pak prabowo yth.
persoalan bangsa kita ini memang cukup kompleks, butuh keterlibatan semua 
pihak.selain krisis pangan dan energi, juga krisis lahan pertanian. ketika kita 
menanyai orang di kampung, mereka dengan jujur mengaku sebagai petani. tapi 
ketika kita tanya berapa luasan lahannya, dia akan bingung menjawab 
itu. bagaimana petani bisa jaya, jika alat-alat produksi seperti tanah, mereka 
tidak kuasai ?
 
kegagalan yang dilakukan oleh rejim orde baru selama ini adalah karena hanya 
mengejar pertumbuhan. bukan pemerataan yang di dahulukan. jika pertumbuhan 
ekonomi yg di kejar, maka akan melahirkan ketimpangan.karenanya, strategi 
pembangunan yg seperti itu harus di ubah. karena hanya akan menimbulkan 
penghisapan bagi petani miskin.
 
demikian dulu,
 
salam indonesia raya,
 
ewin laudjeng

--- On Mon, 3/2/09, Prabowo Subianto <[email protected]> wrote:

From: Prabowo Subianto <[email protected]>
Subject: [agromania] Salam Indonesia Raya -- Topik Pertanian, Jaktv
To: [email protected]
Date: Monday, March 2, 2009, 4:54 PM






Salam Indonesia Raya,
 
Sebagaimana antara lain, disampaikan oleh Saudara Ariganda yang saya banggakan, 
email pribadi,  tanggapan, terhadap saya memang banyak. Saya mengucapkan terima 
kasih tidak terhingga, dan menyampaikan maaf atas kerterlambatan menjawab, 
membalasnya. Namun saya berusaha membaca semuanya.
 
Senin pukul 22-23, kemarin, di saluran Jaktv, saya tampil dalam perbincangan 
sejam dengan Irma Hutabarat.  Semula saya ingin menitipkan pesan di sini, namun 
memutuskan tidak melalukan demi  menghindari kesan berkampanye. 
 
Topik utama yang saya sampaikan: ihwal pertumbuhan ekonomi yang harus dua 
digit, setidaknya 12% setahun, agar  GDP kita bisa  di atas US $ 2.000. Bila 
tidak dua digit, maka sudah bisa dipastikan di ulang tahun seabad kemerdekaan 
RI, 2045, negeri ini bukan makin sejahtera, tetapi sebaliknya. Apalagi 
pertumbuhan ekonomi secara signifikan hanya dinikmati oleh sekitar 3% saja dari 
total populasi penduduk.
 
Saya memaparkan bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi di angka dua digit itu.
 
Tiada lain tumpuan memang ke sektor pertanian.  Salah satu yang saya ungkap 
dari dialog tadi malam, Tuhan telah begitu menyayangi Indonesia, melalui 
keajaiban yang diberikan dengan menumbuhkan beragam tanaman bernilai ekonomi 
tinggi. Salah satu tanaman bernilai ekonomi tinggi yang tidak tumbuh di negeri 
lain itu  adalah Aren. Tanaman yang selama ini seakan dilupakan.
 
Dari satu hektar pohon Aren, menghasilkan bio-etanol 19 ton pertahun.  Saat ini 
Kolombia, Nigeria, bahkan Brazil, sudah mulai mengambil bibit Aren dari 
Sulawesi Utara untuk ditanam secara massal di negara mereka, mengingat 
pentingnya Aren bagi menghasilkan energi alternatif.
 
Sebanyak 59 juta hektar hutan kita harus dihijaukan kembali. Sekitar 13 juta 
petani tidak memiliki lahan sendiri. Sementara untuk menggarap satu hektar 
lahan Aren dibutuhkan SDM 3 orang. Jika saja 20 juta hektar  hutan mampu   
dihijaukan  dengan Aren, sudah akan menyerap tenaga kerja 60 juta. Otomatis  
petani yang  tidak memiliki lahan bisa terserap di sini. Dan potensi Indonesia 
menjadi negeri petro dolar mengganti Timur Tengah bukan suatu yang mustahil 
terjadi, melalui produksi etanol yang melimpah.
 
Oleh sebab itu,  lebih dari 60% penduduk yang bergerak di sektor pertanian 
kini, dengan anggaran di  APBN ke pertanian hanya 1,6% saja, inilah seharusnya 
diubah.   Jika untuk pendidikan saja 20% belum menunjukkan perubahan 
signifikan, maka angka 1,6 %  ke pertanian tersebut, memang membuat keadaan 
seakan kufur nikmat: potensi pertanian, perkebunan, perikanan sulit bergerak 
tumbuh.
 
Itulah salah satu contoh, kita baru bicara satu jenis tanaman saja.
 
Pada kesempatan lain, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal lain yang berkait 
ke pertanian. Dan ini semua, dengan kerendahan hati, mengingat di sini banyak 
ahli, praktisi, pakar pertanian, saya mohon untuk  dikritisi duji dan dikaji.
 
Sementara demikian.
 
Terima kasih,
Prabowo Subianto
salam.prabowo@ yahoo.com
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke