puguuuhhh...padahal syair dan pepatah dari india dan cina justru banyak 
mempengaruhi etos kerja mereka. Syair yang tepat dapat mengajarkan 
kelembutan budi, kecerdasan nurani, membangun jiwa,  mengajak kembali kepada 
kekuatan alam dan bahkan meng-agung-kan SANG PENCIPTA. Memang ada juga syair 
yang membuat kita terlena. Tapi selain itu, syair dapat pula digunakan 
sebagai alat utk mengkomunikasikan suatu pesan. Bukankah ada suatu komunitas 
di Aceh justru dapat selamat dari tsunami dikarenakan mereka mempelajari 
tanda-tanda tsunami melalui syair yang diajarkan turun temurun?....
hikmahnya bagi kita, cobalah berpikir integral-komprehensif. jangan 
memandang sesuatu hanya dari sudut yang kita tahu. padahal mungkin lebih 
banyak sudut yang kita tidak tahu dari pada yang kita tahu??

eiiit....ngomong-ngmong ngahuleung...justru peradaban manusia skrg sedang 
bergerak menuju 'dreamer society' setelah secara berturutan dimulai ; 
phisycal society, industrial society, information society (knowledge based 
economy). Itulah sebabnya perusahaan sekaliber HONDA menggunakan 'power of 
dream' sebagai semboyannya.  Maksudnya dimulai dengan mimpi atau lamunan 
tentang masa depan yang lebih baik, maka diharapkan dapat menimbulkan 
motivasi untuk meraih mimpi tersebut. Itulah kenapa Soekarno berkata tentang 
raih cita-cita setinggi langit dengan maksud; "coba kita punya mimpi maka 
itu artinya kita punya cita-cita, dan kalo punya cita-cita berarti kita 
berusaha mengggapainya".
Atau maksud kang rapi itu BENGONG bukan ngahuleung...atuh eunya kang...ayam 
tetangga saya juga 'game over' gara-gara bengong.
ayam sory.


----- Original Message ----- 
From: "Jaya, Komarudin" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, September 13, 2006 9:29 AM
Subject: RE: [WongBanten] masalah pencantuman title


> cetek amat sih ..
>
>
> -----Original Message-----
> From: M. Rafiudin [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, September 13, 2006 1:06 AM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [WongBanten] masalah pencantuman title
>
>
> Salam kang Gola Gong,
>
> Saya yakin itu hanya perbedaan pola pikir seorang
> pengusaha dan seorang penyair.
>
> Kalau kita mau realistis, sebetulnya yang sekarang
> menikmati "surga" kekayaan Indonesia pada umumnya
> bukanlah Priyayi apalagi Jawara sebagaimana menurut
> kang GG. Tapi kelompok etnis yang populasinya hanya
> 2.5% dari total penduduk Indonesia namun menguasai 60
> - 75% hampir semua sektor ekonomi di Indonesia
> (Richard Mead,Cross Cultural Management. hal.309).
> Saya sama sekali tdk bermaksud mengangkat sentiment
> thdp kelompok etnis tertentu, sekedar membuka fakta
> saja. Kalau mau survey, silahkan kunjungin pameran PPE
> di Kemayoran (biasanya bulan Oktober) dan simpulkan
> sendiri.
>
> Sementara kenyataanya sebagian saudara2 kita terjebak
> dalam lingkaran kemiskinan tanpa ujung : Miskin-->
> kurang akses ke pendidikan dan kesehatan-->tidak
> produktif (pengasilan rendah)-->Miskin ---> dan akan
> begitu seterusnya dari generasi ke generasi.
>
> Mungkin ada baiknya kita "benchmarking" dari kebijakan
> strategis dua raksasa ekonomi dunia saat ini:RRC dan
> India ! Yang punya "pasukan" insinyur dan ekonom :70
> -80% dari total sarjana yang ada di msg2 negara tsb.
> Dan ternyata mereka cukup berhasil baik sbg
> professional maupun entrepreneur dan akhirnya bisa
> memperbaiki kesejahteran banyak orang miskin. Yah
> begitulah kang..Jadi kalau di Banten
> ,khususnya,terlalu banyak penyair emang kurang bagus
> juga. Kasihan! anom keneh seueur teuing ngahuleng
> teh..
>
> Dan kalau boleh saya kasih saran sama kang GG: "Jangan
> kembangkan budaya meminta! Hidup ini hanya untuk
> memberi dan menerima. Hanya orang yang bermental
> pengemislah yang boleh meminta". Punten bilih abdi
> magahan ngojay ka bebek mah..
>
> pamit heula kang!
> rafi
>
>
> --- "Heri Hendrayana H (Golagong)"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>> Saya dengan teman2 RumahDunia bikin bendera Gong
>> Media Cakrawala,
>> dimaksudkan sebagai unit usaha.
>> Lalu bikin BANTEN STAR. Ini juga cara menjaring
>> "umat" baru untuk Rumah
>> Dunia. Selama ini RD identik dengan orang susah.
>> Nah, setelah terpilih 20 finalis, anak2 muda di
>> BANTEN STAR yang ganteng
>> dan cantik diajak kumpul di Rumah Dunia. Mereka
>> tertarik  dan sekarang
>> mereka ikut jadi relawan. Mereka nanti akan jadi
>> "public figure" atau
>> "kehumasan" Rumah Dunia yang mengusung budaya
>> literasi. Mereka juga akan
>> siap menjadi relawan, mengajari anak-anak miskin
>> yang datang ke Rumah
>> Dunia. Mereka akan jadi "etalase" yang otaknya akan
>> kami isi dengan
>> literasi...
>>
>> Lalu, kami mau bikin film SAIJA ADINDA.
>> Crewnya sineas muda Banten yang tergabung di Scene
>> Ten dibawah komando
>> PJ Audio Visual Rumah Dunia, Jack La Mota. Kami udah
>> meyebar hampir
>> seratusan proposal. Tapi, tak satupun yang trtarik.
>> Para kapitalis
>> Jakarta itu lenih suka menyuruh kita jadi operator,
>> yang menjalankan
>> ide-ide massal mereka.
>> Ada produk telekomunikasi, mereka mau ngasih Rp. 1,5
>> jt tapi minta
>> branding di acara. Mereka mau ngasih TV 14 inchi,
>> juga minta branding.
>> Ada yang nyuruh kita jualan produk mereka dan minta
>> branding. Begitulah
>> par pemodal dari Jkt.
>>
>> Justru para pemodal daerah (Banten) yang secara
>> modal terbatas,
>> mendukung kami. Distro 78, gerai pakaian membantu
>> kami 1 jt. Restoran2
>> lokal (ayam bakar ciceuri, Bella resto cafe, pizza
>> steak and italy, s
>> rizky, dan ma haji) mendukung kami berupa konsumsi
>> untuk syuting. Selain
>> itu, tidak ada.
>>
>> Saya coba-coba nyebar sms ke para cagub; TS-Ben,
>> Zul-MH, dan MM. Atut-M,
>> Irsyad-S, saya nggak punya kontaknya. Saya meminta
>> mereka mendukung
>> gerakan budaya literasi lewat film SAIJA ADINDA ini
>> dengan kisaran Rp. 1
>> jt - 5 jt.
>> TS menjawab, "Saija Adinda yang ditulis oleh Max
>> Havelaar sudah melukai
>> warga Lebak. Itu jawaban khas priyayi. Saya jawab,
>> "Adipati Kartanegara
>> di Max Havelaatr tak ubahnya seperti jawara Banten
>> masa kini, menindas
>> rakyat."
>>
>> Tiba-tiba hp saya berdering, "Saya, Zuel! Ana suka
>> baca novel-noveng
>> antum!"
>> Saya tanya, "Zuel mana nih?' Dia tertawa, "Zuel
>> cagub Banten."
>> Hahaha....
>> Dan dia nyumbang secara Pribadi Rp. 1 jt.
>> Alhamdulillah...
>>
>> Tetap semangat
>> gg
>>
>>
>>
>> -----Original Message-----
>> From: [email protected]
>> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
>> Behalf Of Tedi
>> Sent: Monday, September 11, 2006 6:40 PM
>> To: [email protected]
>> Subject: [WongBanten] masalah pencantuman title
>>
>> On 9/11/06, M. Rafiudin <[EMAIL PROTECTED]>
>> wrote:
>> > Di gang depan rumah saya ada tulisan " SELAMAT
>> ATAS
>> > DEKLARASI CAGUB DR. ZULKIFLIMANSYAH SE.MM.MBA DAN
>> > ...... (kutang lebih spt itulah bunyinya). Kata
>> teman
>> > saya yg orang Solo : "Ndeso banget tuh orang".
>> Kata
>> > orang Rangkas mah : "Dusun jasa Dak !!
>> >
>> > Hare gene masih gak malu tuh pemer titel ???!!!
>> Orang
>> > PKS kan yang paling rajin pakai jargon2 agama
>> kalau
>> > ngomong ,harusnya bisa lebih low profile dong ???
>>
>>
>> menurut saya tidak perlulah terlalu ekstrem melarang
>> pencantuman title
>> .. normal-normal aja orang nulis titelnya .. selama
>> memang dia punya
>> title tersebut. yg bermasalah itu kalo orang marah
>> seandainya orang
>> lain lupa menyebut titlenya atau titlenya itu
>> menjadi kebanggaan
>> satu2nya dia hehe lebih parah lagi mencantumkan
>> title yg bukan
>> miliknya.
>>
>> lumrah juga menurut saya pak tryana di semua (?)
>> spanduknya menulis
>> 'gelarnya' sebagai pendiri banten .. bu atut dimana
>> nulis gelar nya
>> sebagai plt ... wajar2 saja sbg salah satu bentuk
>> memperkenalkan diri
>> ke calon pemilih (yg nggak wajar itu kampanye atas
>> biaya dinasnya)
>>
>> kalo ngobrol dg pak zul ini ... belum pernah saya
>> melihat dia
>> membanggakan titelnya ... biasa aja. kalo kirim
>> email juga dibawahnya
>> hanya dia tulis 'zul' ... tanpa gelar etc. begitu di
>> header emailnya
>> tanpa embel2 gelar etc. kalo kenalan sama orang juga
>> dia hanya bilang
>> Zulkieflimansyah bukan 'nama saya Doktor
>> Zulkieflimasyah'
>>
>> masalah jargon agama .. selama bukan tujuan yg jelek
>> apa salahnya ..
>> pak tryana dimana2 spanduknya pakai hal itu menurut
>> saya positif2 aja
>> memberi pesan baik ke masyarakat. masak mas Rafiudin
>> sebagai pendukung
>> beliau menganggap itu negatif??
>> yg masalah kalao orang menjadikannya sebatas slogan
>> tapi jauh dari
>> kenyataan. selama tidak ada bukti kebalikannya ..
>> IMHO biasa ajalah
>> dan positif aja.
>>
>> > apalagi titel akedemis gak jamin orang bisa jadi
>> > pemimpin dan manager yg baik gitu loh !!
>> >
>>
>> memang begitu.
>>
>>
>> tedi - tangerang
>>
>>
>> Tetap Semangat Mencintai Banten!
>> Yahoo! Groups Links
>>
>>
>>
>>     (Yahoo! ID required)
>>
>>     mailto:[EMAIL PROTECTED]
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>
> Tetap Semangat Mencintai Banten!
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Tetap Semangat Mencintai Banten!
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
> 



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke