Haturan kang Asep..., ayeuna di TVRI Jabar & Banten oge tos aya warta berita dina basa Sunda tiap sonten (asana mah unggal jam 4.30 sore kitu..) malah hal tos kaitung lami kitu di Bandung TV, Pajajaran TV jeung Chanel TV aya siaran dina basa Sunda (duka ari MQ TV aya teu nya....? soalna can kapangih / diteangan chanelna/gelombangna.......hehehe)
cag...ah, "kkbm'69" On 2/27/07, Asep Hadiyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > salian ti pausahaan siaran radio, kumaha upami ngawajibkeun pausahaan siaran > televisi supados nyisihkeun sabagian waktosna kanggo nayangkeun acara > atanapi berita dina basa Sunda? Dimungkinkeun henteu, nya? Upami henteu > lepat, kapungkur di Jogja mah saurna aya acara berita bahasa Jawa di TVRI. > > Wassalam, > Asep > > totong usman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mudah-mudahan aya anggota dewan atanapi pemda………………………………. > Jawabana gampang…………kacida…………………………………………………… > Cobi damel peraturan pemda/keppres atanapi naon wae > > > Untuk menjadi PNS diharuskan menguasai budaya dalam hal ini termasuk > bahasa di mana PNS itu tinggal > Conto PNS di garut/ciamis kudu bisa basa sunda, PNS di PAPUA kudu > bisa basa papua jrr > > Cobi urang tinggal syarat-syarat jadi PNS harus menguasai bahasa Inggris, > padahal mah teu kabeh PNS ngobrol jeung urang Inggris > Eukeur golongan tertentu bahasa inggris mah maenya tukang kebon/cleaning > service ngobrol make bahasa inggris, bahasa daerahna euweuh > > Bangsa urang Indonesia khususna urang sunda keur pecah kapribadian, > kiblatna lain kabah, budayana lain lemah anu di tincak, diaku atawa heunteu > Urang geus ngiblat ka barat, era lamun teu bisa bahasa inggris, era lamun > teu bisa nurutan bangsa batur….. > > > > -----Original Message----- > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On > Behalf Of awan > Sent: Sunday, February 25, 2007 4:04 PM > To: [email protected] > Subject: [Urang Sunda] Matinya Bahasa Sunda > > Lenyepaneun urang sadaya.. > > Matinya Bahasa Sunda > > khazanah-utama.gif (34786 bytes) > Ketika esai ini ditulis, di tangan saya ada 25 eksemplar Majalah > Sunda Cupumanik (edisi 18/2005-edisi 43/2007). Majalah ini, sejak > edisi 16/2005, menyediakan sebuah rubrik "Kandaga Basa" yang isinya > berupa babasan jeung paribasa. Ruang yang disediakan untuk rubrik ini > dua halaman, setiap edisi diisi rata-rata 15-20 paribasa dan selalu > diberi nomor dalam kurung setelah judul rubriknya. Karena yang ada > pada saya mulai edisi 18, rubrik "Kandaga Basa"-nya bernomor edisi > (3).Oleh Acep Iwan Saidi > > Membaca dan menyimak rubrik ini segera akan terkesan pada kita bahwa > betapa cergas dan kreatifnya orang Sunda masa lalu dalam berbahasa. > Cergas sebab mereka tangkas dan terampil menangkap pengalaman hidup > dan memformulasikannya lewat bahasa. Kreatif sebab bahasa yang > diformulasikannya bukan bahasa biasa, melainkan penuh dengan metafora, > efektif, dan selalu mempertimbangkan hukum bunyi sehingga rangkaian > ungkapannya tidak hanya bernas secara substansial, tetapi juga estetik > dalam segi bentuk. > > Perhatikan babasan dan paribasa berikut, "kajeun kendor dapon > ngagembol, cara anjing tutung buntut, ngindung ka waktu ngabapa ka > mangsa, ambek nyedek tanaga midek, nulak cangkeng dina kelek, inggis > batan maut hinis rempan batan mesat gobang, dan ti ngongkoak nepi ka > ngungkueuk." Lupakanlah makna ungkapan-ungkapan itu, perhatikan > diksinya yang ketat, dan dengarkan bunyinya yang merdu. Tanpa tahu > maknanya, segera akan muncul kesan betapa bahasa ungkap itu tertata > dengan rapi. Musikalisasi bunyinya juga terdengar harmonis. > > Pada tataran filosofis, ungkapan-ungkapan itu jelas menunjukkan sebuah > formulasi atas pengalaman prareflektif. Di situ bahasa tidak sekadar > sarana pendeskripsi realitas, tetapi juga abstraksi dari pengalaman, > bahasa yang telah memergoki pengalaman dan dengan tangkas > menangkapnya. Mari periksa peribahasa berikut, "Piit ngendeuk-ngendeuk > pasir, cecendet mande kiara." Ini jelas sebuah abstraksi atas perilaku > manusia yang tidak pernah mengukur kemampuan dan kualitas dirinya. Ia > menginginkan sesuatu yang tidak mungkin dapat diraihnya. Tampak terang > kepada kita, di situ bahasa telah memiliki rohnya sendiri. Ia masuk ke > ruang transenden, wilayah yang kita anggap tak terbahasakan sebab kita > selalu menganggap bahasa sebatas sarana untuk mendeskripsikan realitas > belaka. Silakan juga periksa beberapa babasan dan paribasa lain > seperti, "Milih-milih rabi, mindah-mindah basa, cul dogdog tinggal > igel, caina herang laukna beunang, dan adat ka kurung ku iga." > > Formulasi bahasa semacam itu tidak mungkin lahir tanpa sebuah studi > yang intens -- apa dan bagaimanapun metodologinya. Kita tahu bahwa > jejak penciptanya sulit ditelusuri. Ungkapan-ungkapan itu adalah > produk masyarakat lisan. Ia diciptakan oleh penutur-penutur yang tidak > perlu coretan nama diri di atas karangannya. Ia anonim. Namun, siapa > pun penciptanya, ia pastilah seorang ahli bahasa yang menggauli bahasa > sampai ke ruang-ruang paling gelap. Ia tidak menjadikan bahasa sebagai > objek, ia tidak mengambil jarak dengan bahasa. Dirinya sendiri kiranya > telah menjelma bahasa itu sendiri. > > Tapi mengapa kini > > bahasa Sunda itu mati? > > Persoalannya kemudian, apakah para penutur bahasa Sunda sekarang bisa > melakukan hal yang sama? Apakah para sarjana sastra Sunda yang sering > merasa sok modern mampu memformulasikan pengalaman dalam bahasa yang > demikian? Ketimbang mendapat jawaban menggembirakan, sebuah berita > menyedihkan justru diturunkan harian ini beberapa waktu lalu. "Penutur > bahasa Sunda di Kota Bandung Hanya Tersisa 30%", demikian tajuk berita > tersebut ("PR", 15/2/2007). Penutur yang 30% itu, katanya, terbatas > pada kalangan pelajar yang sedang mengikuti kegiatan belajar-mengajar > bahasa Sunda di sekolah. Diperkirakan tahun 2010 tidak ada lagi urang > Bandung yang menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari. > Menyakitkan. Jika bahasanya hilang, bisa dipastikan budayanya pun lesap. > > Kenapa nasib buruk demikian mesti menimpa bahasa Sunda? Gugun Gunadi, > sarjana Sastra Sunda dan Staf Pengajar Fakultas Sastra Unpad, > menyerang dengan jurus agak culas. Ia bilang bahwa tragedi itu terjadi > akibat kesalahan ibu-ibu muda dan Dinas Pendidikan. Ibu-ibu muda tidak > mau mengajari anaknya berbahasa Sunda. Dinas Pendidikan tidak mau > memberlakukan bahasa Sunda sebagai bahasa pengajaran di taman > kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). > > Wow, jika saya berada pada posisi dua pihak tersebut, saya akan segera > bertanya, apa pula yang Anda lakukan sebagai sarjana sastra Sunda? Apa > ikhtiar Unpad (c.q. Jurusan sastra Sunda!) dalam mengatasi masalah > tersebut? Bukankah sejauh ini Anda dan kawan-kawan hanya bersembunyi > di sebuah ruang eksklusif bernama kampus? Mana karya Anda yang > menunjukkan jerih payah untuk memasyarakatkan bahasa Sunda yang bisa > dicerna publik: Buku? Hasil penelitian? Karya ilmiah? Bukankah Anda > orang akademis yang mestinya bisa bekerja secara metodologis? Anda, > saya kira, tidak diajari untuk hanya bisa menyalahkan orang lain. Anda > pasti diajari untuk bertanggung jawab pada keilmuan Anda. > > Tak sekadar soal bahasa > > Persoalan bahasa tidak bisa diselesaikan dengan cara sederhana lewat > pelajaran yang diberikan seorang ibu kepada anaknya atau lewat > kurikulum yang diwajibkan pemerintah sebagaimana disinyalir Gugun. > Tidak ada jaminan bahasa Sunda akan lestari jika dua hal itu > dilakukan. Ketika melihat gejala ibu-ibu muda tidak mau mengajarkan > bahasa Sunda kepada anaknya dan Dinas Pendidikan tak mau memberlakukan > kurikulum, Gugun mestinya bertanya mengapa hal itu terjadi, bukan > lantas menunjuk hidung mereka. Jika pertanyaan tersebut tak segera > mendapat jawab, sebagai akademisi, hal yang mesti dilakukan tentulah > melakukan riset yang serius, penelitian dedikatif yang tidak hanya > demi kepentingan projek. Menuduh adalah cermin berpikir pragmatis, > yang, tentu saja, tidak sehat dimiliki seorang akademisi. > > Saya sendiri berasumsi bahwa bahasa Sunda kian menghampiri kematiannya > karena ada banyak faktor yang membuat orang Sunda berjarak dengannya. > Bahasa, kata Bronislav Malinowsky, lahir karena pengalaman badaniah" > (Halliday, 1985: 10). Pengalaman badaniah adalah interaksi keseharian > yang melibatkan banyak hal di samping manusia sendiri sebagai pelibat > utamanya. Dalam interaksi ada ruang, waktu, dan benda-benda yang > bergerak di dalamnya. Sekelompok orang yang berinteraksi di sebuah > ruang dan waktu yang penuh dengan benda teknologi, misalnya, > memungkinkan lahirnya ungkapan-ungkapan dan istilah-istilah yang > berkaitan dengan teknologi tersebut. Dari situ akan lahir bahasa ragam > teknologi. Tidak mungkin lahir bahasa ragam sastra, politik, dan > lain-lain di luar ranah teknologi. > > Beranalogi pada contoh ekstrem tersebut, tentu tidak mungkin lahir > dan/atau lestari bahasa Sunda jika ruang dan waktu tempat orang Sunda > berinteraksi dipenuhi benda dan pemikiran yang menjauhkan mereka dari > alam kesundaan itu sendiri. Akan sia-sia seorang ibu mengajarkan > bahasa Sunda jika yang ada di dalam rumahnya bukan benda-benda yang > mengingatkan mereka pada kesundaan, jika pola pikir mereka tidak > nyunda. Omong kosong rasanya jika kita berkoar-koar kepada seluruh > warga Sunda agar menggunakan bahasa Sunda dalam keseharian. Kita hanya > melihat bahasa sebatas alat yang dengan itu berharap bisa > mendeskripsikan dan merepresentasikan realitas. Padahal, sebagaimana > Malinowsky, bahasa adalah pengalaman keseharian itu sendiri. Bahasa > adalah inti dari aktivitas. Bahasa diproduksi oleh aktivitas dan > penanda-penanda yang melingkunginya. Maka, bagaimana bisa bahasa Sunda > mendeskripsikan dan merepresentasikan aktivitas orang lain, dalam > penanda orang lain pula. > > Demikian juga soal kurikulum pendidikan bahasa Sunda. Mubazir kiranya > kurikulum bahasa Sunda diberlakukan jika kelas dipenuhi benda dan > model atau metodologi pengajaran asing. Bisa saja seorang murid > mencapai nilai bagus dalam pelajaran, tetapi ia segera akan > melupakannya setelah pelajaran itu lewat. Hal ini dimungkinkan terjadi > sebab sang murid belajar bahasa Sunda sebatas kewajiban, selebihnya > mengejar kelulusan. Kurikulum bahasa Sunda, dengan begitu, paling > banter hanya akan bisa memenuhi syarat formal, tidak substansial. > Sekolah akhirnya hanya mengajarkan kepura-puraan. > > Lantas, bagaimana cara mencegah atau paling tidak memperlambat usia > bahasa Sunda jika dalam realitas keseharian kita justru berjauhan > dengan benda-benda dan pandangan hidup kesundaan sedemikian? Tentu > jawabannya tidak cukup berteriak-teriak bahwa bahasa Sunda akan mati, > apalagi dengan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Jawabannya, hemat > saya, adalah berkarya. Tingkatkan terus karya-karya yang berkaitan > dengan kesundaan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Contohlah > strategi McDonald. Makanan ini eksis antara lain karena ia hadir > nyaris di setiap sudut kota di seluruh dunia. Ingat juga bagaimana > pada suatu masa yang telah lewat tari jaipongan menjadi demikian > populer. Tarian ini eksis antara lain karena frekuensi kemunculannya > yang luar biasa, baik dalam bentuk pentas maupun rekaman musiknya. > Mari kita kepung orang Sunda dengan karya, bukan dengan umpatan. Para > sarjana Sunda, Unpad, Unpas, dan pihak-pihak yang mendompleng pada > kesundaan, berkaryalah! Meneliti, menulis, terbitkan minimal 1.000 > buku, 1.000 jurnal, dan sekian ribu tulisan di media dalam setahun! > Jangan beralasan hal ini tidak mungkin dilakukan. Kita hanya baru bisa > hidup kalau mau bekerja keras, bukan? Jangan juga berkilah tidak ada > dana! Unpad, misalnya, wow, kaya banget! > > Kembali ke soal peribahasa di atas, orang Sunda terutama para sarjana > sastra Sunda mestinya malu pada para karuhun. Mereka hidup dalam > tradisi lisan yang kental. Mereka sering kita anggap sebagai > terbelakang. Tapi, nyatanya mereka justru jauh lebih cerdas dari kita. > Mereka mampu mengabstraksikan perilakunya dalam formulasi bahasa yang > estetik dan bergizi. Lihatlah, sampai edisi terakhir Cupumanik yang > saya baca hingga tulisan ini dibuat, tak ada satu pun peribahasa yang > diciptakan oleh orang Sunda modern. Seluruhnya telah saya kenali sejak > sebelum mengenal bangku sekolah dasar. Ah, saya jadi curiga pada model > studi bahasa Sunda di perguruan tinggi. Jangan-jangan mereka telah > menempatkan bahasa sebagai objek yang mati belaka. Jangan-jangan > mereka hanya mengintip bahasa dalam jarak karena alasan objektivitas > ilmiah. Jangan-jangan mereka pun mengilmiahkan bahasa Sunda dengan > hukum-hukum yang diadopsi dari pola-pola bahasa asing sebagaimana > dilakukan banyak pakar bahasa Indonesia terhadap bahasa nasional itu. > Jika demikian halnya, pantaslah kalau kini bahasa Sunda melangkah kian > cepat saja ke liang lahatnya!*** > > Penulis, Dosen pada Kelompok Keahlian Ilmu-ilmu Desain dan Budaya > Visual FSRD ITB. Pernah kuliah Sastra dan Bahasa (S-1). Sedang > menyusun buku Tata Bahasa Baku-Hantam Bahasa Indonesia. > > > > > > > > > > > --------------------------------- > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/lOt0.A/hOaOAA/yQLSAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

