On 6/9/06, hanif hanif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> wassalamu alaikum warohmatullah,
>

Wa 'alaikumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,

> Saya tidak tahu kenapa kalau ada anggota PKS bilang A, maka seolah2 itu
> adalah keputusan resmi partai/jamaah. Demi Allah saya nggak pernah dengar
> itu. Jangan menyebarkan kabar yg nggak2. Teman saya banyak yg keluar dan
> biasa saja.
>

Berkenaan perkataan tersebut silakan Mas Hanif hubungi Pak Syamsul
secara langsung karena telah ia katakan "Jika ingin mengetahui
sumbernya nanti saya berikan via japri". Terus terang saya pun ingin
tahu.

Mengenai perkataan individu saya pun pernah menjumpai perkataan
pendukung PKS seperti "kalau dari salafy sih ane gak percaya lagi".
Ungkapan ini diterima oleh teman saya oleh kerabatnya yang pendukung
PKS. Bahkan teman saya dicemooh karena masalah kerajaan (kerabatnya
itu mendukung demokrasi tentunya). Bicara masalah demokrasi, PKS jelas
mendukung demokrasi - tidak sekadar "terpaksa" - karena di Bogor
pernah saya jumpai spanduk PKS berbunyi "Jangan ambil demokrasiku"
atau semacamnya.

Saya juga pernah menerima "teguran" dari pendukung PKS ketika saya
ingin menjelaskan masalah "Di manakah Allah?" karena menurutnya hal
itu tidak terlalu berguna. Sedihnya bukan main saya.

Bahkan ada perkataan yang lebih jahat dari itu yakni celaan terhadap
Syaikh Muqbil rahimahullah karena beliau menentang IM dengan ungkapan
"seorang munafiqin Yaman bernama Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i". Allahul
musta'aan. Perkataan ini dinyatakan di komentar suatu blog.

Tidaklah saya katakan bahwa perkataan-perkataan itu sesuatu yang resmi
dari PKS dan mungkin saja itu dibuat orang untuk mencoreng citra PKS.
Akan tetapi, ini adalah bagian dari "waqi'".

Akan tetapi sebaliknya, pengalaman teman Mas Hanif yang banyak keluar
dan biasa saja juga apakah keputusan resmi partai/jamaah? Juga
misalnya dukungan murabbi Mas Hanif untuk belajar di kajian salafi.
Bagaimanakah "keputusan resmi" tersebut?

Bagaimana dengan buku "Ikhwanul Muslimin: Anugerah Allah Yang
Terzhalimi" yang di dalamnya justru banyak kezhaliman? Penulis
menyatakan bahwa fatwa Syaikh Ibn Baz rahimahullah bahwa IM termasuk
72 golongan berarti Syaikh menyatakan jama'ah IM sebagai ahli neraka.
Padahal tidak demikian karena ahli neraka berarti kekal di neraka. Ia
juga mengesankan bahwa Syaikh berfatwa hanya berdasarkan "bisikan
sekelilingnya". Apakah buku tersebut direstui secara resmi? Di
Indonesia cukup populer lho buku itu dan sebagian isinya juga dimuat
di web. Kerabat teman saya itu "merekomendasikannya".

Semoga Allah Ta'ala memberikan petunjuk kepada kita semua dan
mengampuni semua kesalahan kita.

Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
-- 
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke