orat-oret nya menarik bung jaya. saya menyangka metode pilkada di seluruh daerah di indonesia nampaknya sudah seragam. cuma, kadang, saya melihat penyakit generalisasi (copy paste) yang akut dalam memetakan atau setidaknya mengetahui kondisi daerah yang sangat beragam itu. memanfaatkan koalisi partai memang efektif. analisis jaya sangat familier dengan metode yang pernah saya ikuti di tim sukses. Ada tiga hal yang menarik 1. adanya koalisi partai besar 2. sistem masyarakat patronklien (bukan feodal!) 3. konservatisme sistem
ketiga hal itulah yang membuat saya semakin yakin bahwa pilkada atau sistem regulasi dalam prosedural demokrasi hanya untuk mengukuhkan secara formal dominasi kelas (penguasa). sehingga pilkada semata hanya dilihat sebagai upaya filter bagi kelas dominan yang tidak lagi produktif dalam mempertahankan dominasi kekuasaan. saya pikir, ini proses yang alamiah. cuma sekarang lebih canggih selubungnya.maka tak heran, keretakan atau friksi internal selalu ada yang berkaitan dengan perebutan akses terhadap surplus produksi. selubungnya bisa perdebatan ideologis, dst, yang berupaya mencitrakan bahwa konflik yang terjadi ditataran yang sangat subtantif. yah, bisa jadi malah kebalikannya. tapi saya melihat problem partai besar dengan sistem internal yang tidak berbasis kader, ya seperti itu tidak jauh dari urusan duit. jarang sekali keretakan besar di partai besar yang berbasis ekonomi bersumber pada hal yang ilmiah. kecuali jika budaya ilmiah menjadi nafas partai. tapi saya meragukannya juga. tengoklah media palmerah, itu saja untuk ukuran media yang perdebatan ilmiah sudah menjadi nafasnya, kebijakan redaksinya tetap kalah kok dgn kepentingan bos-bosnya. terlepas dari itu, saya ingin mengajak anda untuk melihat arti penting dari koalisi partai besar ini. pertama, saya tetap yakin bahwa pilkada gubernur ini tidak memiliki signifikansi dibanding pilkada bupati. syaratnya telah terpenuhi bahwa perimbangan kelas dominan telah tercapai, hal ini ditandai dengan bagi-bagi kue berlangsung mulus di tiap2 kabupaten. maka, saya melihat posisi gubernur hanya sebagai operator politik wilayah. bukan distributor, sekali lagi hanya sekadar operator!!! mengapa tidak distributor? karena perimbangan telah tercapai itu tadi. serang dikuasai golkar, pandeglang pdip, dst. masalahnya, saling hubung kepentingan ekonomi elit melintasi batas-batas kabupaten, sehingga butuh operator, dan kekuasaan operator tidaklah penting. operator harus menghubungi "pemilik saham" lain untuk menditribusikannya. kedua, saya sepakat dengan jaya ada kemungkinan friksi internal di dalam partai-partai tersebut. celaka jika friksi itu berakibat pada penggerogotan basis surplus dan massa partai. sepengetahuan saya, tim sukses biasanya sudah mempunyai kalkulasi awal (seharusnya sdh akurat) 6 bln sebelum pilkada dilaksanakan. apalagi kalo incumbent nyalon lagi, data itu gampang dicari. setidaknya, dalam hitungan politik, kedua partai mempunyai problem yang sama, yakni semakin terancamnya arus surplus mereka dengan hadirnya pemain2 baru diluar kubu kedua partai yg berdampak larinya massa partai atas kekecewaan dengan distribusi sosial-ekonomi selama ini. ini masih asumsi saya, tapi hadirnya deklarasi cilangkahan bisa menjadi penanda ada "pemain" baru! satu pertanyaan lagi yang menarik saya adalah apakah atut hanya boneka bapaknya? menurut saya bukan, maksudnya bukan boneka bapaknya, tapi bonekanya kapitalisme..hehehehe. mudah2an saya keliru! sekadar intipan yang dangkal dari seorang juru potret komersil seperti saya. yang selalu menunggu dengan harap musim kawin datang.semoga menjadi kewajaran jikalau intipin saya keliru. sound! --- gongmedia cakrawala <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Selamat jadi pemerhati politik, Jack La mota. para > buruh pabrik kayk Jack ini, saya pikir bisa > meningkatkan produktivitas. bagi saya, siapa pun > gubenurnya, yang penting milisnya wongbanten. > hehehe, nggak nyambung. > > saya sendiri melihat pasangan Bony Tryana dan Soni > Harseno perlu diusung untuk pilkadal 2016. Secar > historis, Bony Tryna tidak ada hubungannya dengan > Tryana Syamun dan Soni Harseno tidak ada hubungannya > dengan merek televisi. Jadi, mereka terbebas dari > syakwasangka sebagai antek kapitalisme. > > Hanya saja, dari semua para cagub, mereka tidak > serius menangani perpustakaan dan ekonomo > kebudayaan. Hehehe.... > > semoga kita tidak sedang kena radang hati. > gg > > Jaya Komarudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Oret-oret Memetakan kekuatan & Kelemahan dari > calon2 yang ada. Analisa dari rakyat biasa. > 1. Atut and the partner, > > Strengthen : > 1. Boleh juga Atut and the gank sukses melobi 6 > partai. Gak Tanggung2 Golkar dan PDIP, 2 partai > besar "Jadul" (jaman dulu) dengan suara bulet > mendukung. Sisanya, partai "ecek2" yang belum tentu > lolos ke pemilu 2009. entah iming2 apa yang > ditawarkan ke pentolan partai tersebut. Saya tidak > mau menyinggung bagaimana dan dengan apa ia bisa > melobi. Biar saja, toh kenyataannya memang seperti > itu. Jika mesin politik ke 6 partai ini bekerja > dengan sempurna, kemenangan sudah ada dalam > genggaman. > 2. itu dari jalur politik, kekuatan lainnya adalah > Posisi birokrat yang ia sandang sbg Plt. Tim media > Atut tahu betul memanfaatkan pos-pos yang sifatnya > layanan publik. Walaupun 'bermain' agak vulgar > dengan menempelkan setiap foto di setiap iklan > layanan masyarakat yang tanpa pandang bulu apa isi > iklan tersebut. sebenarnya lucu juga sih saat kita > lihat iklan PIN, NARKOBA, dll fotonya itu-itu juga. > Tapi sudahlah gak perlu dibahas. wasting time!. > 3. Selanjutnya adalah Kekuatan jalur tradisional > kejawaraan. Kentalnya budaya ewuh pakewuh di lini > ini menjadikan lini andalan bagi kubu Atut. sebagai > putri dari tokoh 'besar' seni beladiri, lini ini > cukup efektif saat menjelang pencoblosan. Di daerah > pelosok, Jawara cukup berperan memberikan andil > dalam pemenangan suara apalagi jika Jawara plus > kepala desa. Sempurna sudah. > 4. Berikutnya adalah, para mitra bisnis yang saat > ini sudah menikmati hubungan simbiosis mutualisme > dengan kekuasaan Atut. Mereka pun tentu ikut > berperan menjadi mesin politik. Siapa yang gak takut > kehilangan tender lima tahun ke depan. Yang nilainya > cukup bikin ngiler. > 5. Juga tidak ketinggalan, dijalur internal > pemerintahan. Katakanlah ini operasi sembunyi2, tapi > perubahan struktur di pemprov kemarin memang > menimbulkan tanda tanya oleh berbagai pihak. Ada > indikasi sebagai bekal pertarungan untuk Pilkadal. > Fungsi mereka tidak perlu dibahas disini. > 6. Keberadaan Atut dibeberapa organisasi juga ia > manfaatkan untuk mendongkrak popularitas serta > membangun image. Misalnya Sebagai ketua BNN propinsi > Banten yang iklannya saat ini santer di berbagai > radio. 'begitulah pesan ibu ratu chosiyah, sya lala > lala" begitu kira-kira bunyi salah satu lirik > dangdutnya. > 7. Tinggal sisanya, majlis taklim para ibu yang > di'bom'. Seperti kang Boyke bilang, "sudah turun > sekarang mah, dari 15 rb ke 5 rb". He3x > > Jadi jika melihat kekuatan Atut dan Masduki, kalau > melihat syarat sah nya mah sudah terpenuhi untuk > meraih kembali posisi Banten 1. Tinggal kita lihat > saja nanti. > > Weakness : > 1. Kuatnya 'power' Atut and the gank dalam melobi > jajaran pimpinan partai politik sedikit banyak > menimbulkan friksi di dalam internal partai > tersebut. Misalnya, Golkar Cilegon yang kecewa berat > dengan hasil keputusan Golkar Banten. Belum lagi > Rakerdasus PDIP yang berhasil mementahkan aspirasi > sebagian kader grass root PDIP yang berharap Mbak > Icha naik. Friksi tadi berpotensi melahirkan aksi > penggembosan di kantong-kantong suara masing2 > partai. Bukan hal tidak mungkin, mereka menikam dari > belakang. Kasarnya, jibeh, mati siji, mati kabeh. > Gue kecewa, lo juga mesti kecewa. > Untuk parpol ecek2 pendukung, biasanya mereka tidak > all out terjun. "kesepakatan" serta "tanda jadi" > sudah cukup menghibur bagi mereka. Masalah > pendukungnya memilih atau tidak, itu urusan nanti. > Paling tinggal berkelit, "kan dari awal juga udah > nyaho, pendukung partai gue sedikit. ya udah emang > segitu dapetnya". begitu kira-kira. > 2. Kelemahan lainnya, Sekalipun Atut gencar memasang > spanduk PIN, NARKOBA, Iklan PemProv di koran lokal > namun bahasanya tidak masuk ke hati. Whats up? > Tanyakan saja pada hati nurani. Semua hanya bahasa > hambar. mestinya tim media Atut lebih cerdas dalam > menyampaikan 'goal'nya. Secara demografis juga Atut > mungkin bisa menguasai masyarakat kampung, pelosok, > pesisir, terutama daerah yang kuat kultur > tradisionalnya. Untuk basis perkotaan yang educated. > masih tanda tanya besar. Padahal untuk memenangkan > Pilkadal Banten, mestinya target masyarakat > perkotaanlah yang jumlah penduduknya significant. > 3.Pencitraan. betapapun gencarnya Atut membangun > imej, Namun ia sulit lepas dari bayang-bayang sang > '*** father'. Everybody know that she is the puppet. > thats all. pencitraan inilah yang menjadi bumerang > untuk kampanye Atut di daerah perkotaan yang > notabene well educated dan melek alias baca koran. > 4. Gencarnya Atut mempromosikan diri jauh-jauh hari > tentu menguras banyak energi. Bisa saja energi itu > habis dan 'tendangannya' tidak sekuat semestinya. > Saat detik-detik akhir masa kampanye Pilkadal, > pasangan calon lain mencuri kesempatan. Habislah > impian. Maklum, Indonesia rakyatnya mudah terkena > amnesia. Kemarin bilang iya, besok bisa jadi tidak. > 5. Kelemahan lainnya. Barisan Sakit Hati beraksi. > Bisa jadi ia orang dalam sendiri yang sudah muak > diperlakukan tidak sesuai dengan kehendak hatinya. > Atau ia juga dari sekitar lingkaran kekuasaan, para > pebisnis yang dirugikan, dll. Mereka akan mengambil > bagian. Moment pilkadal adalah saat yang tepat bagi > mereka untuk beraksi. Ini asumsi saya. > 6. Selama ini Atut kurang menyentuh dunia mahasiswa. > Padahal dunia itulah yang energinya seperti batere > energizer. Mungkin saja ada satu-dua pendukung Atut > tapi mungkin itu hanya materi oriented saja. Kiprah > para aktivis kampus bisa menjadi peluru yang > berdesingan menembus barikade kantong suara Atut. > Akibatnya kebocoran lagi deh. Mestinya, Atut juga > membina lini ini karena lumayan efektif untuk > dijadikan 'peluru'. > 7. Jalur tradisional kejawaraan sudah lama mengalami > keretakan. Ada istilah pendekar 'hitam' dan 'putih'. > beberapa tokoh jawara di Lebak dan labuan bahkan > bersebrangan dengan her father. Tapi karena mereka > 'the real' jawara, mereka memilih untuk diam dan > menghindari konflik. Namun, mereka pun ikut bergerak > dan memberikan pengaruh terutama untuk jalur saudara > seperguruan. > > Untuk alim ulama sengaja saya tidak menyinggung. > Sebagai penghormatan serta salam takzim saya kepada > para ulama. > Walhasil, kekuatan yang ada memang tidak bisa > terlepas dari kekurangan. Namanya juga orat-oret > dari rakyat kecil. Salah mah wajar yah.Apalagi saya > lagi belajar menulis loh! > > JK > next, Try-Ben! > > > > > > > > > > > > > > Tetap Semangat Mencintai Banten! > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > How low will we go? Check out Yahoo! Messengers low > PC-to-Phone call rates. > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
