNIS 

                  GERAI 

                  IPTEK DAN KESEHATAN 

                  KALAM JABAR 

                      � Lintas


                      � Opini


                      � Sorot


                      � Wawancara


                  KALAM JADEBOTABEK 

                  KEUANGAN 

                  LUAR NEGERI 

                  NASIONAL 

                  OLAHRAGA 

                  SUPLEMEN 

                  TELEKOMUNIKASI 

                   Koran  � Kalam Jabar  � Opini 

                              Sampaikan kepada rekanCetak berita ini

                        Rabu, 15 September 2004

                        Jawa Barat tak Cuma Sunda 
                        (Tanggapan untuk Agus Kresna dll) 


                        Kekeliruan terbesar para pemikir Sunda adalah sering 
                        menafikan eksistensi sosio-kultural entitas Cirebon 
                        tatkala membincangkan soal Jawa Barat. Mereka kerap 
                        lupa, bahwa Jawa Barat tidak cuma dihuni masyarakat 
                        Sunda. Ada stereotip masyarakat lainnya di Jawa Barat 
                        yang secara kultural maupun kebahasaan tidak dapat 
serta 
                        merta ditarik ke dalam orbit Sunda. Stereotip 
masyarakat 
                        seperti ini ada di Indramayu, Cirebon dan sebagian 
                        wilayah Majalengka. Masyarakat di daerah-daerah ini 
                        lebih sering menyebut dirinya sebagai Wong Cerbon 
                        ketimbang Urang Sunda. 
                        Ini sebuah garis 'demarkasi' kultural yang amat jelas 
                        dan, lebih jauh lagi, sebuah penanda bahwa Wong Cerbon 
                        bukanlah Urang Sunda. Penanda sederhana namun 
                        sesungguhnya memiliki makna yang dalam itu kerapkali 
                        diabaikan oleh para pemikir atau budayawan Sunda 
tatkala 
                        mereka membicarakan masalah Jawa Barat. Seolah-olah 
Jawa 
                        Barat adalah Sunda seutuhnya dan Sunda adalah Jawa 
Barat 
                        seutuhnya. Dalam kaca mata Wong Cerbon, pandangan 
                        seperti itu menyesatkan bahkan, meyakitkan hati. Ada 
                        sejumlah alasan yang perlu direnungkan oleh para 
pemikir 
                        Sunda, mengapa mereka perlu mengakui bahwa di Jawa 
Barat 
                        ini ada stereotip masyarakat lengkap dengan tata 
                        nilainya yang tidak sama dan sebangun dengan stereotip 
                        masyarakat Sunda. 
                        Pertama, alasan historis. Literatur-literatur kuno yang 
                        membahas tentang Cirebon (H J de Graaf, 1982) 
                        mendeskripsikan Cirebon masa lampau adalah negeri 
pantai 
                        tempat bertemunya berbagai ras di dunia untuk 
                        urusan-urusan politik, dagang, kebudayaan dan misi-misi 
                        keagamaan. Orang-orang dari Eropa, Timur Tengah, Asia 
                        Kecil, Asia Tenggara, Cina dan bahkan Afrika Utara 
                        berinteraksi satu dengan lainnya di negeri Cirebon. 
Pada 
                        perkembangannya, interaksi tersebut dipercaya sebagai 
                        pembentuk konstruksi sosio-kultural masyarakat Cirebon 
                        sekarang. Dengan demikian, masyarakat Cirebon sekarang 
                        boleh dikatakan hasil 'bentukan' kebudayaan berskala 
                        mondial, dan bukan hasil 'bentukan' kebudayaan 
                        'pedalaman' yang tipikal dimiliki oleh masyarakat 
Sunda. 

                        Kedua, alasan kebahasaan. Bahasa masyarakat Cirebon 
                        bukanlah bahasa Sunda, namun juga bukan bahasa Jawa 
                        sebagaimana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Tengah 
                        atau Jawa Timur. Orang Cirebon memilih menyebut 
                        bahasanya sebagai bahasa Cerbon. Pelapisan bahasanya 
pun 
                        tidak banyak bertingkat-tingkat sebagaimana bahasa 
                        Sunda. Pada bahasa Sunda, untuk menyebut 'saya' 
                        digunakan kata abdi, pribados, simkuring, aing, kaula 
                        dan sebagainya. Tergantung subjek, ruang dan waktu. 
Pada 
                        bahasa Cirebon, untuk menyebut 'saya' cuma dikenal isun 
                        (untuk kategori kasar) dan kula (untuk kategori halus). 
                        Ini juga menunjukkan bahwa pelapisan sosial pada 
                        masyarakat Sunda lebih tinggi ketimbang pelapisan 
sosial 
                        pada masyarakat atau Wong Cerbon. 
                        Ketiga, alasan khasanah seni budaya. Jenis-jenis 
                        kesenian Cirebon bercorak khas serta unik dan sampai 
                        batas tertentu bersifat 'otonom'. Jenis-jenis kesenian 
                        yang umum terdapat di Jawa Barat (wilayah Pasundan) 
                        dapat pula ditemukan di Cirebon. Namun sebaliknya, 
                        jenis-jenis kesenian Cirebon akan sulit ditemukan di 
                        wilayah-wilayah berbahasa Sunda. Keempat, alasan 
sejarah 
                        kekuasaan. Cirebon adalah satu-satunya daerah di Jawa 
                        Barat yang memiliki bangunan-bangunan peninggalan zaman 
                        lampau yang berwujud keraton-keraton (kesultanan). Ada 
                        tiga keraton yang hingga kini masih berdiri tegak 
                        sebagai bukti bahwa di Cirebon masa lalu ada 
pusat-pusat 
                        kekuasaan. 
                        Para peneliti boleh bersilang pendapat soal di mana 
                        sesungguhnya letak kerajaan Sunda, Padjadjaran, karena 
                        memang hingga hari ini tidak pernah ditemukan 
                        situs-situsnya secara utuh. Namun di Cirebon, tak perlu 
                        ada silang pendapat soal di mana letak pusat kekuasaan 
                        Cirebon masa lampau. Perlu pula dicatat, bahwa 
                        bangunan-bangunan keraton Cirebon merupakan paduan 
                        anasir-anasir khas Hindu, Islam, Jawa dan Cina (sedikit 
                        pun tidak dipengaruhi oleh anasir-anasir Sunda). 
                        Sejumlah argumen di atas menunjukkan bahwa di Jawa 
Barat 
                        ada entitas masyarakat bukan Sunda dan karenanya, 
                        membicarakan Jawa Barat tidaklah santun tanpa 
                        mempertimbangkan eksistensi Cirebon. 
                        Tulisan-tulisan di harian ini tentang Sunda dan 
                        kesundaan yang merupakan tanggapan-tanggapan dari 
                        tulisan Wawan Gunawan berjudul 'Sunda Tak Perlu Dibela' 
                        (Republika, 11 Agustus 2004) menurut saya adalah 
                        egosentrisme orang Sunda yang berlebihan. Lebih-lebih, 
                        tulisan karya Agus Kresna yang berjudul 'Syariat Sunda 
: 
                        Sebuah Keniscayaan di Jawa Barat ' (Republika, 8 
                        September 2004) yang keliru menganalogkan Syariat Islam 
                        di Aceh dengan kemungkinan penerapan syariat Sunda di 
                        Jawa Barat. Saya sebut keliru, karena sejumlah alasan : 
                        (1) Sunda bukanlah agama dan tidak bisa disamakan 
dengan 
                        agama; (2) Tata nilai Sunda tidak sama dengan tata 
nilai 
                        agama (Islam); (3) Jawa Barat tidak melulu dihuni 
                        masyarakat Sunda. 
                        Ada entitas lain selain Sunda yang memiliki tata nilai 
                        sendiri dan jumlah populasi yang tidak sedikit, yaitu 
                        wilayah Cirebon. Di samping masyarakat pendatang yang 
                        sudah menganggap diri warga masyarakat Jawa Barat; (4) 
                        Jawa Barat secara historis, politis maupun sosiologis 
                        berbeda dengan Aceh. Dengan pertimbangan-pertimbangan 
                        itu, maka gagasan Agus Kresna tentang perlunya Urang 
                        Sunda menguasai akses-akses pemerintahan, LSM, ormas 
dan 
                        komponen-komponen penting masyarakat di Jawa Barat 
harus 
                        dianggap sebagai gagasan yang berbahaya, chauvinistik, 
                        mundur (setback) dan tidak toleran. Jika gagasan Agus 
                        Kresna yang artifisial itu dipertimbangkan, maka 
                        yakinlah bahwa Jawa Barat bukannya maju, tetapi 
                        sebaliknya lebih terpelanting ke belakang ke zaman 
                        Padjadjaran yang dikenal sejarah sebagai kerajaan yang 
                        amat resisten terhadap perubahan. 
                        Agus Kresna mestinya melihat ke mancanegara, betapa 
                        sebuah negeri tak harus dan tak selalu dipimpin oleh 
                        pribuminya sendiri. Alberto Fujimori, mantan presiden 
                        Peru adalah peranakan Jepang. Arnold Schwazenegger 
                        adalah seorang pria asal Austria yang kini menjadi 
                        gubernur di sebuah negara bagian di Amerika Serikat. 
                        Sonia Gandhi, janda Rajeev Gandhi, adalah wanita asal 
                        Italia yang menjadi pentolan Partai Kongres di India. 
                        Mengapa tidak? Gagasan sundanisasi di pemerintahan, 
                        parlemen, ormas, LSM dan institusi-institusi lain di 
                        Jawa Barat adalah gagasan 'mesum' yang akan menempatkan 
                        urang Sunda sebagai masyarakat yang tipikal murni 
                        primitif, pemuja masa silam, paranoid, anti-perubahan 
                        dan irrasional. 
                        Jika gagasan Agus Kresna dianggap feasible oleh urang 
                        Sunda, maka tak perlu heran jika hal itu makin 
                        mengkristalkan gagasan tentang pemisahan wilayah 
Cirebon 
                        dari Provinsi Jawa Barat, sebagaimana Banten yang lepas 
                        dari Gedung Sate beberapa tahun silam. Wacana tentang 
                        provinsi Cirebon yang sempat ramai diusung sejumlah 
                        elite sosial politik Cirebon beberapa waktu lalu akan 
                        mendapatkan pembenaran dari perasaan terpinggirkan yang 
                        terus disulut oleh klaim-klaim bahwa Jawa Barat adalah 
                        melulu Sunda. Inilah yang perlu direnungkan oleh para 
                        pemikir Sunda. 
                        Karena, lepasnya Cirebon dari Jawa Barat dapat 
                        menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang berat dan 
                        kompleks bagi Jawa Barat secara keseluruhan. Atas dasar 
                        pertimbangan itu, seyogianya para pemikir Sunda lebih 
                        arif dan membuka diri dalam mewacanakan Jawa Barat. 
                        Artinya, jangan pernah menganggap bahwa Jawa Barat cuma 
                        bisa dilihat dan didekati dengan perspektif Sunda dan 
                        kesundaan. Jawa Barat masa kini berbeda dengan Jawa 
                        Barat puluhan tahun lampau. Jawa Barat masa kini telah 
                        dihuni oleh jutaan manusia dari beragam ras, suku, 
agama 
                        dan kebudayaan sebagai konsekuensi dari mobilitas 
                        perubahan yang terus-menerus berlangsung, tak 
terbendung 
                        dan sangat kodrati. 
                        Dengan demikian, wacana sundanisasi Jawa Barat 
merupakan 
                        sesuatu yang bertolak belakang dengan perubahan, 
                        pluralitas dan kehendak zaman. Dan karenanya akodrati. 
                        Bahwa ada keluhan dari para pemikir Sunda tentang makin 
                        dekadennya urang Sunda, kita tidak pungkiri. Namun 
                        amatlah naif ketika pranata agama lebih banyak 
                        menawarkan solusi rekonstruksi moral, kita malah 
                        berpaling kepada nilai-nilai masa lampau yang tidak 
                        separipurna agama. Walhasil, Syariat Sunda? No Way! 

                        Pegawai Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kota 
Cirebon 

                        ( Abidin Aslich ) 





                   BERITA LAIN
                   � Makaay dan Pizzaro Cedera 


                   � Wasit Diserang, Manajer Didemo 


                   � Valencia Ingin Milan Baros 


                   � Industri Mengeluh Pungli di Pelabuhan 


                   � Produk Halal akan Diregistrasi di Depag 


                   � Importir Wajib Gandeng Perusahaan Angkutan Umum 


                   � Terbukti Tangguh, Namun Harus Terus Tingkatkan Kualitas 


                   � Transaksi Perbankan Sambil Tiduran 


                   � Memanjakan Nasabah dengan Kartu ATM 


                   � RAL Fokus `Nice Market` 








            � 2005 Hak Cipta oleh Republika Online 
            Dilarang menyalin atau mengutip seluruh atau sebagian isi berita 
            tanpa ijin tertulis dari Republika 
            | Kirim Artikel Koran | Kontak Webmaster | 



Kirim email ke