Si Gatot hideung..dikincaan..kade weh sampeu na ulah sampeu racun...pait......
On 2/19/08, Roro Rohmah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Baraya, > > Terang Gatot? sanes nami jalmi ieu mah...tapi nami katuangan. > Raos rasana, didamel tina sampeu, kenyil-kenyil (kenyal) asin, dipurulukan > ku parud kalapa. > Wartosna aya dina PR dinten ayeuna. Nyanggakeun. > > ro2. > ** > *Camilan Khas Itu Disebut "Gatot"* > > ORANG Cipongkor menyebutnya gatot. Eitt...! Ini bukan nama orang, > melainkan camilan khas masyarakat setempat, khususnya di Desa Sukamulya, > yang terbuat dari ubi kayu. Syahdan, terciptanya camilan itu bermula dari > kreativitas masyarakat pada masa penjajahan Jepang yang serbasusah. > > "Ya, begitulah. Beras enggak ada, apa-apa enggak ada. Sebagai pengganti > nasi, warga memanfaatkan apa saja yang ada di sini. Tapi, mayoritas terbuat > dari singkong. Soalnya, kebetulan, banyak yang bertanam singkong, dari > dulu," kata Usman (56), warga setempat. > > Ia menuturkan, singkong dijadikan beraneka ragam makanan. Salah satunya, > gatot itu tadi. Jenis makanan lain yang diciptakan warga adalah awug gaplek > dan geong. "Gatot, pada waktu itu, bisa dikatakan sebagai makanan utama > pengganti nasi. Sementara itu, awug gaplek dan geong jadi semacam makanan > ringan waktu santai," katanya. > > Gatot dibuat dari singkong mentah. Singkong dipotong kecil-kecil seukuran > jari kelingking. "Lalu, dibiarkan saja di ruang terbuka, kapoe... kaibun, > selama seminggu sehingga warnanya menjadi hitam," ujar Usman. > > Selanjutnya, bahan baku gatot dijemur lagi selama sehari. Setelah itu, > direndam dan dicuci. Proses berikutnya, bahan dikukus hingga lembut. > "Setelah matang, ditaburi garam dan parutan kelapa. Beginilah jadinya. > Rasanya asin, gurih, dan kenyal-kenyal," ucapnya. > > Menurut A. Ramli (52), gatot masih diproduksi warga setempat, terutama > ketika musim paceklik tiba. Hanya, kuantitasnya tak sebanyak dulu. "Mungkin > hanya satu-dua yang bikin," katanya. > > ** > > Di masa perjuangan, wilayah Cipongkor bisa dikatakan salah satu basis para > pejuang. Soalnya, kondisi geografis daerah itu mumpuni. Dilingkungi sejumlah > bukit (pasir -red.), seperti Pasir Gombong, Pasir Nanggor, Pasir > Kancahnangkub, Pasir Kolotok, Pasir Cikabuyutan, dan Pasir Cikamuning. > > Salah satu bukti adalah dibangunnya tugu di atas Pasir Kentit Kp. Cipari > Girang Desa Cijambu Kec. Cipongkor Kab. Bandung Barat. Tugu yang diberi nama > Tugu Peringatan Perlawanan Rakyat Cipongkor itu diresmikan Bupati Bandung H. > Sani Lupias Abdurrachman, 20 Januari 1984. > > Di bukit itu, sedikitnya 40 warga dibantai penjajah Belanda, suatu hari di > tahun 1947. "Mereka datang pagi-pagi sekali dan menanyakan keberadaan > 'pelopor'. Orang-orang yang dicurigai langsung ditembak. Seingat saya, lebih > dari 40 orang ditembak," ujar Sahmad (72), saksi mata, ketika ditemui di > kediamannya. (Hazmirullah/"PR")*** > > >

