AWW.
> Hello rekan Doedoeng (anda Ekek XXII, kok namanya masih pake > ejaan van Oop Huysen ya? 'u' ditulisnya 'oe'), Begitulah..... nampaknya �accident� ini terjadi karena petugas Pengadilan Negeri dulu saat membuat akta kelahiran saya masih �Van Oop Huysen minded�. Tapi saya beruntung, walaupun tidak �masantren�, saya tergolong �u lama�. Saya sependapat Pak HermanSyah, bahwa Islam bukanlah agama yang elitis, Islam sangat egaliter, bahkan dalam pandangan Islam kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh pangkat, jabatan, kekayaan, etnis dlsb, Al Quran mengajarkan kepada kita bahwa ... inna akromakum �indallohi atqookum ... yang paling mulia di sisi Alloh adalah yang paling bertakwa, bukan yang paling keren atribut duniawinya (misalnya KH atau Ajengan tapi jangan confuse dengan �ulama�, karena ulama dalam pengertian Al Quran berbeda dengan ulama yang disandangkan pada seseorang di MUI misalnya).Yang kedua adalah masalah keteladanan, saya juga sangat sependapat dengan Pak HermanSyah. Saat ini semua teori kepemimpinan dan pemerintahan sudah sangat dikuasai oleh para pejabat dan pimpinan formal maupun informal, sayang belum diintegrasikan dengan keteladanan, sangat berbeda jauh dengan kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasululloh Saw dan para sahabatnya. Misalnya, bagaimana kisah Umar ra yang harus mematikan lampu ketika menerima saudaranya hanya karena saudaranya tsb tidak datang untuk membicarakan urusan negara, padahal minyak lampu tsb dananya dari APBN (bandingkan dengan sekarang!!), atau Rasululloh yang �kalah� di pengadilan oleh seorang Yahudi karena tidak cukup saksi dan bukti yang menyatakan bahwa baju zirrah (baju besi untuk perang) tersebut sudah dibeli oleh beliau, tapi akhirnya Nabi Saw �menang� karena si Yahudi tersebut akhirnya masuk Islam melihat betapa adilnya Islam.Semangat �salaf� inilah yang harus diteladani kembali, supaya kita tidak kehilangan arah, dan supaya visi Islam ke depan semakin �clear�. Dan semangat �salafus shalih� seperti ini jauh sekali dari apa yang dituduhkan sebagai persemaian terorisme. Wassalam. DZArifin. >>...tapi yang lebih sering lagi kitanya sebagai umat yang >>tidak >>tuntas dalam berguru atau belajar,... > > Ya, inilah yang saya maksud di email saya yang sebelumnya > bahwa kita sebagai rakyat (juga sebagai umat) jangan > gebleg2 dan takut2 sama para pemimpin masyarakat (negara > atau umat). Tuhan kan telah memberikan kita akal budi, > kenapa akal budi itu tidak kita pergunakan sebaik-baiknya > untuk terus menerus meningkatkan pengetahuan kita dan budi > pekerti kita, dan meningkatkan pemahaman kita terhadap > agama yang kita yakini? Kenapa kita musti tergantung > kepada orang yang kita anggap lebih tua, lebih berkuasa > atau lebih pintar dari kita? Tentu dalam hal2 tertentu kita > memang mau tidak mau terpaksa harus bertanya pada mereka, > tapi itu karena sudah menyangkut spesialisasi mereka (wajib > kifayah). > > Tapi, untuk bisa sampai pada penguasaan dasar2 keyakinan > beragama dengan baik, umat perlu diajarkan, dan perlu > dibimbing kan? Nah, yang melakukan ini siapa?, ya ulama > lagi, atau orang2 yang lebih tua, lebih senior atau yang > mengaku dirinya tergolong ulama. Kalau orang2 ini tidak > memberikan informasi yang tepat, tidak turut serta > menciptakan perdamaian dunia, tidak turut serta mengajarkan > untuk hidup secara jujur, adil dlsb., dst., ditambah lagi > perilaku mereka memperlihatkan adanya perbedaan antara > perkataan, sikap dan perbuatan, maka bagaimana mungkin umat > bisa sampai pada penguasan dasar2 keyakinan beragama yang > baik itu? > > Kembali lagi, karena budaya masyarakat Indonesia bersifat > paternalistik (walaupun saya lihat sekarang sudah mulai > merekah budaya egaliter, seperti jaman revolusi kemerdekaan > dulu(?)), maka para orang2 yang dituakan itulah, para > pemimpin itulah, para ulama itulah, para senior itulah, para > orang tua itulah yang untuk sementara waktu masih perlu > mengajarkan kebaikan dan keyakinan beragama dengan tepat > kepada yuniornya. Dan menurut saya, pengajaran ini bukan > dengan melalui teori2 yang muluk2 dengan istilah2 yang > sulit dicerna, dengan segala larangan dan ancaman, akan > tetapi dengan contoh2 nyata dan masuk akal, serta melalui > konsistensi dan kesucian antara pikiran, sikap dan > perbuatan sang pengajar, sang senior, sang pemimpin, sang > ulama itu sendiri. > > Salam hangat, > HermanSyah XIV. > > > > > ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
