Assalammualaikum wr wb Dengan hormat,
Ide bapak untuk memajukan Indonesia melalui sektor pertanian cukup tepat. Hal ini didukung dengan tersedianya sumber daya alam yang berlimpah dan cukup tersedianya sumberdaya manusia. Apa yang telah bapak lakukan selama ini melalaui kendaraan HKTI banyak manfaatnya, baik bagi petani (terutama buruh tani), nelayan serta bapak sendiri. Menurut pengalaman saya, selama ini pembangunan di sektor pertanian tidak dilakukan dengan terencana (tdk ada blue print utk pembangunan pertanian) dan tidak dilakukan secara komprehensif. Hal ini ditandai oleh adanya program2 pertanian yang "sepertinya" diputuskan secara instan (tiba saat tiba akal) oleh pemerintah. Revitalisasi pertanian yang dulu digembar gemborkan oleh pemerintah untuk memajukan pertanian Indonesia ternyata hanya wacana. Saat ini pelaku usaha (on farm) sektor pertanian sudah sangat menderita, sampai kapan kita bergelut dengan ketidak pastian seperti ini. Dimata negara2 di dunia, kekuatan ekonomi Indonesia yg bertumpu pada sektor pertanian merupakan ancaman di bidang ekonomi di masa depan. Beberapa negara di dunia berusaha untuk membatasi ekspor komoditas pertanian dari Indonesia masuk ke negara tersebut. Misal nya. saat ini negara2 EU berusaha membatasi masuknya produk pertanian dari Indonesia (CPO) ke kawasan EU dengan memberlakukan aturan2 yang disebut RSPO (Round Table on Sustainable of Palm Oil). Mengapa negara2 EU memberlakukan aturan RSPO kr secara ekonomis harga CPO lebih murah dibandingkan harga minyak nabati (soybean oil, sunflower oil) yg mereka hasilkan (EU). Selain itu CPO dan produk turunannya merupakan bahan baku bagi 250 macam industri dan serta bahan bakar alternatif (biodiesel). Jika bangsa Indonesia tidak tanggap untuk segera menyelesaikan masalah ini, bukan tidak mungkin CPO yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia tidak dapat masuk ke EU. Saya percaya bangsa Indonesia mampu menjadi bangsa yang besar dengan pilar sektor pertanian. Bagaimana caranya ??? cukup mudah dimana pihak yang berkepentingan duduk bersama dan membuat rumusan rencana pembangunan pertanian Indonesia untuk 10 - 20 th ke depan. Pihak2 tersebut adalah : (1) On Farm (petani, perusahaan); (2) Off Farm (industri pupuk, alat pertanian dll); (3) Supporting Unit (akademisi, peneliti, LSM, lembaga keuangan dll) duduk bersama untuk merumuskan rencana pembangunan sektor pertanian (blue print) sehingga arah dan tujuan dari pembangunan sektor pertanian Indonesia menjadi jelas dan terarah. Wassalam wr wb Sandi Nugroho ________________________________ From: Prabowo Subianto <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tuesday, March 3, 2009 7:54:24 AM Subject: [agromania] Salam Indonesia Raya -- Topik Pertanian, Jaktv Salam Indonesia Raya, Sebagaimana antara lain, disampaikan oleh Saudara Ariganda yang saya banggakan, email pribadi, tanggapan, terhadap saya memang banyak. Saya mengucapkan terima kasih tidak terhingga, dan menyampaikan maaf atas kerterlambatan menjawab, membalasnya. Namun saya berusaha membaca semuanya. Senin pukul 22-23, kemarin, di saluran Jaktv, saya tampil dalam perbincangan sejam dengan Irma Hutabarat. Semula saya ingin menitipkan pesan di sini, namun memutuskan tidak melalukan demi menghindari kesan berkampanye. Topik utama yang saya sampaikan: ihwal pertumbuhan ekonomi yang harus dua digit, setidaknya 12% setahun, agar GDP kita bisa di atas US $ 2.000. Bila tidak dua digit, maka sudah bisa dipastikan di ulang tahun seabad kemerdekaan RI, 2045, negeri ini bukan makin sejahtera, tetapi sebaliknya. Apalagi pertumbuhan ekonomi secara signifikan hanya dinikmati oleh sekitar 3% saja dari total populasi penduduk. Saya memaparkan bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi di angka dua digit itu. Tiada lain tumpuan memang ke sektor pertanian. Salah satu yang saya ungkap dari dialog tadi malam, Tuhan telah begitu menyayangi Indonesia, melalui keajaiban yang diberikan dengan menumbuhkan beragam tanaman bernilai ekonomi tinggi. Salah satu tanaman bernilai ekonomi tinggi yang tidak tumbuh di negeri lain itu adalah Aren. Tanaman yang selama ini seakan dilupakan. Dari satu hektar pohon Aren, menghasilkan bio-etanol 19 ton pertahun. Saat ini Kolombia, Nigeria, bahkan Brazil, sudah mulai mengambil bibit Aren dari Sulawesi Utara untuk ditanam secara massal di negara mereka, mengingat pentingnya Aren bagi menghasilkan energi alternatif. Sebanyak 59 juta hektar hutan kita harus dihijaukan kembali. Sekitar 13 juta petani tidak memiliki lahan sendiri. Sementara untuk menggarap satu hektar lahan Aren dibutuhkan SDM 3 orang. Jika saja 20 juta hektar hutan mampu dihijaukan dengan Aren, sudah akan menyerap tenaga kerja 60 juta. Otomatis petani yang tidak memiliki lahan bisa terserap di sini. Dan potensi Indonesia menjadi negeri petro dolar mengganti Timur Tengah bukan suatu yang mustahil terjadi, melalui produksi etanol yang melimpah. Oleh sebab itu, lebih dari 60% penduduk yang bergerak di sektor pertanian kini, dengan anggaran di APBN ke pertanian hanya 1,6% saja, inilah seharusnya diubah. Jika untuk pendidikan saja 20% belum menunjukkan perubahan signifikan, maka angka 1,6 % ke pertanian tersebut, memang membuat keadaan seakan kufur nikmat: potensi pertanian, perkebunan, perikanan sulit bergerak tumbuh. Itulah salah satu contoh, kita baru bicara satu jenis tanaman saja. Pada kesempatan lain, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal lain yang berkait ke pertanian. Dan ini semua, dengan kerendahan hati, mengingat di sini banyak ahli, praktisi, pakar pertanian, saya mohon untuk dikritisi duji dan dikaji. Sementara demikian. Terima kasih, Prabowo Subianto salam.prabowo@ yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

