Baraya,

Terang Gatot? sanes nami jalmi ieu mah...tapi nami katuangan.
Raos rasana, didamel tina sampeu, kenyil-kenyil (kenyal) asin, dipurulukan ku 
parud kalapa. 
Wartosna aya dina PR dinten ayeuna. Nyanggakeun.

ro2.

Camilan Khas Itu Disebut "Gatot"

ORANG Cipongkor menyebutnya gatot. Eitt...! Ini bukan nama orang, melainkan 
camilan khas masyarakat setempat, khususnya di Desa Sukamulya, yang terbuat 
dari ubi kayu. Syahdan, terciptanya camilan itu bermula dari kreativitas 
masyarakat pada masa penjajahan Jepang yang serbasusah.

"Ya, begitulah. Beras enggak ada, apa-apa enggak ada. Sebagai pengganti nasi, 
warga memanfaatkan apa saja yang ada di sini. Tapi, mayoritas terbuat dari 
singkong. Soalnya, kebetulan, banyak yang bertanam singkong, dari dulu," kata 
Usman (56), warga setempat.

Ia menuturkan, singkong dijadikan beraneka ragam makanan. Salah satunya, gatot 
itu tadi. Jenis makanan lain yang diciptakan warga adalah awug gaplek dan 
geong. "Gatot, pada waktu itu, bisa dikatakan sebagai makanan utama pengganti 
nasi. Sementara itu, awug gaplek dan geong jadi semacam makanan ringan waktu 
santai," katanya.

Gatot dibuat dari singkong mentah. Singkong dipotong kecil-kecil seukuran jari 
kelingking. "Lalu, dibiarkan saja di ruang terbuka, kapoe... kaibun, selama 
seminggu sehingga warnanya menjadi hitam," ujar Usman.

Selanjutnya, bahan baku gatot dijemur lagi selama sehari. Setelah itu, direndam 
dan dicuci. Proses berikutnya, bahan dikukus hingga lembut. "Setelah matang, 
ditaburi garam dan parutan kelapa. Beginilah jadinya. Rasanya asin, gurih, dan 
kenyal-kenyal," ucapnya.

Menurut A. Ramli (52), gatot masih diproduksi warga setempat, terutama ketika 
musim paceklik tiba. Hanya, kuantitasnya tak sebanyak dulu. "Mungkin hanya 
satu-dua yang bikin," katanya.

**

Di masa perjuangan, wilayah Cipongkor bisa dikatakan salah satu basis para 
pejuang. Soalnya, kondisi geografis daerah itu mumpuni. Dilingkungi sejumlah 
bukit (pasir -red.), seperti Pasir Gombong, Pasir Nanggor, Pasir Kancahnangkub, 
Pasir Kolotok, Pasir Cikabuyutan, dan Pasir Cikamuning. 

Salah satu bukti adalah dibangunnya tugu di atas Pasir Kentit Kp. Cipari Girang 
Desa Cijambu Kec. Cipongkor Kab. Bandung Barat. Tugu yang diberi nama Tugu 
Peringatan Perlawanan Rakyat Cipongkor itu diresmikan Bupati Bandung H. Sani 
Lupias Abdurrachman, 20 Januari 1984.

Di bukit itu, sedikitnya 40 warga dibantai penjajah Belanda, suatu hari di 
tahun 1947. "Mereka datang pagi-pagi sekali dan menanyakan keberadaan 
'pelopor'. Orang-orang yang dicurigai langsung ditembak. Seingat saya, lebih 
dari 40 orang ditembak," ujar Sahmad (72), saksi mata, ketika ditemui di 
kediamannya. (Hazmirullah/"PR")***

Kirim email ke