AWW. Mohon maaf Pak Hermasyah, terkadang saya menggunakan komputer kantor yang belum disetting user id-nya sehingga nama saya tidak muncul. Saya Doedoeng Z. Arifin (Ekek XXII), juniornya Pak Johni Saleh di TK dan di PII.
Memang benar bahwa para ulama kita sering tidak tuntas dalam menyampaikan informasi, tapi yang lebih sering lagi kitanya sebagai umat yang tidak tuntas dalam berguru atau belajar, sehingga salah memahami substansi ajarannya. Sehingga sering ada anekdot orang hilang sepatu di mesjid, karena si makmum mendengar khutbahnya sepotong (pada saat khutbah dia tetidur), ".... para mustami rohimakumulloh, ambillah yang baiknya dan buang yang jelek.....". Wal hasil ketika pulang dia menggantikan sendalnya yang sudah butut dengan sepatu bagus yang mengkilat. Oleh karena itu, para ulama sepakat (Ijma) bahwa bagi setiap muslim yang mukalaf wajib memahami prinsip-prinsip dasar Islam seperti aqidah, akhlak, ibadah praktis (syahadat, sholat, shaum, zakat dan haji), dan prinsip muamalah (interaksi sosial), sedangkan yang lainnya dikategorikan sebagai wajib kifayah (spesialisasi para ulama/ cendikiawan). Jadi sesungguhnya kalau ada di antara umat Islam yang tidak memahami hikmah shaum (antara lain latihan mengendalikan diri dari barang dan perbuatan halal apalagi yang haram), namun kemudian tetap KKN pada bulan-bulan berikutnya, maka dapat dipastikan dia tidak tuntas memahami shaum. Bahkan saya beranggapan boleh jadi dia bukan muslim dalam arti sesungguhnya, hanya sekedar "muslim etnis" seperti halnya Abu Lahab yang juga merasa "muslim" karena mengikuti agama Ibrahim (yang sudah bias). Oleh karena itu agama tidak akan memberikan "warna" dalam kehidupan sosial jika yang dikedepankan hanya bentuk ritual tanpa pemahaman substansi, namun sebaliknya juga pendekatan substansi saja tidak sempurna tanpa dibarengi pendekatan formal. Misalnya, sholat antara lain berfungsi mencegah perbuatan keji dan munkar, lantas karena seseorang sudah tidak melakukan perbuatan keji dan munkar kemudian dia merasa tidak perlu sholat lagi. Wallohu'alam bishowab. Wassalam. DZArifin. > Yang jadi persoalan itu sebenarnya kan penyebaran informasi yang menurut > saya kurang tepat kepada umat. > Umat Islam kan selama ini diajari bahwa sucinya bulan Ramadhan itu begitu. > Tapi, menurut saya, mustinya para ulama bilang bahwa sekalipun > prinsipnya begitu, tapi pembebasan atau diskon dosa itu hanya berlaku bagi > orang2 yang diluar bulan Ramadhan juga berperilaku baik dan tunduk pada > hukum duniawi, alias 'law' yang berlaku. > > Karena masyarakat Indonesia itu sifatnya paternalistik, maka para ulama > musti tegas2 bilang bahwa sucinya bulan Ramadhan itu bersyarat. Nggak > bisa take it for granted!. > > Dengan begitu, umat mungkin akan tergerak untuk lebih jujur pada dirinya > sendiri, sehingga mereka akan memilih untuk naik haji cukup 1 kali saja , > daripada 10 kali tapi tetap saja dilihat oleh Yang di Atas sana sebagai > unta, > > Selamat berpuasa to all of us yang menjalankannya. Semoga diantara kita > nggak ada yang jadi unta :-). (Ini gaya reformasi untuk mengucapkan > selamat berpuasa dan mohon maaf lahir bathin). > > Salam hangat, > HermanSyah XIV. > > > --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
