Salam Indonesia Raya,
Sebagaimana antara lain, disampaikan oleh Saudara Ariganda yang saya banggakan,
email pribadi, tanggapan, terhadap saya memang banyak. Saya mengucapkan terima
kasih tidak terhingga, dan menyampaikan maaf atas kerterlambatan menjawab,
membalasnya. Namun saya berusaha membaca semuanya.
Senin pukul 22-23, kemarin, di saluran Jaktv, saya tampil dalam perbincangan
sejam dengan Irma Hutabarat. Semula saya ingin menitipkan pesan di sini, namun
memutuskan tidak melalukan demi menghindari kesan berkampanye.
Topik utama yang saya sampaikan: ihwal pertumbuhan ekonomi yang harus dua
digit, setidaknya 12% setahun, agar GDP kita bisa di atas US $ 2.000. Bila
tidak dua digit, maka sudah bisa dipastikan di ulang tahun seabad kemerdekaan
RI, 2045, negeri ini bukan makin sejahtera, tetapi sebaliknya. Apalagi
pertumbuhan ekonomi secara signifikan hanya dinikmati oleh sekitar 3% saja dari
total populasi penduduk.
Saya memaparkan bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi di angka dua digit itu.
Tiada lain tumpuan memang ke sektor pertanian. Salah satu yang saya ungkap
dari dialog tadi malam, Tuhan telah begitu menyayangi Indonesia, melalui
keajaiban yang diberikan dengan menumbuhkan beragam tanaman bernilai ekonomi
tinggi. Salah satu tanaman bernilai ekonomi tinggi yang tidak tumbuh di negeri
lain itu adalah Aren. Tanaman yang selama ini seakan dilupakan.
Dari satu hektar pohon Aren, menghasilkan bio-etanol 19 ton pertahun. Saat ini
Kolombia, Nigeria, bahkan Brazil, sudah mulai mengambil bibit Aren dari
Sulawesi Utara untuk ditanam secara massal di negara mereka, mengingat
pentingnya Aren bagi menghasilkan energi alternatif.
Sebanyak 59 juta hektar hutan kita harus dihijaukan kembali. Sekitar 13 juta
petani tidak memiliki lahan sendiri. Sementara untuk menggarap satu hektar
lahan Aren dibutuhkan SDM 3 orang. Jika saja 20 juta hektar hutan mampu
dihijaukan dengan Aren, sudah akan menyerap tenaga kerja 60 juta. Otomatis
petani yang tidak memiliki lahan bisa terserap di sini. Dan potensi Indonesia
menjadi negeri petro dolar mengganti Timur Tengah bukan suatu yang mustahil
terjadi, melalui produksi etanol yang melimpah.
Oleh sebab itu, lebih dari 60% penduduk yang bergerak di sektor pertanian
kini, dengan anggaran di APBN ke pertanian hanya 1,6% saja, inilah seharusnya
diubah. Jika untuk pendidikan saja 20% belum menunjukkan perubahan
signifikan, maka angka 1,6 % ke pertanian tersebut, memang membuat keadaan
seakan kufur nikmat: potensi pertanian, perkebunan, perikanan sulit bergerak
tumbuh.
Itulah salah satu contoh, kita baru bicara satu jenis tanaman saja.
Pada kesempatan lain, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal lain yang berkait
ke pertanian. Dan ini semua, dengan kerendahan hati, mengingat di sini banyak
ahli, praktisi, pakar pertanian, saya mohon untuk dikritisi duji dan dikaji.
Sementara demikian.
Terima kasih,
Prabowo Subianto
[email protected]