>Padahal mereka turun temurun sejak Wali Songo, sudah beragama Islam
>juga. Adat istiadat budaya Nusantara lebih mengedepankan etika sikap
>menahan diri demi kehormatan laki2, demikian juga etika demi kehormatan
>wanita.
Saya kira ini juga yang menyebabkan mayoritas kaum muslim Indonesia itu 
sangat toleran, yang menurut saya sangat perlu kita pertahankan.  Saya 
pernah meng 'quote' sebuah pendapat di salah satu email saya yang dulu 
yaitu: 1) Islam muncul di Arab, 2) Berkembang menjadi Ilmu Pengetahuan di 
Mesir, 3) tapi implementasinya hanya di Indonesia.

Menurut saya sudah saatnya para ulama atau orang2 yang mengaku/diaku ulama 
tidak lagi memaksa apalagi mengintimidasi pemakaian jilbab, karena ini 
hanya akan memaintain sikap hidup munafik yang pak ABS sebut itu.

Sebaliknya sudah saatnya pula umat (dalam kasus jilbab ini kaum wanita), 
untuk tidak menurut begitu saja (apalagi dengan ketakutan) kepada segala 
perintah dan larangan para ulama atau orang yang mengaku ulama (untuk 
memakai jilbab).  Keputusan memakai jilbab haruslah berdasarkan kemauan 
(saya tidak menyebutnya 'kesadaran', karena penggunaan kata ini bersifat 
intimidatif) dari diri sendiri, bukan berdasarkan keinginan orang lain.

Kenapa kita nggak coba kembali lagi menjadi negara yang nomor 3) diatas, 
yaitu negara dimana Islam benar2 di implementasikan?

Salam hangat,
Hermansyah XIV.






"Abas F Soeriawidjaja" <[EMAIL PROTECTED]>
11/10/2003 16:36
Please respond to yonsatu

 
        To:     <[EMAIL PROTECTED]>
        cc: 
        Subject:        [yonsatu] Re: Komentar wanita pakai jilbab dari Utami!




Bung Doedoeng wrote :
 Prinsip jilbab adalah menutup aurat, sedangkan aurat wanita adalah
seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Jadi kalau ditambah
cadar, menurut saya sekedar asesoris, bukan kewajiban. Penting untuk
diperhatikan juga bahwa baju tersebut tidak menampakkan lekukan tubuh
dan transparan. .================

Sdri. Utami wrote :
 Selain itu pertanyaan saya kepada para wanita berjilbab: apakah mereka
pakai jilbab itu berdasarkan kemauan mereka sendiri? bukan karena suami
atau masyarakat disekitarnya? Kalau wanita itu pakai jilbab karena
suami/keluarga dan tekanan lingkungannya, menurut saya itu tdk benar !

ABS (Joni) wrote :
Di medio 1990-an seorang wisudawati di suatu kampus di Bandung
mengatakan pada saya: "Yah, mulai sekarang bebas sudah saya dari
kewajiban berjilbab!".

Komentar saya :

Saya tinggal di Jakarta, dibelakang Kampus  Univ. Muhammadiyah, setiap
hari saya pergi dan pulang kerja lewat kampus tersebut. Saya perhatikan
95% mahasiswinya berjilbab ( dengan penutup rambut dan leher )dan
modelnya 80% seperti yang digambarkan Bung Doedoeng, dengan celana ketat
dan kaos ketat ( kalo udelnya sih saya enggak liat :-) ) Dan saya kira,
model jilbaber seperti ini juga saya lihat ditempat-tempat umum. 
Tidak berlebihan kalau dikatakan 85% jilbaber umumnya berkaos ketat dan
bercelana ketat. 
Saya yakin mahasiswi Univ.Muhammadiyah ini mengerti dan tahu apa yang
dimaksud dengan "prinsip jilbab adalah menutup aurat " seperti definisi
yang disampaikan Bung Doedoeng. 
Tapi mengapa mereka berjilbab setengah-setengah ??? Kenapa sih, seperti
ogah-agahan ?? Apa ada unsur keterpaksaan ??Sepertinya bukan kemauan
mereka untuk berjilbab. Jangan2 seperti kata Joni, mereka akan merasa
lega kalau sudah diwisuda.

Kalau ditingkat ibu2 lebih heboh lagi,biasanya berjilbab penutup kepala
dan kebawahnya pakai baju kurung. Entah karena tubuh yang melar dan
bajunya belum sempat disesuaikan, Wah minta ampun deh,dada sama pantat
(maaf) saling balapan bergoyangnya ( wah batal enggak ya puasanya nih
:-) ) Dan kalau liat acara di RCTI (?) Tembang Kenangan, Dansa yo Dansa
TVRI.......wah, ibu2 berjilbab itu hot dansanya. Ya, mbok kalo mau dansa
dicopot dong jilbabnya.

Trend wanita berjilbab di Indonesia, akhirnya hanya membudayakan
kemunafikan !!!

Trend berjilbab inikan maraknya setelah tahun 70 an, waktu saya SMA
dulu, tidak ada satu pun murid perempuan dan guru perempuan berjilbab 
Pada dasarnya budaya berjilbab tidak ada pada suku2bangsa di Nusantara
tercinta ini. Busana wanita Jawa dan sunda, ya kain kebaya dengan
sanggul/konde, di Sumatera baju kurung dengan tutup kepala tapi bukan
jilbab, etc,etc 
Padahal mereka turun temurun sejak Wali Songo, sudah beragama Islam
juga. Adat istiadat budaya Nusantara lebih mengedepankan etika sikap
menahan diri demi kehormatan laki2, demikian juga etika demi kehormatan
wanita.

Jangan2 larangan berjilbab di Perancis itu, bukan jilbabnya yang
dilarang, tapi kemunafikannya itu.

Wass,







___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id



--[YONSATU -
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


--[YONSATU - 
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>






--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke