Menanggapi pernyataan Ny. Muskitawati di atas, Terlihat dari pernyataan Ny. Muskitawati, bahwa Nyonya adalah seorang atheis. "Variabel" yang Nyonya sebutkan di atas sebagai pelengkap kelemahan manusia dalam berpikir adalah sebuah pembodohan terhadap konsep keagamaan itu sendiri. Yang perlu Nyonya ketahui adalah dalam konsep keagamaan, keyakinan atau iman adalah suatu hal yang mutlak. Keyakinan ini timbul atas dasar yang berbeda-beda untuk tiap-tiap individu. Namun, bukanlah sebagai alasan dari kemalasan berpikir sebagaimana Nyonya nyatakan. Saya sering bertukar pikiran tentang ini dengan penganut atheis, dan saya menemukan beberapa dari mereka yang memang cerdas, tapi saya mulai beranggapan bahwa Nyonya bukan salah satu dari golongan yang cerdas tersebut. Pernyataan kedua dari Nyonya, dimana Ny. Muskitawati menyatakan bahwa satu hari di planet manapun adalah sama, adalah pembodohan terhadap ilmu ilmiah yang sama sekali menyatakan hal yang berbeda. Seharusnya Nyonya melakukan riset terlebih dahulu tentang berapa lamakah satu hari di Planet Mars atau Venus atau Jupiter atau Saturnus, yang kesemuanya memiliki lama yang berbeda masing-masing, supaya tidak nampak sebegitu bodohnya. http://starryskies. com/solar_ system/venus/ a_day_and_ a_year_on_ venus.htm Link tersebut merupakan salah satu contoh bahwa 1 hari Venus adalah lebih dari setahun waktu di Bumi. Saya yakin kita semua adalah orang yang terbuka untuk berpendapat, namun hendaknya menggunakan otak dan bukan hanya emosi saja. Tanggapan selanjutnya adalah, maka sangat dimungkinkan jika ada sebuah tempat dalam galaksi kita, maupun dalam galaksi lain, dimana satu hari disana adalah 50 ribu tahun di Bumi, atau bahkan sebaliknya.
Salam, Stephanus Iqbal ________________________________ From: Tawangalun <[email protected]> To: [email protected] Sent: Fri, December 18, 2009 1:47:33 PM Subject: [zamanku] Re: Tafsir Penciptaan Bumi versi Al-Quran Memang waktu sejam dibumi dg diplanet lainnyapun sampai langit ketujuh adalah sama satu jam juga. yang dimaksud Quran tadi alam dunia dg alamnya Jibril yang sudah jelas beda,tapi ada relativitas. Orang yang sudah dialam kubur nunggu hisab misal umatnya Diponegoro kalau tidak dibedakan dg waktu didunia akan mengalami kebosanan.Makane Allah membikin satu hari di akherat serasa 50000 hari bagi manusia yg tinggal dibumi.Jadi umatnya Musa tidak merasa nunggu terlalu lama sebab 50000 tahun dibumi bagi umatnya Musa yg sudah dialam kubur baru serasa 1 tahun.Jadi sebelum Einstein menemukan Relativitas waktu sudah keduluan Allah yang mengeluarkan relativitas waktu dunia dg waktu akherat.Kata Einstein: Bila kita duduk didekat api yang panas maka waktu semenit akan serasa sejam,kebalikannya kalau kita didekat Marilyn Monroe maka sejam hanya serasa semenit.Nah piye itu Genduk Mus sama sama diduniapun waktunya sudah terasa beda. Shalom, tawangalun. --- In zama...@yahoogroups .com, "muskitawati" <muskitawati@ ...> wrote: > > > Ignatius I Gde Manuke <ignatiusigdemanuke @> wrote: > > Coba kamu lihat tafsirnya secara benar. > > QS 70:4. Malaikat-malaikat dan Jibril > > naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari > > yang kadarnya limapuluh ribu tahun.[1510] > > > > Penulis diatas ini hanyalah satu contoh dari jutaan rakyat Indonesia yang > merusak cara berpikirnya dengan keimanan Islam. > > Tafsir itu hanyalah tebak2an yang sama sekali tidak ada jaminan benar. > > Malaikat, Jibril, Tuhan, Allah, Dewa, Jin, Setan, dan Thian kesemuanya adalah > simbol2 abstract dari berbagai agama yang dijadikannya sebagai "variable" > untuk menggantikan kelemahannya dalam berpikir sehingga tak perlu memikir. > > Satu hari dimanapun dan diplanet manapun dalam alam semesta ini waktunya > adalah sama, yaitu rentang waktu terbitnya matahari di Timur hingga > terbenamnya di Barat. Jadi tidak ada satupun tempat dimuka bumi ini dan juga > dalam galaxy Bimasakti kita yang memiliki kadar waktu sehari = 50 ribu tahun. > Bahkan di kutub sekalipun, rentang terbitnya dan terbenamnya matahari secara > teoritis adalah 6 bulan bukan 50 ribu tahun. > > Begitulah, seperti sudah saya katakan sebelumnya, TAFSIR itu hanyalah > tebak2an sama sekali bukan analysis seorang peneliti. Artinya, janganlah > sekalipun anda berdebat dengan merujuk kepada tafsir karena setiap orang bisa > bebas memberi tafsir apa saja tak perlu bukti dan tak perlu dipercaya. > > Ny. Muslim binti Muskitawati. >
