Proyektor yg pakai Pedastial (berdiri dan ditanam) memang bisa menampung satu rol film penuh, dengan extended arm. Tapi bisa dibayangkan lingkar rolnya akan sangat besaaaaarrr...
Namun inti dari pemecahan menjadi beberapa rol kecil, bukan hanya karena hal di atas, tapi lebih kepada faktor ekonomis, karena bisa diputar bersamaan oleh 3 bioskop. Jangan bayangkan bahwa 1 copy film itu sama atau sedikit di atas harga keping BluRay disc. Jauh sekali.... ! Untuk film 8mm saja (yang saya pakai), 1 kopi film (durasi 90 menit) berharga 3 juta. Maka utk 35mm, kasarnya adalah 4.5 x lipat (karena memang ukuran filmnya 4.5x lipat). Kemudian ada biaya untuk soundtrack. Mungkin untuk harga sekarang, 1 kopi film bisa sekitar 20-30jt belum termasuk dengan penambahan teks, yang dilakukan per-copy film (tidak menggunakan negative) dengan hitungan per-karakter (termasuk spasi)!! Karena itu, cara paling ekonomis adalah dengan memutar bersama 2-3 bioskop. Sehingga idle time dari kopi tersebut berkurang. Karena itu, waktu tayang bioskop selalu berselisih 20-30 menit. Karena durasi ini sama dengan 2 rol ukuran kecil (sebesar tas ransel). Inilah rol yg dibawa putar-putar dengan motor. Kayanya Pa Polisi sudah ada komitmen tidak tertulis untuk tidak menilang motor ini kalau berlaku "bajingan" di jalan. BTW, soal nonton di rumah...memang cara paling ekonomis dan nyaman (tergantung orangnya sih...). Tapi menurut saya, kalau kita tidak mendukung denyut nadi bioskop, maka bioskop itu yg akan mati. Makanya kita yg harus lebih kritis kpd projectionist utnuk menampilkan yg terbaik. Karena sebenarnya, belum ada HDTV atau apapun yg mengalahkan tayangan bioskop (yg dilkaukan dgn benar) jika menilik kpd resolusi yg ditampilkan. Ok...ini akan mengarah kepada debat klasik "Analog vs Digital"..he...he... cheers, winbert _________________ Mencari Piringan Hitam (PH) Rock, Progressive, Metal, Blues, Jazz, Country, Pop, Punk, New Age, New Wave, dll? kunjungi www.piringanhitam.co.cc utk koleksi langka. List tersedia!! ----- Original Message ----- From: Daniel H.T. To: [email protected] Sent: Tuesday, January 27, 2009 11:32 PM Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop Pak Wiyono, pertunjukan film yg terputus karena alasan tukang antar film yang terlambat, bukankah cerita lama? Khususnya untuk bioskop2 modern saat ini? Kalau saya tidak salah, bioskop2 modern kelas atas sekarang ini hanya menggunakan satu rol film, atau palingbanyak untuk satu film. Jadi tidak perlu ganti2 rol film untuk satu film yg terbagi atas beberapa rol?? Tolong koreksi kalau saya salah. Ya, memeng betul, ke bioskop untuk nonton film baru, yang belum ada format DVD/BD original-nya, tetapi kalau mau sabar, 'kan bisa menontonnya DVD/BD originalnya sekitar 3-4 bulan sesudah main di bioskop? Itu tidak terasa karena sepanjang waktu tunngu tsb telah antri film2 lainnya format DVD/BD yg kita tonton di rumah. Yang kita dapatkan adalah kualitas gambarnya yang jauh di atas bioskop. Kecuali kalau memang tidak sabar, ya, "terpaksa" nonton di bioskop..:-) Maka itu untuk film2 tertentu, saya nonton di bioskop. Kalau bagus, ketika BD-nya dirilis saya beli untuk koleksi pribadi. Terma kasih ----- Original Message ----- From: Wiyono To: [email protected] Sent: Tuesday, January 27, 2009 10:59 AM Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop Bioskop kan untuk nonton film baru pak Daniel. Kalau mau nonton film baru di rumah kan cuma ada bajakannya. Home theater saya kebanyakan untuk mengulang film yang lagi pingin ditonton. Film jaman dulu memang ada intermissionnya kadang diawal dan ditengah film. Biasanya intermision dibuat selain untuk istirahat ke wc juga untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan penjualan snack dan minuman. Kalau di indonesia intermision mungkin dibuat untuk menunggu tukang antar film yang kena macet dijalan. Wiyono
