Bagi orang Indonesia, kisah Mahabharata dan Ramayana adalah bagian dari cerita
wayang yang telah sangat familiar, khususnya di pedesaan Pulau Jawa. Akan
tetapi, siapakah orang yang memperkenalkan kedua epos India tersebut dalam
bentuk komik? Adalah RA Kosasih yang telah berjasa membuat kisah yang "berat"
itu menjadi ringan bagi orang Indonesia, terutama generasi sebelum tahun
1990-an.
RA Kosasih, pria kelahiran Bogor tahun 1919, telah menjadikan kisah yang
sebelumnya eksklusif—karena hanya orang yang terdidik atau kelompok penggemar
wayang yang mengerti tentang Mahabharata—menjadi memasyarakat. Melalui komik
Mahabharata, epos kepahlawanan itu kini menjadi milik semua orang.
Kisah Mahabharata berasal dari India dan konon ditulis oleh Begawan Vyasa sejak
abad ke-4 sebelum Masehi. Dalam perjalanannya kemudian prosa yang berbahasa
Sanskerta itu disalin dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Jawa Kuno. Di
Indonesia, Balai Pustakalah yang pertama kali menerbitkannya dalam bahasa
Indonesia.
Diinspirasi wayang
Melalui Kosasih, epik asli India itu seolah menjadi kisah asli Indonesia karena
dari kostum dan setting cerita dibuat sangat Indonesia. Kosasih mengakui bahwa
penggambaran cerita klasik itu diinspirasi oleh pertunjukan wayang yang sudah
ada. Kegemarannya menonton wayang, khususnya wayang golek, membuatnya mudah
memahami berbagai karakter dalam kisah itu.
Ia mengakui, semua deskripsi tokoh dalam komiknya meniru wayang golek dan
wayang orang yang telah ada. Misalnya saja tokoh Arjuna yang rupawan dan
Rahwana yang menyeramkan dia tiru dari karakter dan penampilan dalam
pertunjukan wayang orang.
Tidak terpikirkan oleh Kosasih sebelumnya bahwa dia sudah menciptakan suatu
media baru bagi kisah Mahabharata dan wayang menjadi sebuah goresan komik yang
dapat dinikmati semua orang. Kisah Mahabharata yang sarat petuah hidup dapat
ditransfer oleh Kosasih dalam pemaparan yang luwes, ringan tanpa menghilangkan
filosofi yang ada di dalamnya.
Jasa terbesar Kosasih adalah membuat kisah Mahabharata yang cukup pelik dalam
prosanya sehingga menjadi mudah dicerna dan ringan dibaca oleh semua lapisan
masyarakat. Jika pertunjukan wayang hanya dinikmati oleh sebagian orang
khususnya di Pulau Jawa, komik Mahabharata membuat penokohan wayang dikenali
oleh masyarakat Indonesia.
Komik wayang ini lahir dari keinginan untuk menjadikan komik sebagai bacaan
yang layak dihadirkan pada masyarakat. Pada awal tahun 1950-an, Indonesia
dibanjiri oleh komik Amerika, meski komikus Indonesia termasuk Kosasih mencoba
membuat komik lokal tetapi masih imitasi komik Amerika. Oleh karena itu,
kalangan pendidik menolak komik, termasuk komik lokal yang dianggap tidak
mendidik dan hanya meniru budaya Barat.
Menghadapi tantangan demikian, Penerbit Melodi dan beberapa komikus Indonesia
saat itu memikirkan sebuah komik yang sarat dengan nilai dan wajah lokal atau
Indonesia. Maka, terpilihlah kisah Ramayana dan Mahabharata yang sudah dianggap
sebagai bagian dari nilai budaya Indonesia. Diadaptasi lewat suguhan wayang
yang lekat dengan budaya asli Indonesia, kini Mahabharata dan Ramayana tampil
dalam format komik.
Selain Kosasih, Johnlo pernah membuat komik wayang berjudul Raden Palasara,
tetapi yang kemudian produktif membuat komik wayang adalah Kosasih. Dalam waktu
yang bersamaan dengan komik Mahabharata, Ardisoma juga membuat komik wayang
dengan gambar yang lebih rinci dan memiliki style.
Namun, komik Kosasih jauh lebih disukai karena gambarnya yang lebih sederhana,
lugu tetapi tetap menarik dan berkesan bagi pembacanya. Selain itu, cara
penyampaian yang gamblang dan mudah dicerna membuat filsafat "berat" yang ada
di dalamnya mudah diserap pembaca.
Munculnya komik wayang pada tahun 1954-1955 ternyata disambut sangat antusias
oleh masyarakat saat itu, hingga menggeser komik Amerika. Bahkan, pasar komik
Amerika di Indonesia hancur dan digantikan oleh komik lokal.
Komik wayang mencapai masa keemasannya hingga tahun 1960-an. Dalam masa
jayanya, komik Mahabharata dicetak sekitar 30.000 setiap pekannya dan
didistribusikan hingga ke luar Jawa. Serial komik Mahabharata diselesaikan oleh
Kosasih dalam waktu dua tahun, karena cerita itu memang sangat panjang.
Pada tahun 1972, penerbit Maranatha Bandung menerbitkan ulang serial
Mahabharata, tetapi tidak menggunakan naskah yang lama, karena pemilik hak
cipta, yaitu Penerbit Melodi, tidak ingin menjual masternya.
Oleh karena itu, Kosasih membuat ulang Mahabharata di atas kertas kalkir agar
dapat langsung dicetak di pelat. Kelemahannya adalah detailnya tidak sebagus
yang pertama ketika dibuat di kertas gambar. Hingga tahun 1980-an peredaran
komik wayang masih cukup baik, sampai akhirnya masuk komik Jepang.
Pada akhir 1990-an Maranatha masih menerbitkan komik wayang, tetapi baik jumlah
maupun peredarannya tidak sebagus awalnya.
Pada awal tahun 2000, penerbit Elex Media Komputindo menerbitkan ulang semua
komik wayang karya Kosasih dalam format kecil seperti umumnya komik terbitan
penerbit ini. Sayangnya, demi alasan ongkos produksi, keindahan gambar Kosasih
tidak tampak lagi di sana, bahkan Seno Gumira Ajidarma menyebutnya sebagai
tidak menghargai karya besar Kosasih.
Bapak Komik Indonesia
Kosasih belajar menggambar secara otodidak. Ia sering kali mengisi waktu
luangnya, baik di rumah maupun di kantor ketika menjadi pegawai pemerintah
waktu itu, dengan menggambar. Pada waktu menjadi pegawai di Kebun Raya Bogor,
Kosasih mendapat tugas menggambar binatang dan tanaman. Dari sinilah hobi
menggambarnya makin berkembang. Dan, ketika pada suatu hari ia membaca lowongan
di iklan kecil, Kosasih pun melamar menjadi komikus pada Penerbit Melodi,
Bandung.
Awalnya, dia mengadaptasi komik Amerika, yaitu Sri Asih yang mirip dengan tokoh
komik Amerika berjudul Wonder Woman. Oleh Marcel Bonnef, peneliti komik
Indonesia, Sri Asih dianggap sebagai penanda munculnya komik Indonesia.
Sebelumnya hanya ada komik strip, sedangkan Sri Asih dicetak dalam bentuk buku.
Bahkan, Kosasih dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia, sebagai pelopor
munculnya komik lokal Indonesia.
Ketika merencanakan membuat komik wayang, Kosasih tidak berpikir bahwa dia
menciptakan sebuah genre baru dalam khazanah budaya Indonesia. Dia
mentransformasikan dua karya budaya yang bernilai tinggi, wayang asli Indonesia
dengan epos terbesar dalam sejarah yaitu Mahabharata, menjadi sebuah komik.
Bagi penggemar komik di masa lalu, nama Kosasih pasti tidak asing lagi karena
dia yang memperkenalkan kisah Mahabharata dengan sangat komunikatif pada
pembaca.
Seperti diakui oleh Seno Gumira Ajidarma bahwa jasa terbesar Kosasih adalah
mentransformasikan nilai filosofis yang berat dalam prosa Mahabharata sehingga
menjadi ringan dan mudah dibaca dalam komik tanpa kehilangan makna, sekaligus
dia sudah membuat ribuan orang mengenal Mahabharata. "Waktu kecil saya jadi
tahu Mahabharata dari komik Kosasih. Saya enggak mungkin mampu baca prosanya
yang setebal kitab suci itu," tutur Seno.
Kosasih juga diakui mampu menampilkan karakter tokoh dalam goresan tangannya.
Ketika ditanya bagaimana dia menghadirkan karakter dalam komiknya, kakek satu
cucu ini menjawab, "Saya hanya mengikuti perasaan saya saja ketika
menggambarkan masing-masing tokoh."
Kosasih mengisahkan, munculnya ide membuat komik wayang karena di satu sisi
pada awal tahun 1950-an banyak yang mengkritik komik itu bersifat
"kebarat-baratan" dan tidak memiliki muatan lokal.
Terinspirasi oleh kisah yang disajikan dalam wayang, pengagum Gatotkaca ini
mengajukan ide membuat komik wayang Mahabharata. Setelah menemukan buku prosa
Mahabharata berbahasa Indonesia, Kosasih memulai kreativitasnya mencipta tokoh
tersebut dalam komik.
Sebelum membuat serial Mahabharata, Kosasih lebih dulu meluncurkan Ramayana
yang mendapat sambutan baik di pasar. Dia akui, komik wayangnya mengambil
Mahabharata versi India, karena itu tidak ada punakawan seperti kisah wayang di
Jawa. Meski demikian, Kosasih tetap mempertimbangkan budaya pembaca Indonesia.
Setelah menyelesaikan Ramayana dan Mahabharata, pada tahun 1970-an Kosasih
membuat komik wayang Bomantara, Parikesit, dan Arjuna Sasrabahu. Ketika pesona
komik wayang mulai pudar, Kosasih membuat komik yang diangkat dari legenda asli
Indonesia, seperti Lutung Kasarung. Hingga tahun 1980-an Kosasih telah
menghasilkan puluhan komik, namun sayangnya saat ini dia tidak ingat lagi angka
pasti komik yang dibuatnya, termasuk honor pertamanya sebagai komikus.
Kemampuan fisiknya telah membatasinya berkarya sehingga sejak tahun 1990
Kosasih sudah tidak membuat komik lagi. "Tangan saya gemetar ketika menggambar.
Kalau dipaksa gambarnya jelek," ujarnya.
harinya-harinya hanya diisi dengan membaca koran dan melakukan aktivitas ringan
di rumah putrinya di wilayah Rempoa, Ciputat.