Pembuatan Film "Perang Bubat" Gagal Dibiayai APBD
Selasa, 11/05/2010 - 20:38

BANDUNG, (PRLM).- Pengetahuan pengambil kebijakan di jajaran eksekutif
maupun legislatif masih memandang seni perfilman sebatas hiburan. Hal
ini terbukti dengan tidak terealisasinya pembuatan film "Perang Bubat"
yang semula akan dibuat dengan anggaran dari APBD.

“Bukan masalah nilainya yang mencapai Rp 6 miliar, tapi pembahasan
lebih menitikberatkan pada besarnya masalah anggaran dan sisi
hiburannya. Padahal ada banyak nilai lain yang didapat bilamana film
tersebut terealisasi, meski film yang dibuat tidak dengan anggaran
sebesar itu,” ujar Undang Ahmad Darsa, salah seorang pembicara Seminar
Dialog Perfilman "Ngaguar Sejarah Jawa Barat dalam Upaya Peningkatan
Perfilman Nasional yang Berbasis Budaya Lokal", bertempat di ruang
rapat Kantor Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat.

Dikatakan Undang, selain potensi SDM sineas yang dimiliki, Jawa Barat
juga banyak memiliki potensi lainnya. “Karenanya, bisa saja film
tersebut dibuat tanpa pembiayaan dari pemerintah daerah, namun
pemerintah daerah memberikan berbagai kemudahan dalam proses produksi
kepada pengusaha yang memproduksi film,” ujar Undang.

Karenanya, Undang berpandangan tidak ada alasan untuk pemerintah
daerah dalam memproduksi film yang bersifat lokal namun hasilnya
menasional. Semisal film Si Kabayan, Sangkuriang dan lainnya.
(A-87/das)***

web: http://www.pikiran-rakyat.com/node/113266

2010/1/6 mh <[email protected]>:
> Perlukah Tragedi Bubat Difilmkan?
>
> Siapa pun, terutama orang Sunda, sepakat bahwa Tragedi Bubat merupakan
> peristiwa sejarah yang sangat menarik, bukan hanya dari sudut pandang
> sejarah, melainkan juga sastra. Apalagi, jika diangkat ke layar lebar,
> lebih seru. Dari sisi sejarah menarik karena faktanya melibatkan dua
> kerajaan besar di nusantara yang berkembang pada abad ke-14, yakni
> Kerajaan Galuh di tatar Sunda dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.
> Dari sudut sastra, peristiwa itu dapat dikemas sedemikian rupa menjadi
> cerita yang menguras emosi, antara percintaan, romantisme, harga diri,
> dan tragedi.
>

Kirim email ke