Sewaka, Sang Gubernur Gerilya
Tokoh Jabar yang Terlupakan
Oleh Dr. A. Sobana Hardjasaputra, S.S., M.A.

Sewaka (M. Sewaka) adalah tokoh Jawa Barat kelahiran
Cirebon tahun 1895. Perjalanan hidupnya berlangsung
dalam tiga zaman, yaitu zaman Penjajahan Belanda,
zaman Pendudukan Jepang, dan zaman Kemerdekaan.
Disebut tokoh Jabar, karena hampir sepanjang hidupnya
Sewaka berkiprah dalam bidang pemerintahan di daerah
Jawa Barat.

Baik pada zaman Penjajahan Belanda maupun zaman
Pendudukan Jepang, dan terutama pada zaman Revolusi
Kemerdekaan, Sewaka berkiprah untuk kepentingan
masyarakat Jabar khususnya dan bangsa Indonesia
umumnya. Namun demikian, sungguh ironis, Sewaka
termasuk salah seorang tokoh pemerintahan dan pejuang
dari Jabar yang terlupakan. Mungkin warga Jabar
generasi sekarang tidak tahu siapa Sewaka.

Boleh jadi hal itu disebabkan pemerintah daerah dan
masyarakat atau bangsa Indonesia umumnya kurang
memiliki kesadaran sejarah. Menurut penelitian, di
antara bangsa-bangsa di Asia, bangsa Indonesia
termasuk bangsa yang lemah kesadaran akan sejarahnya.

Dalam rangka memeringati Hari Kemerdekaan ke-61
Republik Indonesia, tidaklah berlebihan apabila kita
kenang ketokohan, kepemimpinan, peranan, dan
perjuangan Sewaka, khususnya pada zaman Revolusi
Kemerdekaan (1945-1950).

**

Sesuai dengan pendidikannya, yaitu lulusan OSVIA
(Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren), Sekolah
Pendidikan Pegawai Bumiputera, tahun 1915 dan lulusan
Bestuursschool (Sekolah Pemerintahan) pada tahun 1927,
Sewaka meniti karier di bidang pemerintahan mulai dari
bawah (pegawai rendah) sampai menjadi pejabat tinggi
dalam pemerintahan daerah. Jabatan tinggi yang
diduduki Sewaka pada akhir penjajahan Belanda adalah
patih di Bogor dan di Indramayu (1938-1941).

Pada zaman Pendudukan Jepang, Sewaka menjadi Syico
(Wali Kota) Cirebon (1942-1943) kemudian menjadi Kenco
(Bupati) Cirebon (1943-1945). Dari Cirebon, Sewaka
dipindahkan ke Jakarta menjadi Neysebuco (kepala
bagian umum) di Sucokan (Kantor Residen). Secara
politis, pemindahan Sewaka itu dimaksudkan oleh pihak
Jepang agar gerak-gerik Sewaka mudah diawasi oleh
pemerintah militer Jepang di tingkat pusat (Jakarta).

Pada zaman revolusi kemerdekaan, Sewaka menjadi
Residen Jakarta. Waktu itu ia tidak hanya menjalankan
pemerintahan, tetapi ia pun turut mengatur perjuangan
melawan tentara Sekutu dan NICA (Nederlands Indies
Civil Administration). Selaku residen, Sewaka berupaya
mengatasi gejolak yang terjadi di wilayah
kekuasaannya, antara lain gejolak di Tangerang dan
Bekasi.

Ketika situasi Kota Jakarta makin gawat akibat
tindakan tentara Sekutu, pusat pemerintahan
Keresidenan Jakarta pindah ke Purwakarta. Akan tetapi,
Residen Sewaka berkedudukan di Subang. Hal itu
dimaksudkan untuk mempertahankan eksistensi dan
jalannya pemerintahan Keresidenan Jakarta. Ketika
berkedudukan di Subang, Residen Sewaka selalu
berhubungan dengan Tentara Republik Indonesia (TRI)
dan pemuda pejuang.

Setelah berkedudukan di Subang selama lebih-kurang
enam bulan, Residen Sewaka dipindahkan ke Tasikmalaya
(Mei 1946). Ia diperbantukan kepada Gubernur Jawa
Barat Dr. Murjani, karena pusat pemerintahan Provinsi
Jawa Barat pindah ke daerah itu, akibat situasi di
Bandung makin kacau oleh tindakan tentara Sekutu dan
NICA/Belanda.

Dalam kedudukan itu, tugas utama Residen Sewaka
memimpin urusan administrasi kantor pusat provinsi di
pengungsian. Selain itu, Sewaka membantu gubernur
melakukan konsolidasi pemerintahan dan bekerja sama
dengan TRI menyusun teritorial serta daerah
pertahanan.

Beberapa waktu kemudian, Presiden Soekarno--yang telah
berkedudukan di Yogyakarta--mengangkat Sewaka menjadi
Gubernur Jabar (1 April 1947) menggantikan Dr.
Murjani. Gubernur Sewaka menjalankan pemerintahan
darurat di daerah pengungsian di Priangan Timur,
sehingga dapat dikatakan ia adalah ”gubernur gerilya”.

Akibat tentara Belanda melancarkan Aksi Militer I
(mulai 21 Juli 1947)--yang melanggar Perundingan
Linggajati, Maret 1947--antara lain ke Priangan Timur
termasuk Tasikmalaya, Gubernur Sewaka terpaksa
menjalankan pemerintahan dengan berpindah-pindah
tempat. Gubernur mengubah taktik dengan membentuk
”ambulans kantor”, yaitu tiga orang stafnya selalu
bergerak mengikuti gubernur. Dari kota Tasikmalaya,
gubernur pindah ke Indihiang, kemudian ke Cikoneng.
Ternyata kedua tempat itu pun tidak luput dari
serangan Belanda.

**

Melalui radio pemancar dan penerima yang dipindahkan
dari Sukaraja ke Lebaksiuh, gubernur dan pimpinan
Divisi Siliwangi dapat menyampaikan instruksi ke
sektor-sektor gerilya yang memiliki perlengkapan
radio. Kepada sektor gerilya yang tidak memiliki
perlengkapan radio, instruksi dan berita disampaikan
melalui kurir. Keberadaan radio pemancar dan penerima
menyebabkan hubungan pemerintahan Provinsi Jabar
dengan Pemerintah RI pusat di Yogyakarta dapat
berlangsung. Bahkan, gubernur dapat pula menangkap
berita dari Kantor Berita ”Antara”.

Berkat kerja sama dengan TNI dan warga masyarakat,
pada waktu-waktu tertentu di Lebaksiuh gubernur dapat
berunding dengan para residen, bupati, dan wakil-wakil
badan perjuangan. Selain itu, gubernur sering
mengadakan peninjauan ke beberapa daerah untuk
mengetahui situasi dari dekat dan memotivasi para
pegawai serta rakyat agar tetap setia pada RI.

Akhir Oktober 1947, tentara Belanda membombardir
daerah Pameungpeuk, sehingga stasiun radio di
Lebaksiuh hancur. Sementara itu, pasukan Siliwangi
dibantu oleh rakyat melakukan perlawanan rakyat
semesta dengan taktik gerilya. Oleh karena itu, pihak
Belanda kembali mengubah siasatnya, dari aksi senjata
ke meja perundingan. Terjadilah Perundingan Renville
(8 Desember 1947 – 17 Januari 1948).

Akibat perundingan itu, pasukan Siliwangi hijrah ke
Jawa Tengah. Sebaliknya pihak Belanda lagi-lagi
melanggar hasil perundingan. Tentara Belanda dengan
leluasa bergerak ke daerah-daerah pedalaman Jabar.
Tawangbanteng sebagai pusat pemerintahan Jabar
diserbu, sehingga Gubernur Sewaka tertangkap. Ia
dibawa ke Bandung kemudian dipenjarakan di Tangerang.

Beberapa waktu kemudian, Gubernur Sewaka diserahkan
kepada Pemerintah RI di Yogyakarta, dengan peringatan
ia tidak boleh masuk Jabar. Peringatan itu berasal
dari Recomba (Regering Commissaris Bestuurs
Aangelegenheden), pemerintahan sipil pendudukan
Belanda, yang menganggap Sewaka staatsgevaarlijk
(berbahaya bagi negara/Recomba).

Di Yogyakarta, Gubernur Sewaka diperbantukan pada
Kementerian Dalam Negeri dengan tugas, Pertama,
mengurus pengungsi dari Jabar; Kedua, mengadakan
kontak dengan orang-orang republik di daerah Jabar.

Dalam melaksanakan tugas yang kedua, Gubernur Sewaka
sering berada di daerah perbatasan Jabar dan Jateng
untuk menyelundupkan beberapa pemuda ke Jabar dan
menerima laporan dari pegawai RI di Jabar. Hal itu
berarti Sewaka, walaupun berada di luar Jabar, tetap
berupaya memimpin bawahannya.

Ketika pasukan Siliwangi melakukan long march kembali
ke daerah Jabar, tentara Belanda menyerbu Yogyakarta
(19 Desember 1948). Presiden Soekarno dan Wakil
Presiden Moh. Hatta tertangkap dan dibuang ke Bangka.
Demikian pula, Gubernur Sewaka ditangkap dan ditahan
di Penjara Wiragunan, Yogyakarta. Beberapa waktu
kemudian Gubernur Sewaka dipindahkan ke Gedung Istana,
tinggal bersama keluarga presiden dan wakil presiden,
tetapi masih dalam status tahanan.

Ketiadaan gubernur di Jabar mendorong Menteri Dalam
Negeri membuat kebijaksanaan mengangkat Ir. Ukar
Bratakusumah menjadi Gubernur Jabar (akhir Desember
1948). Hampir dalam waktu yang bersamaan, Panglima
Teritorium Jawa Kolonel A.H. Nasution, mengangkat Ir.
Ukar menjadi Komisaris RI di Jabar. Hal itu berarti
Ir. Ukar merupakan gubernur panyelang (gubernur
sementara), karena kedudukan Sewaka sebagai Gubernur
Jabar tidak dicabut.

Berdasarkan perundingan pihak RI dan Belanda
(Perundingan Roem – Rooyen), bulan Mei 1949 Sewaka
dibebaskan. Demikian pula presiden dan wakil presiden.

Sebagai tindak lanjut dari Perundingan Roem – Rooyen,
pihak RI dan Belanda sepakat untuk mengadakan
konferensi di negeri Belanda pada Agustus 1949 yang
dikenal dengan Konferensi Meja Bundar (KMB). Sewaka
mendapat kehormatan menjadi penasihat delegasi RI
dalam konferensi tersebut. Setelah tinggal dua bulan
di negeri Belanda, Sewaka kembali ke Yogyakarta
sebagai kurir dari delegasi RI yang masih berada di
Belanda.

Setelah berada di Jabar, Sewaka meminta agar konflik
senjata antara tentara Belanda dengan TNI dihentikan
dan Negara Pasundan(berdiri 26 Februari 1948)
dibekukan. Permintaan yang disebut terakhir
disampaikan, karena Sewaka mengetahui sebagian besar
warga Jabar, termasuk sejumlah republiken yang menjadi
pejabat dalam Negara Pasundan, tetap setia kepada
Pemerintah RI. Di beberapa daerah berdiri organisasi
kesatuan rakyat, termasuk Gerakan Organisasi Rakyat
(GOR) atas prakarsa Sewaka. Organisasi itu menghendaki
Negara Pasundan bubar.

Akan tetapi, Negara Pasundan tetap berdiri karena KMB
menghasilkan keputusan bahwa Indonesia dibentuk
menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS), terdiri atas
RI dan negara-negara federal bentukan Belanda,
termasuk Negara Pasundan. Setelah Negara Pasundan
berdiri lebih-kurang dua tahun, kedudukannya makin
goyah.

Untuk menjalankan pemerintahan Negara Pasundan, Sewaka
diangkat oleh Presiden RIS (4 Februari 1950) menjadi
Komisaris RIS di daerah Negara Pasundan. Sewaka
menerima penyerahan pemerintahan dari Kabinet Negara
Pasundan tanggal 10 Februari 1950 di gedung gubernuran
Bandung (Gedung Pakuan, sekarang).

Atas dasar kepercayaan dari pemerintah RIS, Komisaris
Sewaka mempersiapkan rapat besar di Bandung pada 8
Maret 1950 di gedung Parlemen Pasundan (Gedung Dwi
Warna, sekarang), dihadiri puluhan ribu orang. Rapat
menghasilkan keputusan berisi pernyataan rakyat yang
menghendaki Negara Pasundan dibubarkan dan daerah
Pasundan kembali ke dalam wilayah RI. Dengan bubarnya
Negara Pasundan, jabatan Komisaris RIS dihapuskan.
Sebagai gantinya, Sewaka dikukuhkan kembali menjadi
Gubernur Jabar di lingkungan pemerintah RI
(1950-1952). Dalam hal ini, tidaklah berlebihan
apabila nama Sewaka diabadikan menjadi nama jalan atau
bangunan/tempat penting di daerah Jabar, khususnya di
Bandung, Tasikmalaya, dan Cirebon tempat kelahirannya.
Semoga! ***

Penulis, Sejarawan Fakultas Sastra Unpad, Anggota
Dewan Pengurus Pusat Studi Sunda.

Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/14/selisik/lain01.htm
 

=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke