Memang sungguh ironis bagi bangsa Indonesia yang telah dianugerahi kesuburan 
malah memilih menjadi negara industri. Sedangkan untuk menjadi bangsa (maaf) 
kuli pabrik kita masih belum siap. 
Bagi Indonesia, syukur berarti menggarap sawah dan kebun untuk dijual hasilnya 
untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Jika tidak, maka nasib bangsa ini akan 
selamanya tergantung pada asing. Impor beras dan sejenisnya tidak akan 
terdengar lagi. Mari sama-sama memajukan bangsa ini. SDM yang layak akan tetap 
dibutuhkan selagi bangsa ini masih makan hasil pertanian.
Padahal, negara asing sudah terbukti sangat menginginkan negara ini karena 
kesuburan Loh Jinawi tanah dan kayanya laut kita.
Saya optimis dengan kembalinya bangsa ini mengolah lahan dan memanfaatkan 
industri hulu maupun hilir berkaitan dengan pertanian, Indonesia akan menjadi 
swa sembada. Sehingga, keberhasilan itu (swa sembada) tidak sepantasnya diklaim 
sebagai keberhasilan seseorang.
Saya pernah menonton TVRI episode tentang pengolahan pertanian di Prancis. 
Mereka hanya mengandalkan 2% dari penduduk mereka untuk mengolah pertanian, 
peternakan dan kelautan. Sepertinya kita malu jika dibandingkan dengan 
kenyataan pada bangsa kita tercinta ini. 1,6% APBN untuk 60% penduduk Indonesia 
sungguh tidak rasional.



--- Pada Sen, 2/3/09, Fahad Ismet <[email protected]> menulis:
Dari: Fahad Ismet <[email protected]>
Topik: Re: [agromania] Salam Indonesia Raya -- Topik Pertanian, Jaktv
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 2 Maret, 2009, 8:16 PM











    
            Selamat pagi Bapak.



Pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian merupakan hal yg saya impikan, dan 
masalahnya ada di SDM, bukan lahan, bukan pula modal.

Terlepas dari pro kontra kehadiran Bapak di milis ini, anggota Agromania yg 
tersebar di seluruh nusantara dapat menjadi kontrol utk program2 HKTI.

Usul dr kami:

Bapak atau staf bapak bisa melampirkan detail program kerja HKTI utk setiap 
daerah via milis ini, dan anggota Agromania akan mengamati ataupun terlibat 
langsung.

fahad - Garut

kuli ngebor yg lg bertani organik



____________ _________ _________ __

From: Prabowo Subianto <salam.prabowo@ yahoo.com>

To: agroma...@yahoogrou ps.com

Sent: Tuesday, March 3, 2009 7:54:24 AM

Subject: [agromania] Salam Indonesia Raya -- Topik Pertanian, Jaktv



Salam Indonesia Raya,

 

Sebagaimana antara lain, disampaikan oleh Saudara Ariganda yang saya banggakan, 
email pribadi,  tanggapan, terhadap saya memang banyak. Saya mengucapkan terima 
kasih tidak terhingga, dan menyampaikan maaf atas kerterlambatan menjawab, 
membalasnya. Namun saya berusaha membaca semuanya.

 

Senin pukul 22-23, kemarin, di saluran Jaktv, saya tampil dalam perbincangan 
sejam dengan Irma Hutabarat.  Semula saya ingin menitipkan pesan di sini, namun 
memutuskan tidak melalukan demi  menghindari kesan berkampanye. 

 

Topik utama yang saya sampaikan: ihwal pertumbuhan ekonomi yang harus dua 
digit, setidaknya 12% setahun, agar  GDP kita bisa  di atas US $ 2.000. Bila 
tidak dua digit, maka sudah bisa dipastikan di ulang tahun seabad kemerdekaan 
RI, 2045, negeri ini bukan makin sejahtera, tetapi sebaliknya. Apalagi 
pertumbuhan ekonomi secara signifikan hanya dinikmati oleh sekitar 3% saja dari 
total populasi penduduk.

 

Saya memaparkan bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi di angka dua digit itu.

 

Tiada lain tumpuan memang ke sektor pertanian.  Salah satu yang saya ungkap 
dari dialog tadi malam, Tuhan telah begitu menyayangi Indonesia, melalui 
keajaiban yang diberikan dengan menumbuhkan beragam tanaman bernilai ekonomi 
tinggi. Salah satu tanaman bernilai ekonomi tinggi yang tidak tumbuh di negeri 
lain itu  adalah Aren. Tanaman yang selama ini seakan dilupakan.

 

Dari satu hektar pohon Aren, menghasilkan bio-etanol 19 ton pertahun.  Saat ini 
Kolombia, Nigeria, bahkan Brazil, sudah mulai mengambil bibit Aren dari 
Sulawesi Utara untuk ditanam secara massal di negara mereka, mengingat 
pentingnya Aren bagi menghasilkan energi alternatif.

 

Sebanyak 59 juta hektar hutan kita harus dihijaukan kembali. Sekitar 13 juta 
petani tidak memiliki lahan sendiri. Sementara untuk menggarap satu hektar 
lahan Aren dibutuhkan SDM 3 orang. Jika saja 20 juta hektar  hutan mampu   
dihijaukan  dengan Aren, sudah akan menyerap tenaga kerja 60 juta. Otomatis  
petani yang  tidak memiliki lahan bisa terserap di sini. Dan potensi Indonesia 
menjadi negeri petro dolar mengganti Timur Tengah bukan suatu yang mustahil 
terjadi, melalui produksi etanol yang melimpah.

 

Oleh sebab itu,  lebih dari 60% penduduk yang bergerak di sektor pertanian 
kini, dengan anggaran di  APBN ke pertanian hanya 1,6% saja, inilah seharusnya 
diubah.   Jika untuk pendidikan saja 20% belum menunjukkan perubahan 
signifikan, maka angka 1,6 %  ke pertanian tersebut, memang membuat keadaan 
seakan kufur nikmat: potensi pertanian, perkebunan, perikanan sulit bergerak 
tumbuh.

 

Itulah salah satu contoh, kita baru bicara satu jenis tanaman saja.

 

Pada kesempatan lain, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal lain yang berkait 
ke pertanian. Dan ini semua, dengan kerendahan hati, mengingat di sini banyak 
ahli, praktisi, pakar pertanian, saya mohon untuk  dikritisi duji dan dikaji.

 

Sementara demikian.

 

Terima kasih,

Prabowo Subianto

salam.prabowo@ yahoo.com



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke