yup, film Indonesia yang di shoot secara digital biasanya menggunakan kamera 
consumer level yang harga di US-nya sekitar $2000 dan $3000-an yang Hollywood 
pun tidak akan meliriknya.

Coming to Indonesia in October 2009
Book Your ISF Calibration Seminar Today
3-day seminar/exam
hosted by Joel Silver (ISF Founder) & David Susilo (Calibrator / Photographer)
 
 
[total solutions] for your home cinema and marketing needs
[email protected]
 
take a gander atwww.davidsusilo.com 
 
 
 

To: [email protected]: [email protected]: Mon, 2 Feb 2009 
15:25:14 +0700Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop
Thanks pa Inpox utk penjelasannya yg lebih rinci.
 
>>>>1 frame dgn resolusi 4K bisa berukuran 170MB.. 
 
Mungkin agar lebih "ngeri" membayangkan ukuran data yg perlu disimpan untuk 1 
film durasi 90 menit. Silakan bayangkan bahwa untuk 1 detik film terdapat 24 
frame 35mm. Artinya 1 detik = 4080MB atau 4,08 GB (24 frames x 170MB).....
 
Untuk 1 menit (= 60 detik) = 244.800MB atay 244,8 GB 
 
Sehingga 90 menit adalah 90 x 244,8 GB = ......!!!!!
 
 
heheheh....
 
 
Makanya kalau film Indonesia belakangan banyak yg dikerjakan pada format 
digital (pada saat pengambilan), dgn alasan murah.... Itu karena itu hanya 
hasil blow-up digital video ke 35 mm saat diproyeksikan ke bioskop. Bukan 
digital presentation yg dimaksud oleh Hollywood standard. Buat saya sih....itu 
mah sinetron di layar lebar (dari segi pembuatannya)...he...h.e....
 
 
Karenanya kalau Garin atau Mira Lesmana...tetap menggunakan selluloid pada saat 
produksinya.
 
cheers,
 
winbert
www.winbert.co.cc
 
 
 
________________________
Mencari Piringan Hitam (PH) Rock, Progressive, Metal, Blues, Jazz, Country, 
Pop, Punk, New Age, New Wave, dll? kunjungi www.piringanhitam.co.cc utk koleksi 
langka. List tersedia!!

----- Original Message ----- 
From: Iponxonik 
To: [email protected] 
Sent: Monday, February 02, 2009 1:20 PM
Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop



Mau nambahin sedikit soal perbandingan kualitas gambar di BluRay dan di 
bioskop..
Tentu saja kualitas gambar di bioskop JAUH lebih bagus dari BluRay jika dilihat 
dari resolusinya..
 
Resolusi video di dunia broadcast berdasarkan resolusi dibagi menjadi 3..
SD (Standard Definiton), HD (High Definition) dan DATA.
 
Resolusi SD:
NTSC 720 x 480
PAL 768 x 576
 
Resolusi HD:
1280 x 720
1440 x 1080
1920 x 1080
 
Resolusi DATA
2K 2048 x 1365
4K 4096 x 2731
6K 6144 x 4668
8K 8192 x 5462
 
Mengapa resolusi 2K-8K disebut DATA, karena hasil scan pd resolusi tersebut 
hanya bisa di output dalam bentuk sequence file (Targa Sequence, Cineon 
Sequence dll), sementara resolusi SD dan HD masih bisa di output ke tape 
digital..
 
Resolusi 2K biasa dipakai untuk film yg di shoot menggunakan Super 16mm dan 
35mm..
Resolusi 4K dipakai untuk 35mm..
Untuk merekam semua informasi yang ada di frame 35mm, dibutuhkan resolusi 6K.. 
Tapi masih jarang film yg menggunakan resolusi ini untuk pengerjaan 
post-productionnya, karena msh terlalu mahal.
Hampir semua film hollywood yang menggunakan teknik Digital Intermediate 
dikerjakan dan di output pada resolusi 4K..
Digital Intermediate adalah istilah dimana sebuah film di shoot dengan film 
35mm, lalu hasil shooting tsb di scan untuk di color correct diberi efek visual 
dll, dan di record ke 35mm negative.
Untuk sequence IMAX film The Dark Knight, digunakan resolusi 6.5K
 
Resolusi tertinggi kamera video digital saat ini adalah 4K..
Kamera2 itu antara lain Arriflex D-21, Panavision Genesis, Dalsa Origin dan Red 
Camera.
 
Selain resolusi, kualitas gambar digital jg dipengaruhi oleh kompresi..
Jika kita bekerja sepenuhnya pada format analog, tentu tidak ada yg namanya 
digital compression.. Tidak akan ada penurunan kualitas.
Tapi jika kita bekerja pada format digital, kita harus berurusan dengan yang 
namanya digital compression. 
Pada dunia digital, apabila kita menginginkan kualitas yang sama dgn materi 
aslinya, maka kita akan membutuhkan data yang sangat besar.
Pada pengerjaan post-production sebuah film, kita bekerja dengan materi gambar 
digital uncompressed. 1 frame dgn resolusi 4K bisa berukuran 170MB.. Ini 
dilakukan agar tidak terjadi penurunan kualitas pada hasil akhirnya, yaitu ke 
print 35mm..
Untuk kebutuhan rilis BluRay dan DVD, tentu harus dilakukan penurunan resolusi 
(down-convert) agar film itu cukup untuk disimpan pada keping DVD/BluRay.. 
Salah satu prosesnya adalah dgn melakukan digital compression..
Sementara gambar yang kita lihat di bioskop adalah hasil print langsung dr 
materi 4K uncompressed, jadi gak mungkin lah kita bilang bahwa gambar BluRay 
lbh baik dari gambar di bioskop...
 

----- Original Message ----- 
From: Winbert Hutahaean 
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, January 28, 2009 1:11 PM
Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop



Proyektor yg pakai Pedastial (berdiri dan ditanam) memang bisa menampung satu 
rol film penuh, dengan extended arm. Tapi bisa dibayangkan lingkar rolnya akan 
sangat besaaaaarrr...
 
Namun inti dari pemecahan menjadi beberapa rol kecil, bukan hanya karena hal di 
atas, tapi lebih kepada faktor ekonomis, karena bisa diputar bersamaan oleh 3 
bioskop.
 
Jangan bayangkan bahwa 1 copy film itu sama atau sedikit di atas harga keping 
BluRay disc. Jauh sekali.... !
 
Untuk film 8mm saja (yang saya pakai), 1 kopi film (durasi 90 menit) berharga 3 
juta. Maka utk 35mm, kasarnya adalah 4.5 x lipat (karena memang ukuran filmnya 
4.5x lipat). Kemudian ada biaya untuk soundtrack.  Mungkin untuk harga 
sekarang, 1 kopi film bisa sekitar 20-30jt belum termasuk dengan penambahan 
teks, yang dilakukan per-copy film (tidak menggunakan negative) dengan hitungan 
per-karakter (termasuk spasi)!!
 
Karena itu, cara paling ekonomis adalah dengan memutar bersama 2-3 bioskop. 
Sehingga idle time dari kopi tersebut berkurang. Karena itu, waktu tayang 
bioskop selalu berselisih 20-30 menit. Karena durasi ini sama dengan 2 rol 
ukuran kecil (sebesar tas ransel). 
 
Inilah rol yg dibawa putar-putar dengan motor. Kayanya Pa Polisi sudah ada 
komitmen tidak tertulis untuk tidak menilang motor ini kalau berlaku "bajingan" 
di jalan.
 
BTW, soal nonton di rumah...memang cara paling ekonomis dan nyaman (tergantung 
orangnya sih...). Tapi menurut saya, kalau kita tidak mendukung denyut nadi 
bioskop, maka bioskop itu yg akan mati. 
 
Makanya kita yg harus lebih kritis kpd projectionist utnuk menampilkan yg 
terbaik. Karena sebenarnya, belum ada HDTV atau apapun yg mengalahkan tayangan 
bioskop (yg dilkaukan dgn benar) jika menilik kpd resolusi yg ditampilkan.
 
Ok...ini akan mengarah kepada debat klasik "Analog vs Digital"..he...he...
 
 
cheers,
 
winbert
 
_________________
Mencari Piringan Hitam (PH) Rock, Progressive, Metal, Blues, Jazz, Country, 
Pop, Punk, New Age, New Wave, dll? kunjungi www.piringanhitam.co.cc utk koleksi 
langka. List tersedia!!

----- Original Message ----- 
From: Daniel H.T. 
To: [email protected] 
Sent: Tuesday, January 27, 2009 11:32 PM
Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop



Pak Wiyono, pertunjukan film yg terputus karena alasan tukang antar film yang 
terlambat, bukankah cerita lama? Khususnya untuk bioskop2 modern saat ini? 
Kalau saya tidak salah, bioskop2 modern kelas atas sekarang ini hanya 
menggunakan satu rol film, atau palingbanyak  untuk satu film. Jadi tidak perlu 
ganti2 rol film untuk satu film yg terbagi atas beberapa rol??
Tolong koreksi kalau saya salah.
 
Ya, memeng betul, ke bioskop untuk nonton film baru, yang belum ada format 
DVD/BD original-nya, tetapi kalau mau sabar, 'kan bisa menontonnya DVD/BD 
originalnya sekitar 3-4 bulan sesudah main di bioskop? Itu tidak terasa karena 
sepanjang waktu tunngu tsb telah antri film2 lainnya format DVD/BD yg kita 
tonton di rumah. Yang kita dapatkan adalah kualitas gambarnya yang jauh di atas 
bioskop. Kecuali kalau memang tidak sabar, ya, "terpaksa" nonton di bioskop..:-)
 
Maka itu untuk film2 tertentu, saya nonton di bioskop. Kalau bagus, ketika 
BD-nya dirilis saya beli untuk koleksi pribadi.
 
 
Terma kasih

----- Original Message ----- 
From: Wiyono 
To: [email protected] 
Sent: Tuesday, January 27, 2009 10:59 AM
Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop

Bioskop kan untuk nonton film baru pak Daniel.
Kalau mau nonton film baru di rumah kan cuma ada bajakannya.
Home theater saya kebanyakan untuk mengulang film yang lagi pingin ditonton.
 
Film jaman dulu memang ada intermissionnya kadang diawal dan ditengah film.
Biasanya intermision dibuat selain untuk istirahat ke wc juga untuk mendapatkan 
penghasilan tambahan dengan penjualan snack dan minuman.
Kalau di indonesia intermision mungkin dibuat untuk menunggu tukang antar film 
yang kena macet dijalan.
 
Wiyono
 


Kirim email ke