setuju.. mungkin HD di rumah terasa lebih baik dari bioskop di indonesia karena: - layar di rumah tidak sebesar layar bioskop, jadi masih terasa "padatnya" gambar HD - kalibrasi/focus proyektor di bioskop indonesia tidak benar..
Iponxonik wrote: > Mau nambahin sedikit soal perbandingan kualitas gambar di BluRay dan di > bioskop.. > Tentu saja kualitas gambar di bioskop JAUH lebih bagus dari BluRay jika > dilihat dari resolusinya.. > > Resolusi video di dunia broadcast berdasarkan resolusi dibagi menjadi 3.. > SD (Standard Definiton), HD (High Definition) dan DATA. > > Resolusi SD: > NTSC 720 x 480 > PAL 768 x 576 > > Resolusi HD: > 1280 x 720 > 1440 x 1080 > 1920 x 1080 > > Resolusi DATA > 2K 2048 x 1365 > 4K 4096 x 2731 > 6K 6144 x 4668 > 8K 8192 x 5462 > > Mengapa resolusi 2K-8K disebut DATA, karena hasil scan pd resolusi tersebut > hanya bisa di output dalam bentuk sequence file (Targa Sequence, Cineon > Sequence dll), sementara resolusi SD dan HD masih bisa di output ke tape > digital.. > > Resolusi 2K biasa dipakai untuk film yg di shoot menggunakan Super 16mm dan > 35mm.. > Resolusi 4K dipakai untuk 35mm.. > Untuk merekam semua informasi yang ada di frame 35mm, dibutuhkan resolusi > 6K.. Tapi masih jarang film yg menggunakan resolusi ini untuk pengerjaan > post-productionnya, karena msh terlalu mahal. > Hampir semua film hollywood yang menggunakan teknik Digital Intermediate > dikerjakan dan di output pada resolusi 4K.. > Digital Intermediate adalah istilah dimana sebuah film di shoot dengan film > 35mm, lalu hasil shooting tsb di scan untuk di color correct diberi efek > visual dll, dan di record ke 35mm negative. > Untuk sequence IMAX film The Dark Knight, digunakan resolusi 6.5K > > Resolusi tertinggi kamera video digital saat ini adalah 4K.. > Kamera2 itu antara lain Arriflex D-21, Panavision Genesis, Dalsa Origin dan > Red Camera. > > Selain resolusi, kualitas gambar digital jg dipengaruhi oleh kompresi.. > Jika kita bekerja sepenuhnya pada format analog, tentu tidak ada yg namanya > digital compression.. Tidak akan ada penurunan kualitas. > Tapi jika kita bekerja pada format digital, kita harus berurusan dengan yang > namanya digital compression. > Pada dunia digital, apabila kita menginginkan kualitas yang sama dgn materi > aslinya, maka kita akan membutuhkan data yang sangat besar. > Pada pengerjaan post-production sebuah film, kita bekerja dengan materi > gambar digital uncompressed. 1 frame dgn resolusi 4K bisa berukuran 170MB.. > Ini dilakukan agar tidak terjadi penurunan kualitas pada hasil akhirnya, > yaitu ke print 35mm.. > Untuk kebutuhan rilis BluRay dan DVD, tentu harus dilakukan penurunan > resolusi (down-convert) agar film itu cukup untuk disimpan pada keping > DVD/BluRay.. Salah satu prosesnya adalah dgn melakukan digital compression.. > Sementara gambar yang kita lihat di bioskop adalah hasil print langsung dr > materi 4K uncompressed, jadi gak mungkin lah kita bilang bahwa gambar BluRay > lbh baik dari gambar di bioskop... > > ----- Original Message ----- > From: Winbert Hutahaean > To: [email protected] > Sent: Wednesday, January 28, 2009 1:11 PM > Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop > > > > Proyektor yg pakai Pedastial (berdiri dan ditanam) memang bisa menampung > satu rol film penuh, dengan extended arm. Tapi bisa dibayangkan lingkar > rolnya akan sangat besaaaaarrr... > > Namun inti dari pemecahan menjadi beberapa rol kecil, bukan hanya karena > hal di atas, tapi lebih kepada faktor ekonomis, karena bisa diputar bersamaan > oleh 3 bioskop. > > Jangan bayangkan bahwa 1 copy film itu sama atau sedikit di atas harga > keping BluRay disc. Jauh sekali.... ! > > Untuk film 8mm saja (yang saya pakai), 1 kopi film (durasi 90 menit) > berharga 3 juta. Maka utk 35mm, kasarnya adalah 4.5 x lipat (karena memang > ukuran filmnya 4.5x lipat). Kemudian ada biaya untuk soundtrack. Mungkin > untuk harga sekarang, 1 kopi film bisa sekitar 20-30jt belum termasuk dengan > penambahan teks, yang dilakukan per-copy film (tidak menggunakan negative) > dengan hitungan per-karakter (termasuk spasi)!! > > Karena itu, cara paling ekonomis adalah dengan memutar bersama 2-3 bioskop. > Sehingga idle time dari kopi tersebut berkurang. Karena itu, waktu tayang > bioskop selalu berselisih 20-30 menit. Karena durasi ini sama dengan 2 rol > ukuran kecil (sebesar tas ransel). > > Inilah rol yg dibawa putar-putar dengan motor. Kayanya Pa Polisi sudah ada > komitmen tidak tertulis untuk tidak menilang motor ini kalau berlaku > "bajingan" di jalan. > > BTW, soal nonton di rumah...memang cara paling ekonomis dan nyaman > (tergantung orangnya sih...). Tapi menurut saya, kalau kita tidak mendukung > denyut nadi bioskop, maka bioskop itu yg akan mati. > > Makanya kita yg harus lebih kritis kpd projectionist utnuk menampilkan yg > terbaik. Karena sebenarnya, belum ada HDTV atau apapun yg mengalahkan > tayangan bioskop (yg dilkaukan dgn benar) jika menilik kpd resolusi yg > ditampilkan. > > Ok...ini akan mengarah kepada debat klasik "Analog vs Digital"..he...he... > > > cheers, > > winbert > > _________________ > Mencari Piringan Hitam (PH) Rock, Progressive, Metal, Blues, Jazz, Country, > Pop, Punk, New Age, New Wave, dll? kunjungi www.piringanhitam.co.cc utk > koleksi langka. List tersedia!! > ----- Original Message ----- > From: Daniel H.T. > To: [email protected] > Sent: Tuesday, January 27, 2009 11:32 PM > Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop > > > > Pak Wiyono, pertunjukan film yg terputus karena alasan tukang antar film > yang terlambat, bukankah cerita lama? Khususnya untuk bioskop2 modern saat > ini? Kalau saya tidak salah, bioskop2 modern kelas atas sekarang ini hanya > menggunakan satu rol film, atau palingbanyak untuk satu film. Jadi tidak > perlu ganti2 rol film untuk satu film yg terbagi atas beberapa rol?? > Tolong koreksi kalau saya salah. > > Ya, memeng betul, ke bioskop untuk nonton film baru, yang belum ada > format DVD/BD original-nya, tetapi kalau mau sabar, 'kan bisa menontonnya > DVD/BD originalnya sekitar 3-4 bulan sesudah main di bioskop? Itu tidak > terasa karena sepanjang waktu tunngu tsb telah antri film2 lainnya format > DVD/BD yg kita tonton di rumah. Yang kita dapatkan adalah kualitas gambarnya > yang jauh di atas bioskop. Kecuali kalau memang tidak sabar, ya, "terpaksa" > nonton di bioskop..:-) > > Maka itu untuk film2 tertentu, saya nonton di bioskop. Kalau bagus, > ketika BD-nya dirilis saya beli untuk koleksi pribadi. > > > Terma kasih > ----- Original Message ----- > From: Wiyono > To: [email protected] > Sent: Tuesday, January 27, 2009 10:59 AM > Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop > > > Bioskop kan untuk nonton film baru pak Daniel. > Kalau mau nonton film baru di rumah kan cuma ada bajakannya. > Home theater saya kebanyakan untuk mengulang film yang lagi pingin > ditonton. > > Film jaman dulu memang ada intermissionnya kadang diawal dan ditengah > film. > Biasanya intermision dibuat selain untuk istirahat ke wc juga untuk > mendapatkan penghasilan tambahan dengan penjualan snack dan minuman. > Kalau di indonesia intermision mungkin dibuat untuk menunggu tukang > antar film yang kena macet dijalan. > > Wiyono > > > > -- Eep S. Maqdir -------------------------------- www.eepinside.com, www.inifotoku.com YM: esmaqdir, Powered by Thunderbird & MacBook Pro
