salian ti pausahaan siaran radio, kumaha upami ngawajibkeun pausahaan siaran 
televisi supados nyisihkeun sabagian waktosna kanggo nayangkeun acara atanapi 
berita dina basa Sunda? Dimungkinkeun henteu, nya? Upami henteu lepat, 
kapungkur di Jogja mah saurna aya acara berita bahasa Jawa di TVRI.

Wassalam,
Asep

totong usman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                         
  
  Mudah-mudahan aya anggota dewan atanapi pemda……………………………….
  Jawabana gampang…………kacida……………………………………………………
  Cobi damel peraturan pemda/keppres atanapi naon wae
   
    
   Untuk menjadi PNS diharuskan menguasai      budaya dalam hal ini termasuk 
bahasa di mana PNS itu tinggal  
   Conto PNS di garut/ciamis kudu bisa      basa sunda, PNS di PAPUA kudu bisa 
basa papua jrr 
   
  Cobi urang tinggal syarat-syarat jadi PNS harus menguasai bahasa Inggris, 
padahal mah teu kabeh PNS ngobrol jeung urang Inggris
  Eukeur golongan tertentu bahasa inggris mah maenya tukang kebon/cleaning 
service ngobrol make bahasa inggris, bahasa daerahna euweuh
   
  Bangsa urang Indonesia khususna urang sunda keur pecah kapribadian, kiblatna 
lain kabah, budayana lain lemah anu di tincak, diaku atawa heunteu
  Urang geus ngiblat ka barat, era lamun teu bisa bahasa inggris, era lamun teu 
bisa nurutan  bangsa batur…..
   
   
   
  -----Original Message-----
 From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of awan
 Sent: Sunday,  February 25, 2007 4:04 PM
 To: [email protected]
 Subject: [Urang Sunda] Matinya Bahasa Sunda
   
        Lenyepaneun urang sadaya..
 
 Matinya Bahasa Sunda
 
 khazanah-utama.gif (34786 bytes)
 Ketika esai ini ditulis, di tangan saya ada 25 eksemplar Majalah
 Sunda Cupumanik (edisi 18/2005-edisi 43/2007). Majalah ini, sejak
 edisi 16/2005, menyediakan sebuah rubrik "Kandaga Basa" yang isinya
 berupa babasan jeung paribasa. Ruang yang disediakan untuk rubrik ini
 dua halaman, setiap edisi diisi rata-rata 15-20 paribasa dan selalu
 diberi nomor dalam kurung setelah judul rubriknya. Karena yang ada
 pada saya mulai edisi 18, rubrik "Kandaga Basa"-nya bernomor edisi
 (3).Oleh Acep Iwan Saidi
 
 Membaca dan menyimak rubrik ini segera akan terkesan pada kita bahwa
 betapa cergas dan kreatifnya orang Sunda masa lalu dalam berbahasa.
 Cergas sebab mereka tangkas dan terampil menangkap pengalaman hidup
 dan memformulasikannya lewat bahasa. Kreatif sebab bahasa yang
 diformulasikannya bukan bahasa biasa, melainkan penuh dengan metafora,
 efektif, dan selalu mempertimbangkan hukum bunyi sehingga rangkaian
 ungkapannya tidak hanya bernas secara substansial, tetapi juga estetik
 dalam segi bentuk.
 
 Perhatikan babasan dan paribasa berikut, "kajeun kendor dapon
 ngagembol, cara anjing tutung buntut, ngindung ka waktu ngabapa ka
 mangsa, ambek nyedek tanaga midek, nulak cangkeng dina kelek, inggis
 batan maut hinis rempan batan mesat gobang, dan ti ngongkoak nepi ka
 ngungkueuk." Lupakanlah makna ungkapan-ungkapan itu, perhatikan
 diksinya yang ketat, dan dengarkan bunyinya yang merdu. Tanpa tahu
 maknanya, segera akan muncul kesan betapa bahasa ungkap itu tertata
 dengan rapi. Musikalisasi bunyinya juga terdengar harmonis.
 
 Pada tataran filosofis, ungkapan-ungkapan itu jelas menunjukkan sebuah
 formulasi atas pengalaman prareflektif. Di situ bahasa tidak sekadar
 sarana pendeskripsi realitas, tetapi juga abstraksi dari pengalaman,
 bahasa yang telah memergoki pengalaman dan dengan tangkas
 menangkapnya. Mari periksa peribahasa berikut, "Piit ngendeuk-ngendeuk
 pasir, cecendet mande kiara." Ini jelas sebuah abstraksi atas perilaku
 manusia yang tidak pernah mengukur kemampuan dan kualitas dirinya. Ia
 menginginkan sesuatu yang tidak mungkin dapat diraihnya. Tampak terang
 kepada kita, di situ bahasa telah memiliki rohnya sendiri. Ia masuk ke
 ruang transenden, wilayah yang kita anggap tak terbahasakan sebab kita
 selalu menganggap bahasa sebatas sarana untuk mendeskripsikan realitas
 belaka. Silakan juga periksa beberapa babasan dan paribasa lain
 seperti, "Milih-milih rabi, mindah-mindah basa, cul dogdog tinggal
 igel, caina herang laukna beunang, dan adat ka kurung ku iga."
 
 Formulasi bahasa semacam itu tidak mungkin lahir tanpa sebuah studi
 yang intens -- apa dan bagaimanapun metodologinya. Kita tahu bahwa
 jejak penciptanya sulit ditelusuri. Ungkapan-ungkapan itu adalah
 produk masyarakat lisan. Ia diciptakan oleh penutur-penutur yang tidak
 perlu coretan nama diri di atas karangannya. Ia anonim. Namun, siapa
 pun penciptanya, ia pastilah seorang ahli bahasa yang menggauli bahasa
 sampai ke ruang-ruang paling gelap. Ia tidak menjadikan bahasa sebagai
 objek, ia tidak mengambil jarak dengan bahasa. Dirinya sendiri kiranya
 telah menjelma bahasa itu sendiri.
 
 Tapi mengapa kini
 
 bahasa Sunda itu mati?
 
 Persoalannya kemudian, apakah para penutur bahasa Sunda sekarang bisa
 melakukan hal yang sama? Apakah para sarjana sastra Sunda yang sering
 merasa sok modern mampu memformulasikan pengalaman dalam bahasa yang
 demikian? Ketimbang mendapat jawaban menggembirakan, sebuah berita
 menyedihkan justru diturunkan harian ini beberapa waktu lalu. "Penutur
 bahasa Sunda di Kota Bandung Hanya Tersisa 30%", demikian tajuk berita
 tersebut ("PR", 15/2/2007). Penutur yang 30% itu, katanya, terbatas
 pada kalangan pelajar yang sedang mengikuti kegiatan belajar-mengajar
 bahasa Sunda di sekolah. Diperkirakan tahun 2010 tidak ada lagi urang
 Bandung yang menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
 Menyakitkan. Jika bahasanya hilang, bisa dipastikan budayanya pun lesap.
 
 Kenapa nasib buruk demikian mesti menimpa bahasa Sunda? Gugun Gunadi,
 sarjana Sastra Sunda dan Staf Pengajar Fakultas Sastra Unpad,
 menyerang dengan jurus agak culas. Ia bilang bahwa tragedi itu terjadi
 akibat kesalahan ibu-ibu muda dan Dinas Pendidikan. Ibu-ibu muda tidak
 mau mengajari anaknya berbahasa Sunda. Dinas Pendidikan tidak mau
 memberlakukan bahasa Sunda sebagai bahasa pengajaran di taman
 kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).
 
 Wow, jika saya berada pada posisi dua pihak tersebut, saya akan segera
 bertanya, apa pula yang Anda lakukan sebagai sarjana sastra Sunda? Apa
 ikhtiar Unpad (c.q. Jurusan sastra Sunda!) dalam mengatasi masalah
 tersebut? Bukankah sejauh ini Anda dan kawan-kawan hanya bersembunyi
 di sebuah ruang eksklusif bernama kampus? Mana karya Anda yang
 menunjukkan jerih payah untuk memasyarakatkan bahasa Sunda yang bisa
 dicerna publik: Buku? Hasil penelitian? Karya ilmiah? Bukankah Anda
 orang akademis yang mestinya bisa bekerja secara metodologis? Anda,
 saya kira, tidak diajari untuk hanya bisa menyalahkan orang lain. Anda
 pasti diajari untuk bertanggung jawab pada keilmuan Anda.
 
 Tak sekadar soal bahasa
 
 Persoalan bahasa tidak bisa diselesaikan dengan cara sederhana lewat
 pelajaran yang diberikan seorang ibu kepada anaknya atau lewat
 kurikulum yang diwajibkan pemerintah sebagaimana disinyalir Gugun.
 Tidak ada jaminan bahasa Sunda akan lestari jika dua hal itu
 dilakukan. Ketika melihat gejala ibu-ibu muda tidak mau mengajarkan
 bahasa Sunda kepada anaknya dan Dinas Pendidikan tak mau memberlakukan
 kurikulum, Gugun mestinya bertanya mengapa hal itu terjadi, bukan
 lantas menunjuk hidung mereka. Jika pertanyaan tersebut tak segera
 mendapat jawab, sebagai akademisi, hal yang mesti dilakukan tentulah
 melakukan riset yang serius, penelitian dedikatif yang tidak hanya
 demi kepentingan projek. Menuduh adalah cermin berpikir pragmatis,
 yang, tentu saja, tidak sehat dimiliki seorang akademisi.
 
 Saya sendiri berasumsi bahwa bahasa Sunda kian menghampiri kematiannya
 karena ada banyak faktor yang membuat orang Sunda berjarak dengannya.
 Bahasa, kata Bronislav Malinowsky, lahir karena pengalaman badaniah"
 (Halliday, 1985: 10). Pengalaman badaniah adalah interaksi keseharian
 yang melibatkan banyak hal di samping manusia sendiri sebagai pelibat
 utamanya. Dalam interaksi ada ruang, waktu, dan benda-benda yang
 bergerak di dalamnya. Sekelompok orang yang berinteraksi di sebuah
 ruang dan waktu yang penuh dengan benda teknologi, misalnya,
 memungkinkan lahirnya ungkapan-ungkapan dan istilah-istilah yang
 berkaitan dengan teknologi tersebut. Dari situ akan lahir bahasa ragam
 teknologi. Tidak mungkin lahir bahasa ragam sastra, politik, dan
 lain-lain di luar ranah teknologi.
 
 Beranalogi pada contoh ekstrem tersebut, tentu tidak mungkin lahir
 dan/atau lestari bahasa Sunda jika ruang dan waktu tempat orang Sunda
 berinteraksi dipenuhi benda dan pemikiran yang menjauhkan mereka dari
 alam kesundaan itu sendiri. Akan sia-sia seorang ibu mengajarkan
 bahasa Sunda jika yang ada di dalam rumahnya bukan benda-benda yang
 mengingatkan mereka pada kesundaan, jika pola pikir mereka tidak
 nyunda. Omong kosong rasanya jika kita berkoar-koar kepada seluruh
 warga Sunda agar menggunakan bahasa Sunda dalam keseharian. Kita hanya
 melihat bahasa sebatas alat yang dengan itu berharap bisa
 mendeskripsikan dan merepresentasikan realitas. Padahal, sebagaimana
 Malinowsky, bahasa adalah pengalaman keseharian itu sendiri. Bahasa
 adalah inti dari aktivitas. Bahasa diproduksi oleh aktivitas dan
 penanda-penanda yang melingkunginya. Maka, bagaimana bisa bahasa Sunda
 mendeskripsikan dan merepresentasikan aktivitas orang lain, dalam
 penanda orang lain pula.
 
 Demikian juga soal kurikulum pendidikan bahasa Sunda. Mubazir kiranya
 kurikulum bahasa Sunda diberlakukan jika kelas dipenuhi benda dan
 model atau metodologi pengajaran asing. Bisa saja seorang murid
 mencapai nilai bagus dalam pelajaran, tetapi ia segera akan
 melupakannya setelah pelajaran itu lewat. Hal ini dimungkinkan terjadi
 sebab sang murid belajar bahasa Sunda sebatas kewajiban, selebihnya
 mengejar kelulusan. Kurikulum bahasa Sunda, dengan begitu, paling
 banter hanya akan bisa memenuhi syarat formal, tidak substansial.
 Sekolah akhirnya hanya mengajarkan kepura-puraan.
 
 Lantas, bagaimana cara mencegah atau paling tidak memperlambat usia
 bahasa Sunda jika dalam realitas keseharian kita justru berjauhan
 dengan benda-benda dan pandangan hidup kesundaan sedemikian? Tentu
 jawabannya tidak cukup berteriak-teriak bahwa bahasa Sunda akan mati,
 apalagi dengan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Jawabannya, hemat
 saya, adalah berkarya. Tingkatkan terus karya-karya yang berkaitan
 dengan kesundaan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Contohlah
 strategi McDonald. Makanan ini eksis antara lain karena ia hadir
 nyaris di setiap sudut kota di seluruh dunia. Ingat juga bagaimana
 pada suatu masa yang telah lewat tari jaipongan menjadi demikian
 populer. Tarian ini eksis antara lain karena frekuensi kemunculannya
 yang luar biasa, baik dalam bentuk pentas maupun rekaman musiknya.
 Mari kita kepung orang Sunda dengan karya, bukan dengan umpatan. Para
 sarjana Sunda, Unpad, Unpas, dan pihak-pihak yang mendompleng pada
 kesundaan, berkaryalah! Meneliti, menulis, terbitkan minimal 1.000
 buku, 1.000 jurnal, dan sekian ribu tulisan di media dalam setahun!
 Jangan beralasan hal ini tidak mungkin dilakukan. Kita hanya baru bisa
 hidup kalau mau bekerja keras, bukan? Jangan juga berkilah tidak ada
 dana! Unpad, misalnya, wow, kaya banget!
 
 Kembali ke soal peribahasa di atas, orang Sunda terutama para sarjana
 sastra Sunda mestinya malu pada para karuhun. Mereka hidup dalam
 tradisi lisan yang kental. Mereka sering kita anggap sebagai
 terbelakang. Tapi, nyatanya mereka justru jauh lebih cerdas dari kita.
 Mereka mampu mengabstraksikan perilakunya dalam formulasi bahasa yang
 estetik dan bergizi. Lihatlah, sampai edisi terakhir Cupumanik yang
 saya baca hingga tulisan ini dibuat, tak ada satu pun peribahasa yang
 diciptakan oleh orang Sunda modern. Seluruhnya telah saya kenali sejak
 sebelum mengenal bangku sekolah dasar. Ah, saya jadi curiga pada model
 studi bahasa Sunda di perguruan tinggi. Jangan-jangan mereka telah
 menempatkan bahasa sebagai objek yang mati belaka. Jangan-jangan
 mereka hanya mengintip bahasa dalam jarak karena alasan objektivitas
 ilmiah. Jangan-jangan mereka pun mengilmiahkan bahasa Sunda dengan
 hukum-hukum yang diadopsi dari pola-pola bahasa asing sebagaimana
 dilakukan banyak pakar bahasa Indonesia terhadap bahasa nasional itu.
 Jika demikian halnya, pantaslah kalau kini bahasa Sunda melangkah kian
 cepat saja ke liang lahatnya!*** 
 
 Penulis, Dosen pada Kelompok Keahlian Ilmu-ilmu Desain dan Budaya
 Visual FSRD ITB. Pernah kuliah Sastra dan Bahasa (S-1). Sedang
 menyusun buku Tata Bahasa Baku-Hantam Bahasa Indonesia.
  
  

      


     
                       

 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke