Salam Pertanian, Memang saya tidak menyaksikan acara Bapak di JakTv. Terlepas dari itu, semua yang saya baca dan dengar tentang konsep Bapak Subianto untuk memajukan Dunia Pertanian Indonesia hanya sebatas wacana HARAPAN semata, seluruh stake holder pertanian indonesia secara tegas pasti menyatakan memiliki harapan yang sama yaitu Memajukan Dunia Pertanian Indonesia. Namun, setiap praktisi pertanian indonesia memiliki konsep dan ide-ide yang berbeda dalam mengimplementasikan nya di lapangan.
Untuk wacana yang selalu Bapak sampaikan di setiap media, secara pribadi maupun atas nama kelompok petani kecil saya belum melihat dan merasakan manifestasi nya di lapangan. Pada saat ini kita tidak sedang membicarakan tentang pencalonan Bapak Subianto sebagai RI-1, tetapi lebih sebagai seorang sosok yang sangat peduli dengan dunia pertanian indonesia yang ditandai dengan mengendalikan nahoda di HKTI. Sebagai ketua HKTI, saya belum melihat gebrakan-gebrakan Bapak untuk dunia pertanian indonesia yang dapat untuk dibanggakan. Sebagai INDUKNYA masyarakat pertanian indonesia, HKTI saya nilai belum bisa berbuat apa-apa, bagaikan harimau ganas yang terikat rantai besi dan hanya mengeluarkan auman yang kuat saja tanpa dapat menggigit dan menerkam mangsa nya. Kelangkaan pupuk misalnya, apakah ada suatu solusi yang berarti yang dapat dibuat oleh HKTI di bawah kendali Bapak Subianto selama ini..? saya kira tidak. Begitu juga dengan segudang permasalahan pertanian indoneisa lainnya. Petani tanpa HKTI adalah petani yang hari ini dalam arti kata tidak ada manfaat besar dari keberadaan HKTI oleh petani. Tetapi tentunya berbeda bila kita sebut HKTI tanpa adanya petani. Maaf, bila hal ini dianggap agak sedikit melenceng dari topik yang diperbolehkan di forum ini. Akan tetapi saya kira kita perlu mengkritisi segala kebijakan HKTI yang selama ini belum menampakkan keperkasaannya yang selalu mengklaim mengedepankan kepentingan masyarakat petani indonesia yang terlepas dari segala bentuk kepentingan politik. Salam saya untuk Dunia Pertanian. Ian Bangun [email protected] --- In [email protected], Prabowo Subianto <salam.prab...@...> wrote: > > Salam Indonesia Raya, > > Sebagaimana antara lain, disampaikan oleh Saudara Ariganda yang saya banggakan, email pribadi, tanggapan, terhadap saya memang banyak. Saya mengucapkan terima kasih tidak terhingga, dan menyampaikan maaf atas kerterlambatan menjawab, membalasnya. Namun saya berusaha membaca semuanya. > > Senin pukul 22-23, kemarin, di saluran Jaktv, saya tampil dalam perbincangan sejam dengan Irma Hutabarat. Semula saya ingin menitipkan pesan di sini, namun memutuskan tidak melalukan demi menghindari kesan berkampanye. > > Topik utama yang saya sampaikan: ihwal pertumbuhan ekonomi yang harus dua digit, setidaknya 12% setahun, agar GDP kita bisa di atas US $ 2.000. Bila tidak dua digit, maka sudah bisa dipastikan di ulang tahun seabad kemerdekaan RI, 2045, negeri ini bukan makin sejahtera, tetapi sebaliknya. Apalagi pertumbuhan ekonomi secara signifikan hanya dinikmati oleh sekitar 3% saja dari total populasi penduduk. > > Saya memaparkan bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi di angka dua digit itu. > > Tiada lain tumpuan memang ke sektor pertanian. Salah satu yang saya ungkap dari dialog tadi malam, Tuhan telah begitu menyayangi Indonesia, melalui keajaiban yang diberikan dengan menumbuhkan beragam tanaman bernilai ekonomi tinggi. Salah satu tanaman bernilai ekonomi tinggi yang tidak tumbuh di negeri lain itu adalah Aren. Tanaman yang selama ini seakan dilupakan. > > Dari satu hektar pohon Aren, menghasilkan bio-etanol 19 ton pertahun. Saat ini Kolombia, Nigeria, bahkan Brazil, sudah mulai mengambil bibit Aren dari Sulawesi Utara untuk ditanam secara massal di negara mereka, mengingat pentingnya Aren bagi menghasilkan energi alternatif. > > Sebanyak 59 juta hektar hutan kita harus dihijaukan kembali. Sekitar 13 juta petani tidak memiliki lahan sendiri. Sementara untuk menggarap satu hektar lahan Aren dibutuhkan SDM 3 orang. Jika saja 20 juta hektar hutan mampu dihijaukan dengan Aren, sudah akan menyerap tenaga kerja 60 juta. Otomatis petani yang tidak memiliki lahan bisa terserap di sini. Dan potensi Indonesia menjadi negeri petro dolar mengganti Timur Tengah bukan suatu yang mustahil terjadi, melalui produksi etanol yang melimpah. > > Oleh sebab itu, lebih dari 60% penduduk yang bergerak di sektor pertanian kini, dengan anggaran di APBN ke pertanian hanya 1,6% saja, inilah seharusnya diubah. Jika untuk pendidikan saja 20% belum menunjukkan perubahan signifikan, maka angka 1,6 % ke pertanian tersebut, memang membuat keadaan seakan kufur nikmat: potensi pertanian, perkebunan, perikanan sulit bergerak tumbuh. > > Itulah salah satu contoh, kita baru bicara satu jenis tanaman saja. > > Pada kesempatan lain, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal lain yang berkait ke pertanian. Dan ini semua, dengan kerendahan hati, mengingat di sini banyak ahli, praktisi, pakar pertanian, saya mohon untuk dikritisi duji dan dikaji. > > Sementara demikian. > > Terima kasih, > Prabowo Subianto > salam.prab...@... >

