Lah tong sieun disebat itu ieu..bebas..wae..tulis anu aya dina hate...Mun aya nu nuduh nulis Soeharto pro Soehato..nulis Mao Zedong...nulis Condoliza Rice pro Condoliza Rice...wah...komentator kedah nyirekem mikiran kumaha komentarna kanggo anu nulis Sajarahnya...nyerat saha wae tea...kolumnis nyerat saha wae.....
On 1/31/08, jaka ekalaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > salam, > > Sepekan ini saya dua kali menulis soal Soeharto. > Pertama yang dimuat di Republika sehari setelah > meninggalnya ybs. Kedua yang ada di bawah ini, > disiakan radio Australia. Bila ada teman yang > menganggap saya seorang Soehartois setelah membaca > tulisan ini, jujur, saya tak akan berkomentar apappun. > > Nuhun, > > Darmawan Sepriyossa > > Setelah Kematian Pertama > > Konon, beberapa hari setelah Mao Zedong wafat, bumi > Cina diguncang gempa. Beberapa saat setelah Nehru > berpulang, Sungai Gangga meradang meluap. > > Takhayul memang tak henti berbisik ada kaitan erat > antara alam dan penguasa. Antara Bumi dan orang besar. > > Tidak salah kalau orang Jawa yang berciri tradisional > dan berkebudayaan feodal itu selalu mengaitkan > penguasa dengan alam. Lihat saja sebutan-sebutan yang > dahsyat mereka sematkan, Mangku Bhumi, Mangku Alam, > Paku Alam. > > Akan halnya Pak Harto, orang yang memimpin Indonesia > lebih dari tiga dasawarsa, sahabat saya yang > sebenarnya lulusan sebuah perguruan tinggi Amerika, > percaya terjadinya hal serupa. Ia yakin, angkasa > Jakarta yang pekat digayuti awan hitam sejak Sabtu > pekan lalu pun, tak lain dari pertanda. Ahad itu, di > hari kematian Pak Harto, di sekeliling Jakarta dan > Solo hujan memang mengguyur deras. > > Benarkah? Tentu saja tidak ada kepedulian kita untuk > memperdebatkannya. Yang perlu kita lakukan saat ini, > tak lain kecuali mengambil pelajaran dari kehidupan > yang baru saja ditamatkan Pak Harto. Pelajaran sejak > awal kehidupan, riwayat perjuangan, masa-masa > pengabdian, hingga akhir hayat yang ternyata harus > begitu kontroversial. > > Di ceruk hati terdalam, saya sebenarnya percaya, > kehidupan seorang besar seperti Pak Harto telah > berakhir satu dasawarsa lalu. Saya juga yakin, Pak > Harto mengerti benar soal itu. Selama sepuluh tahun > terakhir ini, siapa dapat menafikan betapa tidak > acuhnya Harto terhadap sekeliling. > > Selama 10 tahun, tak pernah sekalipun ia mencoba > membantah berbagai hujatan yang tertuju ke arahnya. Ia > tidak alpa menyimak hujatan itu, karena di lima tahun > pertamanya, sebagaimana dinyatakan sekretaris yang > selalu mendampinginya yang telah lebih dulu berpulang, > almarhum Saadillah Mursjid, Pak Harto tak pernah > luput membaca koran pagi. Kita tahu, lima tahun > pertama sejak 1998, tahun kejatuhan Pak Harto, > koran-koran kita selalu dipenuhi soal-soal seperti > itu. > > Keyakinan Soeharto soal akhir hidup yang harus > dijalaninya juga tersirat kuat dari betapa ia seolah > menyingkir dari kehidupan. Kita tahu dia kecewa, > karena pada saat-saat memerlukan seorang kawan di > tengah kekalutan Indonesia saat itu, ia justru > ditinggal sepi seorang diri. Ditinggal, bahkan oleh > mereka yang di akhir kekuasaannya begitu ia > anak-emaskan. > > Kita tahu, pada Mei 1998 itu Soeharto begitu syok. Ada > belasan menteri mengundurkan diri, termasuk seorang > pembantu yang selalu menyebut Soeharto sebagai guru > besar politik dia. Sikap yang otomatis menjadikan > Soeharto sendirian sebagai sasaran kemarahan. Saat > itu, batin Soeharto barangkali layaknya Julius Caesar > saat ditikam keponakannya. "Ternyata kamu juga, > Brutus?" > > Seingat saya selama pergaulan dalam rangka tugas > jurnalistik dengan keluarga Cendana usai lengser, di > kalangan keluarga, beberapa nama mantan pembantu Pak > Harto memang mendapat julukan seperti itu. > > Luka karena merasa ditinggalkan sendiri menanggung > beban berat itulah tampaknya, yang membuat Soeharto > lalu suka rela menyingkir dari kehidupan, menjalani > sepa sepi tanpa konco lan kanthi . Satu dua kali kita > menerima lambaian tangannya di televisi, saat kamera > tak jemu menangkapnya di ruas-ruas koridor menuju atau > pulang dari rumah sakit. Tapi tak lebih dari itu. > > Mungkin saja Pak Harto tak pernah membaca sajak > penyair Amerika, Dylan Thomas. Tapi dia memahami hidup > serupa sang penyair. "After the first death, there is > no other. Setelah kematian pertama, tak ada lagi yang > lain… > > Pada tahun 1998 itulah sebenarnya kematian telah > menjemput Pak Harto. Lalu satu dasawarsa kemudian dia > diam. Kediaman yang disengaja, yang difungsikannya > untuk membiarkan kepulan debu dari pilar-pilar roboh > yang dia bangun itu perlahan mengendap di Bumi. > Memberi kita semua saat untuk tenang, mengaca dan > membandingkan. > > Kita tahu saat ini, saat ia mengakhiri kehidupannya, > ternyata orang yang dinista sekian banyak warga itu > juga masih dicintai sekian juta rakyat Indonesia > lainnya. Sejak Cendana hingga Giribangun, pengawalan > ketat aparat tak mampu membendung antusias warga. > Segala kecaman mereka yang memilih menunda tata krama, > tak sanggup menahan derasnya tangisan warga. Kita > saksikan itu di setiap layar televisi apapun yang kita > pirsa. > > Barangkali juga, diam satu dasawarsa itu dilakukan Pak > Harto agar kita semua bisa arif menentukan posisinya > dalam sejarah. Padahal kita tahu, bila ia mau, selama > sepuluh tahun ini, tak kurang-kurangnya layar > televisi, halaman koran dan majalah akan bersedia > menyiapkan ruang untuknya. > > Kini, setelah gumpal tanah terakhir menutup jasadnya, > tampaknya ia hanya mau berkata sebagaimana ditulis > William Shakespeare dalam kisah Othello. > > "Bicaralah tentang diriku sebagaimana diriku, > Tak ada yang diperlunak, > Atau dengan rasa dengki, menginjak-injak" > @ > > __________________________________________________________ > Never miss a thing. Make Yahoo your home page. > http://www.yahoo.com/r/hs > >

