Salam Kenal juga , mas Ambara ...
Terima Kasih perspektifnya, jadi saya simpulkan, please CMIIW ..
- 'rasa memiliki' seorang pekerja freelance kurang ..
mungkin yang dikhawatirkan pekerja freelancer tadi nggak punya
kesetiaan dan loyalitas dan rasa pengabdian untuk perusahaannya
sebesar kapasitas seorang pekerja In-House .. juga dikhwawatirkan
dia tidak menyumbangkan 'yang terbaik' buat perusahaannya, alias
kerja asal-asalan ..
karenanya perusahaan tidak bisa 'bergantung' pada karyawan 'freelance'
kalau boleh memberikan pendapat saya,
perusahaan tidak harus 'bergantung' kepada freelancernya kan?
IMHO ... perusahaan bagi seorang 'freelancer' mempunyai kekuasaan
yang lebih besar dari sekedar seorang 'bos', perusahaan tempat
seorang freelancer bekerja adalah 'klien' ..
tapi kalau yang saya amati nampaknya kalau untuk organisasi ato perusahaan
besar .. mereka tidak langsung hire seorang 'freelance' .. ini diurusi oleh
biro/agen yang mengurusi masalah itu sendiri .. misal ... ada sebuah
organisasi politik yang ingin membuat websitenya, hiring /choosing freelance
webdesigner/firm lewat biro hukum atau agen publik relation perusahaan
tersebut .. jadi macem 'outsourcing' gitulah .. CMIIW ..
Pengen tau apa pendapat anda mas Ambara :)
Doni Yudono, Editor
+AFs- http://www.toekangweb.or.id +AF0-
Pengamat Web Design
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Netika BerInternet : [EMAIL PROTECTED]