Punten,
Nembe tiasa “ngalungkeun” situs Batujaya ayeuna,
kanggo "panganteur" wargi KUSnet anu bade ziarah
(jaroh) ka Batujaya. 

Ari saur kang Agus Aris Munandar (dosen Arkeologi
FIB), situs Batujaya the, asli panimu tim Arkeologi
FIB taun 1985 (Mang Ayat saparakanca), anu kenging
laporan ti masyarakat wewengkon Batujaya. Situs
Batujaya teh, hiji situs candi pang ageungna/luasna di
Pulo Jawa, anu bangunanana didamel tina batu bata.
Dugi ka ayeuna di wilayah jawa Wetan teu acan mendakan
candi anu didamel tina batu bata.

Baktos,

Mrachmat UIdipura
_________________________

 Hasan Djafar (66), staf pengajar Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
(FIB UI) meraih gelar Doktor dengan yudisium “sangat
memuaskan”, setelah berhasil mempertahankan
disertasinya  atas sanggahan tim penguji yang
berlangsung hari Selasa (23/10) di Kampus Depok.

Disertasi yang diajukan berjudul “Kompleks Percandian
di Kawasan Situs Batujaya, Karawang, Jawa Barat:
Kajian Sejarah Kebudyaan.”  Bertindak sebagai promotor
Prof.Dr.Edi Sedyawati, dengan ko-promotor Prof.Dr.
Hariani Santiko. Tim penguji terdiri atas Prof.Dr.
Nurhadi Magetsari, Prof.Dr. Mundardjito, Prof.Dr.Ir.
Gunawan Tjahjono, Dr. Uka Tjandrasasmita dan Dr. Agus
Aris Munandar.

Hasan Djafar, kelahiran Pamanukan 16 Februari 1941,
menyelesaikan pendidikan S1 dari Fakultas Sastra UI
dan mengabdikan diri sebagai dosen di almamaternya
dalam bidang arkeologi, efigrafi dan sejarah kuno
Indonesia hingga memasuki masa pension (2006) dengan
pangkat terakhir Pembina Utama Muda/Lektor Kepala, Gol
IV/c. Penghargaan yang didapat antara lain Sarjana
Teladan Fakultas Sastra UI 1974/1975, Peneliti Terbaik
bidang Humaniora tahun 2000, memperoleh Conservation
and Environmental Grants 2003 dari The Ford Motor
Company, untuk penelitian arkeologi di situs Batujaya,
Karawang Jawa Barat, mendapat Tanda Kehomatan
Satyalancana Karya Satya 30 tahun tanggal 2 April
2005.
Menikah dengan  Tien Suhartini dan dikaruniai satu
anak bernama Ratna Kania.

Penelitian situs Batujaya telah berlansung sejak tahun
1985 hingga kini, telah mengindentifikasikan 30 situs
yang tersebar di areal seluas 5 km persegi. Dari 22
situs yang telah diekskavasi diketahui terdapat 16
struktur bangunan candi yang terbuat dari bata. Dari
bentuk strukturnya tiga buah diantaranya merupakan 
candi berbentuk stupa. Sejumlah inskripsi yang
dituliskan pada lempengan emas dan pada meterai
(votive tablet) dan lempengan terakota memperlihatkan
ciri agama Buddha Mahayana yang sangat jelas. Demikian
pula arca-arca dan hiasan yang ditemukan menunjukkan
ciri kebuddhaan yang sama. Dengan demikian tidak
disangsikan lagi bahwa kompleks percandian batujaya
merupakan sebuah kompleks percandian agama Buddha.
Kehadiran kompleks percandian di daerah pantai utara
Jawa Barat ini sangatlah penting, bukan saja karena
tinggalan budaya berupa candi di Jawa Barat sangat
sedikit jumlahnya, melainkan karena hingga kini
kompleks percandian Batujaya ini merupakan
satu-satunya percandian yang berlatarkan agama Buddha
yang terdapat di wilayah Jawa bagian barat,khususnya
di Jawa Barat. Kompleks percandian  Batujaya juga
telah menggunakan bahan stuko sebagai bahan untuk
melepa seluruh permukaan bangunannya, dan dalam
pembuatan arca dan ornamen.
Dari sudut bangunan perkembangan percandian kompleks
percandian Batujaya memiliki pertanggalan yang cukup
tua, yaitu berasal masa sekitar abad ke-6 dan abad
ke-7 (Fase I). Selanjutnya kompleks percandian ini
mengalami perbaikan dan perubahan-perubahan sejak abad
ke-7 hingga abad ke-10 (Fase II). Berdasarkan
pertanggalannya itu percandian Batujaya ditempatkan
pada pada masa perkembangan kerajaan Tarumanagara.

____________________

Kompleks Percandian di Kawasan Situs Batujaya,
Karawang, Jawa Barat
Kajian Sejarah Kebudayaan

Abstrak

Disertasi ini merupakan hasil penelitian terpadu dalam
bidang arkeologi, yang bertujuan  untuk
merekonstruksikan sejarah kebudayaan daerah pantai
utara Jawa Barat, berdasarkan peninggalan arkeologi
yang dipeorleh melalui survey dan ekskavasi di kawasan
situs Batujaya, Karawang Jawa Barat, sejak tahun 1985
hingga 2006. Cakupan waktunya meliputi masa akhir
prasejarah (akhir masa perundagian) sampai masa akhir 
Tarumanagara yang meliputi kurun waktu sekitar  abad
ke-2 hingga abad ke-10. Dalam disertasi in dibahas
beberapa unsur kebudayaan berdasarkan sumber utamanya 
berupa peninggalan arkeologi, diantaranya berupa
sisa-sisa kompleks percandian bata, arca, benda-benda
hiasan (ornamen), inskripsi, meterai (votive tablet),
terakota, gerabah, alat logam, perhiasan, dan kerangka
manusia. Melalui analisis dan tinjauan dengan
pendekatan induktif-deduktif dan holistik diperoleh
kesimpulan-kesimpulan dan yang kemudian digunakan
secara eksplanatif untuk menjelaskan dan
merekonstruksikan gambaran mengenai sejarah kebudayaan
Jawa Barat, khususnya daerah pantai utara.
Rekonstruksi sejarah kebudayaan ini meliputi
rekonstruksi unsur-unsur kebudayaannya yaitu: (1)
tatanan permukiman; (2) tata masyarakat; (3) religi;
(4) kesenian; (5) teknologi; (6) bahasa dan
keberaksaraan; (7) sistem perekonomian.

Daerah pantai utara Jawa bagian barat, khususnya
pantai utara Jawa Barat, merupakan daerah hunian
pantai yang luas, yang sudah terbentuk sejak jaman
prasejarah, dari Masa Bercocok Tanam hingga Masa
Perundagian. Daerah permukiman ini dikenal sebagai
Daerah Kebudayaan Buni atau Kompleks Gerabah Buni
(Buni Pottery Complex), dan ditandai terutama oleh
tinggalan budayanya berupa artefak gerabah yang
memiliki daerah persebaran yang luas. Masyarakat
penghuni daerah ini tergolong ke dalam ras Mongoloid.
Mereka hidup dari perdagangan yang didukung oleh
kegiatan industri gerabah, pertanian dan penangkapan
ikan (nelayan). Masyarakat budaya Buni ini telah
memiliki stratifikasi sosial dan sistem kepemimpinan
dalam kehidupan bermasyarakat.  Ketika orang-orang
India datang di daerah pantai utara Jawa Barat ini,
masyarakat setempat mulai menyerap unsur-unsur
kebudayaan India dan terjadilah proses akulturasi yang
menyebabkan timbulnya perubahan dalam kehidupan
bermasyarakat. Pengenalan dan penerapan konsep-konsep
baru dalam kehidupan masyarakat ini telah menumbuhkan
dinamika sosial-budaya menuju suatu kehidupan baru
yang berlandaskan unsur-unsur kebudayaan India,
diantaranya terwujud dalam bentuk institusi kerajaan
yang bernama Tarumanagara dan religi baru yaitu agama
Weda dan Buddha. Dalam kehidupan masyarakat di wilayah
ini terlihat adanya kesinambungan dari masa akhir
prasejarah ke masa awal sejarah, khususnya dari akhir
Masa Perundagian ke masa awal Tarumanagara.
Unsur religi dari kebudayaan India yang mula-mula
diserap adalah agama Weda, seperti yang tersirat di
dalam inskripsi-inskripsi yang dikeluarkan oleh
Purnawarman, Raja Tarumanagara. Di samping agama Weda
kemudian muncul pula agama Buddha yang meninggalkan
sisa-sisanya berupa kompleks percandian di kawasan
situs Batujaya. Agama Buddha yang berkembang di daerah
pantai utara Jawa Barat ini bercorak Mahayana.
Kompleks percandian agama Buddha di Batujaya ini
mempunyai ciri yang sangat menonjol, yaitu telah
menggunakan bahan bangunan berupa bata dan lepa stuko.
Penggunaan bata dan lepa stuko pada percandian di
Batujaya ini menandai pula tingkat perkembangan
teknologi bangunan yang telah dicapai pada waktu itu.
Gaya seni hias dan seni arcanya memperlihatkan cirri
gaya seni Nalanda yang telah dipengaruhi oleh gaya
seni Gandhara. Penemuan inskripsi-inskripsi di
kompleks pecandian Batujaya yang telah menggunakan
aksara Palawa dan Sanskerta, walaupun masih terbatas
dalam kegiatan religi, telah menandai munculnya
tradisi budaya bertulis (literate culture), suatu
babakan baru dalam kehidupan budaya masyarakat
setempat.

Dalam penelitian ini dikemukakan pula beberapa
kesimpulan lain yang berkenaan dengan  perkembangan
sejarah di wilayah  ini, yaitu invasi Sriwijaya ke
Bhumijawa (yang tidak lain adalah kerajaan
Tarumanagara) menjelang akhir abad ke-7. Invasi
Sriwijaya ke Tarumanagara ini telah membawa pula
pengaruh baru terhadap perkembangan politik, religi
dan kesenian di Tarumanagara, khususnya di daerah
pantai utara Jawa Barat. Berdasarkan pertanggalan C14
(radiocarbon dating) dan pertanggalan relatif yang
diperoleh berdasarkan analisis terhadap
tinggalan-tinggalan yang ada, kompleks percandiakan di
kawasan situs Batujaya berasal dari  masa sekitar abad
ke-6 dan ke-7 dan berkembang terus hingga akhir abad
ke-10.




















      
____________________________________________________________________________________
Be a better sports nut!  Let your teams follow you 
with Yahoo Mobile. Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ

Kirim email ke