AWW.
Wah... Pak Hermansyah terlalu leterlijk memahami "ampunan dan
diskon dosa". Seorang "amfibi" tidak bisa dikatakan "spritual",
walaupun terlihat demikian, mungkin hajinya 10 kali, tidak ada
bedanya dengan unta, walaupun 50 tahun berada dekat Ka'bah,
he...he...he.
> Menarik sekali kolom pak Umar Kayam ini.  Thanks pak ABS.
> Ada beberapa alinea yang menari, yaitu:
>
>>Setiap kebajikan mendapat pahala beribu berjuta kali lipat,
>>dan setiap doa menjadi mustajab, maka ajukanlah permohonan
>>sebanyak-banyaknya, mintalah diskon sebesar-besarnya atas
>>dosa dan kesalahan yang telah lalu dan akan datang.
>
> Ya pantesan aja korupsi nggak habis2 di republik ini.  Wong
> pada saat  bulan Ramadhan semua dosa akan diampuni kok.
> Bukan saja dosa yang lalu, tapi yang akan dibuatpun sudah
> dapet diskon,  begitu katanya.
> Tapi, apa memang maksudnya berpuasa itu begitu?  Apa nggak
> salah tuh para  ulama, atau orang2 yang mengaku ulama
> menjelaskan sucinya bulan Ramadhan  itu seperti itu?
>
>>Tapi ketika Ramadhan usai, kok ya kita ini selalu kangen
>>Pulang ke dunia reguler kita.
>>Kembali membuka kerdus di lemari itu dan menyetelnya satu
>>per satu. Lalu teman-teman perempuan kembali memakai roknya
>>yang pendek atau super pendek.
>>Dan itu lho: mampir dan monggo itu, kan kasihan kalo mereka
>>sudah menyapa-nyapa dengan ramah, trus dicuekin begitu saja.
>
> Nah, ini dia, sudah diaku sendiri oleh Umar Kayam.
> Kenyataannya kan  memang yang begini inilah yang terjadi di
> masyarakat kita.
> Budaya masyarakat kita itu kelihatannya sudah terlanjur
> menjadi budaya  Amphibi, yaitu budaya hidup di dua dunia.
> Dunia yang satu adalah dunia  spiritual, yang satunya lagi
> dunia material.  Hebatnya, kita bisa  nyemplung dengan
> tenang ke dua dunia itu kapan kita mau, dengan
> innocent-nya.
>
> Pas musti ke rumah ibadat, atau menjalankan aktivitas2,
> hari2 atau bulan2  keagamaan kita berperilaku manis dan
> menjadi sangat spritual.  Pas keluar  dari rumah ibadat atau
> setelah menjalankan aktivitas2, hari2 atau bulan2  agama itu
> kita kembali ke perilaku yang 'asli'.  Tentu pengecualian
> satu-dua ada.  Wong katak aja jenisnya kan juga macam2.
> Tapi secara umum,  kelihatannya masyarakat kita ya
> berperilaku seperti itu.
>
> Karena secara umum itu demikian, maka saya kira semua orang
> Indonesia bisa  merasakan kejanggalan ini.  Tapi lucunya,
> mayoritas dari kita ternyata  nggak bisa dan/atau nggak mau
> berbuat apa2.
>
> Kalau demikian, apa gunanya ya agama2 diajarkan dan dianut
> oleh bangsa  Indonesia?
>
> Salam hangat,
> HermanSyah XIV.
>
>
>
>
>



___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke