Menyamar Jadi Ulama
sebelum meninggalkan kota, Gubernur Sewaka
memberikan instruksi kepada para residen dan bupati
untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai pegawai
sebagaimana biasa. Tentu saja, mereka harus selalu
waspada dan sebisa mungkin menghindarkan diri dari
tangkapan Belanda.
Djika kemungkinan untuk melarikan diri tak ada,
maka mereka harus menjatakan diri non-actief, tulis
Sewaka dalam catatannya berjudul Tjorat-Tjaret dari
Djaman ke Djaman.
KETIKA pusat pemerintahan Republik Indonesia terpaksa
berpindah ke Yogyakarta, tak semua menurut. Hal itu
pulalah yang dilakukan oleh Pemerintahan Jawa Barat,
di masa Gubernur M. Sewaka. Saat itu, pusat
pemerintahan berada di Kota Tasikmalaya.
Sebagai kamuflase kepada Belanda, struktur
pemerintahan dibubarkan. Akan halnya Bandung, ketika
Tasikmalaya sudah terkepung, para pemuda memutuskan
untuk melakukan gerakan bumi hangus.
Di lain pihak, sebelum meninggalkan kota, gubernur
memberikan instruksi kepada para residen dan bupati
untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai pegawai
sebagaimana biasa. Tentu saja, mereka harus selalu
waspada dan sebisa mungkin menghindarkan diri dari
tangkapan Belanda. Djika kemungkinan untuk melarikan
diri tak ada, maka mereka harus menjatakan diri
non-actief, tulis Sewaka dalam catatannya berjudul
Tjorat-Tjaret dari Djaman ke Djaman.
Begitulah, selama tujuh bulan sejak Agustus 1947,
Sewaka membuat kantor darurat di Kampung Lebaksiuh
Desa Cipicung Kec. Bantarkalong (sekarang Kec.
Culamega- red.) Kab. Tasikmalaya.
Selama di pengungsian, koordinasi dilakukan melalui
surat-menyurat dengan kode khusus. Demikianlah surat
untuk Gubernur ditulisnja: Kepada No. 1 ditempat,
untuk Residen kepada No. 2 ditempat dsb. Tjara ini
dipakai agar djangan amat memudahkan bagi Belanda
untuk dapat mengetahui alamat dari masing-masing
kepala daerah, ungkapnya.
Tak sebatas itu, gubernur juga memberikan instruksi
kepada sejumlah kurir yang bertugas. Sewaka menulis,
Seorang kurier jang membawa surat jang ketangkep oleh
Belanda pada waktu ditanja mendjawab: Itu surat saja
dapat menemukan didjalan. Saja tidak tahu apa isinja.
Maksud saja akan pergi kepos pendjagaan tentara
Belanda untuk menjerahkan surat itu kalau-kalau
kepunjaannja.
Kisah ini dibenarkan oleh H. Muchamad Muslih (80),
pelaku sejarah, warga Kampung Lebaksiuh, ketika
ditemui di kediamannya, Rabu (9/8).
Muslih menuturkan, selama memerintah di pengungsian,
gubernur menyamar. Hal itu bisa terlihat dari caranya
berpakaian. Dalam berpakaian, Pak gubernur senang
mengenakan pakaian hitam-hitam. Seperti ajengan.
Disisinjang teras (seperti ulama. Selalu mengenakan
kain). Kendati demikian, gubernur tetap ngantor.
Kebetulan, rumah kami yang ditempati, tuturnya.
Kata Muslih, dirinya sempat diminta untuk menjadi
kurir. Namun, karena bertugas seorang diri, Muslih
menampik tawaran tersebut. Ah, kumargi sorangan mah
abdi kirang resep. Hoyong anu sasarengan (Lantaran
sendirian, saya kurang suka. Ingin yang bersama
teman), ujarnya.
Akhirnya, ada empat pemuda Lebaksiuh yang jadi kurir,
yaitu Nuro, Ahim, Hadri, dan Ucup. Kecuali menjadi
kurir, mereka bertugas menyediakan keperluan gubernur
dan stafnya.
Sementara, Muslih akhirnya memilih bergabung dengan
Komandan Wehrkreise III, Letkol Sutoko. Bersama empat
pemuda lainnya, Muslih membantu tugas-tugas pengawal
Sutoko yang dikepalai oleh Letnan Sugiyanto. Kendati
demikian, Muslih mengaku, sesekali, ia ditugaskan
untuk mengantarkan surat. Kalau surat dari gubernur
mah dilakukan secara estafet. Tapi, kalau kami,
ditugaskan untuk mengantarkan langsung kepada tujuan.
Makanya, instruksi yang kami terima pun berbeda. Surat
yang kami pegang, jangan sampai jatuh ke tangan
Belanda, ujarnya.
**
SINGKAT cerita, keberadaan pusat pemerintahan darurat
di Lebaksiuh terdeteksi Belanda. Tak diketahui secara
pasti mengapa hal itu bisa terjadi. Demikian penuturan
Muslih. Dari sana, gubernur berpindah ke selatan, ke
Kampung Cisurupan Desa Nagrog Kec. Cipatujah Kab.
Tasikmalaya.
Mereka (rombongan gubernur- red.) datang pada malam
hari, dijemput sejumlah warga. Selanjutnya, mereka
meminta warga mengosongkan empat rumah untuk
ditempati. Karena merasa takut, hampir seluruh warga
meninggalkan kampung, ujar Dain (87), warga setempat
ketika ditemui di kediamannya, Rabu (9/8). Ia
menambahkan, kebetulan saat itu, gubernur dan keluarga
menempati kediaman mertua Dain, Murhasik.
Dain menuturkan, ketika tiba di Cisurupan, suasana
dalam keadaan tegang, takut ketahuan Belanda.
Karenanya, gubernur memerintahkan untuk menutupi semua
rumah dengan dedaunan. Itu dilakukan untuk
menyamarkan kampung dari intaian Belanda. Apalagi,
saat itu, pesawat banyak yang melintasi kampung ini,
ucapnya.
Di Cisurupan, pemerintahan hanya bertahan selama tiga
bulan karena terdeteksi Belanda. Untungnya, kata Dain,
Belanda baru datang setelah rombongan pergi. Tapi,
tak tahu kenapa, Belanda tak sempat masuk kampung.
Mereka cuma melintas di pinggir kampung. Sempat
berhenti sejenak, tapi hanya untuk menembaki kelapa
muda, ujarnya sambil tergelak.
Selama di pengungsian, Sewaka sangat bergembira
lantaran penduduk yang mendukung perjuangannya.
Bahkan, disebutkan, kebanyakan pemuda bersedia
bertempur. Sementara, warga berusia lanjut merelakan
sebagian kekayaan untuk biaya perjuangan.
Oleh karenanja amatlah menusuk hati, waktu saja
terima surat tertutup dari seseorang jang tidak
memperkenalkan diri dan terus menghilang jang isinja
ternjata dibuat oleh seorang pegawai tinggi bangsa
Indonesia jang telah bekerdja difihak Belanda di
Bandung, jang memadjukan usul agar datang ke Bandung
dan dinjatakannja bahwa satu kedudukan penting telah
disediakan untuk saja, ungkap Sewaka.
Pukulan perasaan lain juga datang di pengungsian.
Sewaka menulis, Pun amatlah tersinggung perasaan
saja, waktu seseorang jang ada disekitar saja
mengatakan bahwa tjara perdjoangan saja itu bersifat
negatif. Seterusnja dikatakan, bahwa perdjoangan untuk
mentjapai tjita-tjita ialah memasuki organisasi
mereka. Terhadap usul ini saja hanja djawab dengan
pendek: Ikutilah saja siapa jang ingin
ikut.(Hazmirullah/PR)***
Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/14/selisik/lain04.htm
=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/