salam, 

Sepekan ini saya dua kali menulis soal Soeharto.
Pertama yang dimuat di Republika sehari setelah
meninggalnya ybs. Kedua yang ada di bawah ini,
disiakan radio Australia. Bila ada teman yang
menganggap saya seorang Soehartois setelah membaca
tulisan ini, jujur, saya tak akan berkomentar apappun.

Nuhun, 

Darmawan Sepriyossa 


Setelah Kematian Pertama

Konon, beberapa hari setelah Mao Zedong wafat, bumi
Cina diguncang gempa. Beberapa saat setelah Nehru
berpulang, Sungai Gangga meradang meluap. 

Takhayul memang tak henti berbisik ada kaitan erat
antara alam dan penguasa. Antara Bumi dan orang besar.

Tidak salah kalau orang Jawa yang berciri tradisional
dan berkebudayaan feodal itu selalu mengaitkan
penguasa dengan alam. Lihat saja sebutan-sebutan yang
dahsyat mereka sematkan, Mangku Bhumi, Mangku Alam,
Paku Alam.

Akan halnya Pak Harto, orang yang memimpin Indonesia
lebih dari tiga dasawarsa, sahabat saya yang
sebenarnya lulusan sebuah perguruan tinggi Amerika,
percaya terjadinya hal serupa. Ia yakin, angkasa
Jakarta yang pekat digayuti awan hitam sejak Sabtu
pekan lalu pun, tak lain dari pertanda. Ahad itu, di
hari kematian Pak Harto, di sekeliling Jakarta dan
Solo hujan memang mengguyur deras. 

Benarkah? Tentu saja tidak ada kepedulian kita untuk
memperdebatkannya. Yang perlu kita lakukan saat ini,
tak lain kecuali mengambil pelajaran dari kehidupan
yang baru saja ditamatkan Pak Harto. Pelajaran sejak
awal kehidupan, riwayat perjuangan, masa-masa
pengabdian, hingga akhir hayat yang ternyata harus
begitu kontroversial. 

Di ceruk hati terdalam, saya sebenarnya percaya,
kehidupan seorang besar seperti Pak Harto telah
berakhir satu dasawarsa lalu. Saya juga yakin, Pak
Harto mengerti benar soal itu. Selama sepuluh tahun
terakhir ini, siapa dapat menafikan betapa tidak
acuhnya Harto terhadap sekeliling. 

Selama 10 tahun, tak pernah sekalipun ia mencoba
membantah berbagai hujatan yang tertuju ke arahnya. Ia
tidak alpa menyimak hujatan itu, karena di lima tahun
pertamanya, sebagaimana dinyatakan sekretaris yang
selalu mendampinginya yang telah lebih dulu berpulang,
almarhum Saadillah Mursjid, Pak Harto tak pernah
luput membaca koran pagi. Kita tahu, lima tahun
pertama sejak 1998, tahun kejatuhan Pak Harto,
koran-koran kita selalu dipenuhi soal-soal seperti
itu. 

Keyakinan Soeharto soal akhir hidup yang harus
dijalaninya juga tersirat kuat dari betapa ia seolah
menyingkir dari kehidupan. Kita tahu dia kecewa,
karena pada saat-saat memerlukan seorang kawan di
tengah kekalutan Indonesia saat itu, ia justru
ditinggal sepi seorang diri. Ditinggal, bahkan oleh
mereka yang di akhir kekuasaannya begitu ia
anak-emaskan. 

Kita tahu, pada Mei 1998 itu Soeharto begitu syok. Ada
belasan menteri mengundurkan diri, termasuk seorang
pembantu yang selalu menyebut Soeharto sebagai guru
besar politik dia. Sikap yang otomatis menjadikan
Soeharto sendirian sebagai sasaran kemarahan. Saat
itu, batin Soeharto barangkali layaknya Julius Caesar
saat ditikam keponakannya. “Ternyata kamu juga,
Brutus?” 

Seingat saya selama pergaulan dalam rangka tugas
jurnalistik dengan keluarga Cendana usai lengser, di
kalangan keluarga, beberapa nama mantan pembantu Pak
Harto memang mendapat julukan seperti itu. 

Luka karena merasa ditinggalkan sendiri menanggung
beban berat itulah tampaknya, yang membuat Soeharto
lalu suka rela menyingkir dari kehidupan, menjalani
sepa sepi tanpa konco lan kanthi . Satu dua kali kita
menerima lambaian tangannya di televisi, saat kamera
tak jemu menangkapnya di ruas-ruas koridor menuju atau
pulang dari rumah sakit. Tapi tak lebih dari itu. 

Mungkin saja Pak Harto tak pernah membaca sajak
penyair Amerika, Dylan Thomas. Tapi dia memahami hidup
serupa sang penyair. “After the first death, there is
no other. Setelah kematian pertama, tak ada lagi yang
lain…

Pada tahun 1998 itulah sebenarnya kematian telah
menjemput Pak Harto. Lalu satu dasawarsa kemudian dia
diam. Kediaman yang disengaja, yang difungsikannya
untuk membiarkan kepulan debu dari pilar-pilar roboh
yang dia bangun itu perlahan mengendap di Bumi.
Memberi kita semua saat untuk tenang, mengaca dan
membandingkan. 

Kita tahu saat ini, saat ia mengakhiri kehidupannya,
ternyata orang yang dinista sekian banyak warga itu
juga masih dicintai sekian juta rakyat Indonesia
lainnya. Sejak Cendana hingga Giribangun, pengawalan
ketat aparat tak mampu membendung antusias warga.
Segala kecaman mereka yang memilih menunda tata krama,
tak sanggup menahan derasnya tangisan warga. Kita
saksikan itu di setiap layar televisi apapun yang kita
pirsa. 

Barangkali juga, diam satu dasawarsa itu dilakukan Pak
Harto agar kita semua bisa arif menentukan posisinya
dalam sejarah. Padahal kita tahu, bila ia mau, selama
sepuluh tahun ini, tak kurang-kurangnya layar
televisi, halaman koran dan majalah akan bersedia
menyiapkan ruang untuknya. 

Kini, setelah gumpal tanah terakhir menutup jasadnya,
tampaknya ia hanya mau berkata sebagaimana ditulis
William Shakespeare dalam kisah Othello.

“Bicaralah tentang diriku sebagaimana diriku,
Tak ada yang diperlunak,
Atau dengan rasa dengki, menginjak-injak”
@




      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke