Salam Agromania,

Mengingat potensi dan kekayaan alam Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa 
lain. Maka kita mestinya mampu untuk tidak menyerahkan begitu saja 
pengelolaannya kepada bangsa asing.
Masih banyak putra-pitri negeri yang mampu untuk mengelola potensi yang alam 
yang kita miliki. 
Berikan kesempatan bagi bangsa sendiri untuk mengelola milik bangsa sendiri.

Sekarang banyak bangsa-bangsa tetangga yang jelas-jlas melirik apa yang kita 
miliki.
Dan dengan arogannya mereka menjadi bos di ladang milik buruhnya........

Malaysia dengan bisnis kelapa sawitnya
Jepang dengan bisnis sayur dan ikannya
Korea, Amerika, Ausie, Taiwan, dll...dll.....

Akhirinya kita sebagai pemilik negeri malah hanya jadi penonton sambil gigit 
jari......

Ayo rekan-rekan...... bangkitkan semangat bangun negeri .....

Salam Agromania.......

[email protected] 
GetFreshy

--- On Tue, 3/3/09, sandi nugroho <[email protected]> wrote:

From: sandi nugroho <[email protected]>
Subject: Re: [agromania] Salam Indonesia Raya -- Topik Pertanian, Jaktv
To: [email protected]
Received: Tuesday, 3 March, 2009, 9:18 AM

Assalammualaikum wr wb

Dengan hormat,

Ide bapak untuk memajukan Indonesia melalui sektor pertanian cukup tepat.  Hal 
ini didukung dengan tersedianya sumber daya alam yang berlimpah dan cukup 
tersedianya sumberdaya manusia. Apa yang telah bapak lakukan selama ini 
melalaui kendaraan HKTI banyak manfaatnya, baik bagi petani (terutama buruh 
tani), nelayan serta bapak sendiri.  Menurut pengalaman saya, selama ini 
pembangunan di sektor pertanian tidak dilakukan dengan terencana (tdk ada blue 
print utk pembangunan pertanian) dan tidak dilakukan secara komprehensif. Hal 
ini ditandai oleh adanya program2 pertanian yang "sepertinya" diputuskan secara 
instan (tiba saat tiba akal) oleh pemerintah. Revitalisasi pertanian yang dulu 
digembar gemborkan oleh pemerintah untuk memajukan pertanian Indonesia ternyata 
hanya wacana.  Saat ini pelaku usaha (on farm) sektor pertanian sudah sangat 
menderita, sampai kapan kita bergelut dengan ketidak pastian seperti ini.

Dimata negara2 di dunia, kekuatan ekonomi Indonesia yg bertumpu pada sektor 
pertanian merupakan ancaman di bidang ekonomi di masa depan.  Beberapa negara 
di dunia berusaha untuk membatasi ekspor komoditas pertanian dari Indonesia 
masuk ke negara tersebut. Misal nya. saat ini negara2 EU berusaha membatasi 
masuknya produk pertanian dari Indonesia (CPO) ke kawasan EU dengan 
memberlakukan aturan2 yang disebut RSPO (Round Table on Sustainable of Palm 
Oil). Mengapa negara2 EU memberlakukan aturan RSPO kr secara ekonomis harga CPO 
lebih murah dibandingkan harga minyak nabati (soybean oil, sunflower oil) 
yg mereka hasilkan (EU).  Selain itu CPO dan produk turunannya merupakan bahan 
baku bagi 250 macam industri dan serta bahan bakar alternatif (biodiesel).  
Jika bangsa Indonesia tidak tanggap untuk segera menyelesaikan masalah ini, 
bukan tidak mungkin CPO yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia tidak dapat masuk 
ke EU.

Saya percaya bangsa Indonesia mampu menjadi bangsa yang besar dengan pilar 
sektor pertanian.  Bagaimana caranya ???  cukup mudah dimana  pihak yang 
berkepentingan duduk bersama dan membuat rumusan rencana pembangunan pertanian 
Indonesia untuk 10 - 20 th ke depan.  Pihak2 tersebut adalah : (1) On Farm 
(petani, perusahaan); (2) Off Farm (industri pupuk, alat pertanian dll); (3) 
Supporting Unit (akademisi, peneliti, LSM, lembaga keuangan dll)  duduk bersama 
untuk merumuskan rencana pembangunan sektor pertanian (blue print) sehingga 
arah dan tujuan dari pembangunan sektor pertanian Indonesia menjadi jelas dan 
terarah.

Wassalam wr wb


Sandi Nugroho




 



________________________________
From: Prabowo Subianto <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, March 3, 2009 7:54:24 AM
Subject: [agromania] Salam Indonesia Raya -- Topik Pertanian, Jaktv


Salam Indonesia Raya,
 
Sebagaimana antara lain, disampaikan oleh Saudara Ariganda yang saya banggakan, 
email pribadi,  tanggapan, terhadap saya memang banyak. Saya mengucapkan terima 
kasih tidak terhingga, dan menyampaikan maaf atas kerterlambatan menjawab, 
membalasnya. Namun saya berusaha membaca semuanya.
 
Senin pukul 22-23, kemarin, di saluran Jaktv, saya tampil dalam perbincangan 
sejam dengan Irma Hutabarat.  Semula saya ingin menitipkan pesan di sini, namun 
memutuskan tidak melalukan demi  menghindari kesan berkampanye. 
 
Topik utama yang saya sampaikan: ihwal pertumbuhan ekonomi yang harus dua 
digit, setidaknya 12% setahun, agar  GDP kita bisa  di atas US $ 2.000. Bila 
tidak dua digit, maka sudah bisa dipastikan di ulang tahun seabad kemerdekaan 
RI, 2045, negeri ini bukan makin sejahtera, tetapi sebaliknya. Apalagi 
pertumbuhan ekonomi secara signifikan hanya dinikmati oleh sekitar 3% saja dari 
total populasi penduduk.
 
Saya memaparkan bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi di angka dua digit itu.
 
Tiada lain tumpuan memang ke sektor pertanian.  Salah satu yang saya ungkap 
dari dialog tadi malam, Tuhan telah begitu menyayangi Indonesia, melalui 
keajaiban yang diberikan dengan menumbuhkan beragam tanaman bernilai ekonomi 
tinggi. Salah satu tanaman bernilai ekonomi tinggi yang tidak tumbuh di negeri 
lain itu  adalah Aren. Tanaman yang selama ini seakan dilupakan.
 
Dari satu hektar pohon Aren, menghasilkan bio-etanol 19 ton pertahun.  Saat ini 
Kolombia, Nigeria, bahkan Brazil, sudah mulai mengambil bibit Aren dari 
Sulawesi Utara untuk ditanam secara massal di negara mereka, mengingat 
pentingnya Aren bagi menghasilkan energi alternatif.
 
Sebanyak 59 juta hektar hutan kita harus dihijaukan kembali. Sekitar 13 juta 
petani tidak memiliki lahan sendiri. Sementara untuk menggarap satu hektar 
lahan Aren dibutuhkan SDM 3 orang. Jika saja 20 juta hektar  hutan mampu   
dihijaukan  dengan Aren, sudah akan menyerap tenaga kerja 60 juta. Otomatis  
petani yang  tidak memiliki lahan bisa terserap di sini. Dan potensi Indonesia 
menjadi negeri petro dolar mengganti Timur Tengah bukan suatu yang mustahil 
terjadi, melalui produksi etanol yang melimpah.
 
Oleh sebab itu,  lebih dari 60% penduduk yang bergerak di sektor pertanian 
kini, dengan anggaran di  APBN ke pertanian hanya 1,6% saja, inilah seharusnya 
diubah.   Jika untuk pendidikan saja 20% belum menunjukkan perubahan 
signifikan, maka angka 1,6 %  ke pertanian tersebut, memang membuat keadaan 
seakan kufur nikmat: potensi pertanian, perkebunan, perikanan sulit bergerak 
tumbuh.
 
Itulah salah satu contoh, kita baru bicara satu jenis tanaman saja.
 
Pada kesempatan lain, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal lain yang berkait 
ke pertanian. Dan ini semua, dengan kerendahan hati, mengingat di sini banyak 
ahli, praktisi, pakar pertanian, saya mohon untuk  dikritisi duji dan dikaji.
 
Sementara demikian.
 
Terima kasih,
Prabowo Subianto
salam.prabowo@ yahoo.com




      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

-----------------------------------------
AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)
INFORMASI: http://www.agromania.co.cc
FORMULIR: http://www.formulirabc.co.cc
DIREKTORI: http://www.direktoriabc.co.cc
MAILING LIST: http://www.milisabc.co.cc
PUSAT DATA: http://www.agrodata.co.cc
-----------------------------------------Yahoo! Groups Links






      Stay connected to the people that matter most with a smarter inbox. Take 
a look http://au.docs.yahoo.com/mail/smarterinbox

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke