NASEHAT UNTUK PEMBERI NASEHAT
Salah satu amalan mulia di dalam Islam adalah nasehat. Bahkan Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda "Agama adalah nasehat". Karena itulah
mengamalkan amalan dalam Islam haruslah memenuhi dua syarat: Ikhlas dan sesuai
dengan contoh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Berikut kutipan dari buku "Fikih Nasehat"�dan "Surat-surat Cinta"�tulisan
Ustadz Fariq Gasim Anuz. Keberadaan milis ini sebagai alternatif media saling
menasehati patut kita syukuri dan pengamalan saling menasehati tersebut
hendaknya diamalkan dengan adab dan akhlak yang baik. Mudah-mudahan tulisan ini
dapat bermanfaat bagi saya serta para pemberi nasehat dan orang yang butuh
nasehat.
Pengertian "Nasehat"
Kata "nasehat"� berasal dari bahasa arab, dari kata kerja "Nashaha"�yang
berarti "khalasa", yaitu berarti murni serta bersih dari segala kotoran, juga
bisa berarti "Khaatha"�yaitu menjahit.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah menukil ucapan Imam Khaththabi rahimahullah,
"Nasehat itu adalah suatu kata untuk menerangkan satu pengertian, yaitu
keinginan kebaikan bagi yang dinasehati."
Imam Khaththabi rahimhullah menjelaskan arti kata "Nashaha"�sebagaimana dinukil
oleh Imam Nawawi rahimahullah, "Dikatakan bahwa "nashaha"�diambil dari "nashatu
al-"�asla", apabila saya menyaring madu agar terpisah dari lilinnya sehingga
menjadi murni dan bersih, mereka mengumpamakan pemilihan kata-kata agar tidak
berbuat kesalahan dengan penyaringan madu agar tidak bercampur lilinnya."
Dan dikatakan kata "nasehat"�berasal dari "nashaha ar-rajulu tsaubahu (orang
itu menjahit pakaiannya), apabila dia menjahitnya, maka mereka mengumpamakan
perbuatan penasehat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasehatinya
dengan jalan memperbaiki pakaiannya yang robek."�
Arti ucapan beliau Shallallahu "�Alaihi Wa Sallam "Dien itu adalah
nasehat"�bahwa nasehat itu merupakan tiang dari dien ini sebagaimana sabda
beliau, "Haji itu adalah Arafah,"�maksudnya wuquf di Arafah merupakan tiang
serta rukun dari ibadah haji. (Fikih Nasehat, Ustadz Fariq, penerbit Darus
Sunnah)
Berdakwah dengan lemah lembut
"Zaman ini zaman berdakwah dengan lemah lembut sabar dan hikmah (bijaksana),
bukan zaman (berdakwah dengan) keras. Kebanyakan manusia tidak mengerti, lalai
dan lebih mengutamakan dunia maka haruslah sabar, haruslah dengan
kelemah-lembutan, sehingga dakwah itu bisa sampai kepada mereka dan mereka
dapat mengetahui."�(Syaikh Bin Baz)
Syaikh Husain bin Audah al Awaisyah setelah beliau membawakan hadits Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam, dari Ubadah bin Syarahbil, ia berkata, "Ketika
saya diserang rasa lapar, saya masuk ke salah satu kebun di Madinah. Saya
memetik butir-butir gandum. Sebagian saya makan dan sebagian lagi saya bawa
dalam pakaian. Tiba-tiba pemilik kebun tadi datang. Ia lalu memukul dan
merampas bajuku. Setelah itu saya datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi
wa Sallam. Beliau pun berbicara kepada pemilik kebun, "Tidakkah sebaiknya
engkau mengajarinya apabila orang itu jahil, dan tidakkah engkau beri makan
apabila dia lapar?"�Beliau lantas memerintahkan pemilik kebun tersebut untuk
mengembalikan pakaianku dan memberiku makanan satu atau setengah pikulan."�(HR.
Ahmad (4/166-167), Abu Daud ( 1/408-409), Ibn Majah (2/44), Baihaqi (10/2),
Ibnu Saad (7/55) dan Al hakim (4/133), ia berkata: "Shahih
isnadnya."�Disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani mengatakan:
"Seperti apa yang dikatakan oleh keduanya."�{Lihat Silsilah Ash Shahihah No.
2229}
Syaikh Husain berkata, "Hadits ini membimbing kita untuk bersikap hikmah dan
memberi nasehat dengan cara yang baik dalam berdakwah menyeru kepada Allah
Ta'ala, serta membimbing kita tentang cara bergaul dengan manusia. Hadits ini
membimbing kita agar memberi perhatian kepada manusia yang mempunyai tabiat dan
kondisi berbeda-beda. Di samping juga mengingatkan kita akan pentingnya ilmu
dan pendidikan sebagaimana dalam sabdanya, "Tidakkah engkau mengajarnya apabila
orang itu jahil"."� (Dikutip dari Buku Surat-surat Cinta, Ustadz Fariq Gasim
Anuz, Penerbit Darus Sunnah, Jakarta, Cetakan pertama September 2009)
Sekedar nasehat dari saya, semoga berkenan, jika ada kekeliruan dari saudara
kita, dalam hal ini tulisan-tulisan di milis ini maka hendaknya kita hadapi
dengan lemah lembut. Mungkin saja saudara kita yang keliru tersebut memang sama
sekali tidak tahu sehingga kewajiban yang tahu memberi tahu dengan cara yang
baik. Kemudian sedapat mungkin jauhi sikap arogan atau kibr yang diharamkan
dalam syariat. Kita mengetahui definisi sombong adalah menolak kebenaran dan
merendahkan manusia sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
الكبر بطر الحق وغمط الناس
Jauhi menolak kebenaran bagi orang yang dinasehati jika isi nasehat tersebut
adalah benar dan jauhi merendahkan manusia dan menganggap diri lebih pintar
bagi pemberi nasehat. Selain itu bagi pemberi nasehat hendaknya memahami bahwa
menerima kebenaran itu adalah perkara yang berat, jangan diperberat lagi dengan
buruknya cara penyampaian nasehat tersebut.
Mengenai penggunaan caps lock saya kira hal itu berpengaruh terhadap isi
tulisan, sehingga hal tersebut bisa saja menimbulkan multi-interpretasi. Namun
sekalipun demikian, wallahu a'lam, kita kedepankan husnuzhon bahwa orang yang
menggunakan caps lock tersebut bukanlah orang yang tidak bersikap hikmah dalam
dakwah. Sekiranya hal ini menimbulkan madhorot, dengan adanya
multi-interpretasi dengan penggunaan caps lock tersebut menurut saya sebaiknya
tidak menggunakan caps lock ketika mengemukakan sesuatu di tengah-tengah
kalimat. Lain halnya untuk penulisan judul tulisan, demikian yang kita pahami
bersama dari kaidah penulisan huruf kapital. Atau mungkin dari admin milis ini
membuat aturan baku tentang tidak bolehnya penggunaan caps lock yang tidak
sesuai kaidah.
Wallahu a'lam. Mudah-mudahan bermanfaat untuk saya dan ikhwan semua.
Abu Maryam Cilegon
________________________________
From: fulanah ghorib <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, June 9, 2010 9:17:40 AM
Subject: Re: [assunnah] Urgent : Butuh Ibu susuan
Assalamualaikum.
Kepada sesama ahlu sunnah , knp kita tidak saling berlemah lembut
Bila ada kata ato sikap yg kurang pas mestinya yg lebih tau sunnah
mengapresiasi kata ato sikap tsb kpd sikap ato kata yg lebih baik untuk
menunjukan inilah ahlu sunnah
Nasehat ulama ' bawalah sikap ato kata saudaramu itu pada penafsiran yg paling
baik'
afwan .. jika ada yg tdk berkenan
wassalamualakum