Hello rekan Doedoeng (anda Ekek XXII, kok namanya masih pake ejaan van Oop
Huysen ya? 'u' ditulisnya 'oe'),
>...tapi yang lebih sering lagi kitanya sebagai umat yang tidak
>tuntas dalam berguru atau belajar,...
Ya, inilah yang saya maksud di email saya yang sebelumnya bahwa kita
sebagai rakyat (juga sebagai umat) jangan gebleg2 dan takut2 sama para
pemimpin masyarakat (negara atau umat). Tuhan kan telah memberikan kita
akal budi, kenapa akal budi itu tidak kita pergunakan sebaik-baiknya untuk
terus menerus meningkatkan pengetahuan kita dan budi pekerti kita, dan
meningkatkan pemahaman kita terhadap agama yang kita yakini? Kenapa kita
musti tergantung kepada orang yang kita anggap lebih tua, lebih berkuasa
atau lebih pintar dari kita? Tentu dalam hal2 tertentu kita memang mau
tidak mau terpaksa harus bertanya pada mereka, tapi itu karena sudah
menyangkut spesialisasi mereka (wajib kifayah).
Tapi, untuk bisa sampai pada penguasaan dasar2 keyakinan beragama dengan
baik, umat perlu diajarkan, dan perlu dibimbing kan? Nah, yang melakukan
ini siapa?, ya ulama lagi, atau orang2 yang lebih tua, lebih senior atau
yang mengaku dirinya tergolong ulama. Kalau orang2 ini tidak memberikan
informasi yang tepat, tidak turut serta menciptakan perdamaian dunia,
tidak turut serta mengajarkan untuk hidup secara jujur, adil dlsb., dst.,
ditambah lagi perilaku mereka memperlihatkan adanya perbedaan antara
perkataan, sikap dan perbuatan, maka bagaimana mungkin umat bisa sampai
pada penguasan dasar2 keyakinan beragama yang baik itu?
Kembali lagi, karena budaya masyarakat Indonesia bersifat paternalistik
(walaupun saya lihat sekarang sudah mulai merekah budaya egaliter, seperti
jaman revolusi kemerdekaan dulu(?)), maka para orang2 yang dituakan
itulah, para pemimpin itulah, para ulama itulah, para senior itulah, para
orang tua itulah yang untuk sementara waktu masih perlu mengajarkan
kebaikan dan keyakinan beragama dengan tepat kepada yuniornya. Dan
menurut saya, pengajaran ini bukan dengan melalui teori2 yang muluk2
dengan istilah2 yang sulit dicerna, dengan segala larangan dan ancaman,
akan tetapi dengan contoh2 nyata dan masuk akal, serta melalui konsistensi
dan kesucian antara pikiran, sikap dan perbuatan sang pengajar, sang
senior, sang pemimpin, sang ulama itu sendiri.
Salam hangat,
HermanSyah XIV.
"DZArifin" <[EMAIL PROTECTED]>
11/02/2003 00:58
Please respond to yonsatu
To: <[EMAIL PROTECTED]>
cc:
Subject: [yonsatu] Re: Menyambut Ramadhan - Rada Beda Nih
AWW.
Mohon maaf Pak Hermasyah, terkadang saya menggunakan komputer kantor yang
belum disetting user id-nya sehingga nama saya tidak muncul. Saya Doedoeng
Z. Arifin (Ekek XXII), juniornya Pak Johni Saleh di TK dan di PII.
Memang benar bahwa para ulama kita sering tidak tuntas dalam menyampaikan
informasi, tapi yang lebih sering lagi kitanya sebagai umat yang tidak
tuntas dalam berguru atau belajar, sehingga salah memahami substansi
ajarannya. Sehingga sering ada anekdot orang hilang sepatu di mesjid,
karena
si makmum mendengar khutbahnya sepotong (pada saat khutbah dia tetidur),
".... para mustami rohimakumulloh, ambillah yang baiknya dan buang yang
jelek.....". Wal hasil ketika pulang dia menggantikan sendalnya yang sudah
butut dengan sepatu bagus yang mengkilat.
Oleh karena itu, para ulama sepakat (Ijma) bahwa bagi setiap muslim yang
mukalaf wajib memahami prinsip-prinsip dasar Islam seperti aqidah, akhlak,
ibadah praktis (syahadat, sholat, shaum, zakat dan haji), dan prinsip
muamalah (interaksi sosial), sedangkan yang lainnya dikategorikan sebagai
wajib kifayah (spesialisasi para ulama/ cendikiawan). Jadi sesungguhnya
kalau ada di antara umat Islam yang tidak memahami hikmah shaum (antara
lain
latihan mengendalikan diri dari barang dan perbuatan halal apalagi yang
haram), namun kemudian tetap KKN pada bulan-bulan berikutnya, maka dapat
dipastikan dia tidak tuntas memahami shaum. Bahkan saya beranggapan boleh
jadi dia bukan muslim dalam arti sesungguhnya, hanya sekedar "muslim
etnis"
seperti halnya Abu Lahab yang juga merasa "muslim" karena mengikuti agama
Ibrahim (yang sudah bias).
Oleh karena itu agama tidak akan memberikan "warna" dalam kehidupan sosial
jika yang dikedepankan hanya bentuk ritual tanpa pemahaman substansi,
namun
sebaliknya juga pendekatan substansi saja tidak sempurna tanpa dibarengi
pendekatan formal. Misalnya, sholat antara lain berfungsi mencegah
perbuatan
keji dan munkar, lantas karena seseorang sudah tidak melakukan perbuatan
keji dan munkar kemudian dia merasa tidak perlu sholat lagi.
Wallohu'alam bishowab.
Wassalam. DZArifin.
> Yang jadi persoalan itu sebenarnya kan penyebaran informasi yang menurut
> saya kurang tepat kepada umat.
> Umat Islam kan selama ini diajari bahwa sucinya bulan Ramadhan itu
begitu.
> Tapi, menurut saya, mustinya para ulama bilang bahwa sekalipun
> prinsipnya begitu, tapi pembebasan atau diskon dosa itu hanya berlaku
bagi
> orang2 yang diluar bulan Ramadhan juga berperilaku baik dan tunduk pada
> hukum duniawi, alias 'law' yang berlaku.
>
> Karena masyarakat Indonesia itu sifatnya paternalistik, maka para ulama
> musti tegas2 bilang bahwa sucinya bulan Ramadhan itu bersyarat. Nggak
> bisa take it for granted!.
>
> Dengan begitu, umat mungkin akan tergerak untuk lebih jujur pada dirinya
> sendiri, sehingga mereka akan memilih untuk naik haji cukup 1 kali saja
,
> daripada 10 kali tapi tetap saja dilihat oleh Yang di Atas sana sebagai
> unta,
>
> Selamat berpuasa to all of us yang menjalankannya. Semoga diantara kita
> nggak ada yang jadi unta :-). (Ini gaya reformasi untuk mengucapkan
> selamat berpuasa dan mohon maaf lahir bathin).
>
> Salam hangat,
> HermanSyah XIV.
>
>
>
--[YONSATU -
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>