Dan Ironis nya.. setelah aksi demo pro reformasi sepuluh tahun lalu.. nasib bangsa ini tidak kunjung membaik.. dan boleh dibilang semakin terpuruk. Kita jadi berpikir.. ah... seandainya seperti sebelum sepuluh tahun lalu.. di saat premium masih di kisaran seribuan per liter, bahkan jauh sebelum itu.. saya masih sempat merasakan bensin 500 rupiah/liter. Seandainya seperti sebelum sepuluh tahun lalu.. di saat hanya dengan uang Rp 600, saya bisa beli sate kuah lengkap dengan nasi putih dan teh botol nya dibilangan GOR Ngurah Rai Denpasar.
Hari ini 100 tahun kebangkitan Nasional, pemerintah memberikan kado istimewa berupa rencana kenaikan BBM tiga hari lagi. Beberapa hari yang lalu, saya mendapat forward-an email dari salah satu teman. Mungkin teman2 di sini juga sudah dapat. saya sendiri juga nggak tahu tingkat keakuratan dan kebenaran isi attachment nya. attachment berisi lebih kurang semacam perhitungan yg menyatakan bahwa BBM tidak perlu naik. Jadi teringat cerita cupak grantang ngadek Ratu... Cupak yg pertama jadi Raja.. yg haus kekuasaan dan keserakahan.. lalu digulingkan oleh I Grantang. Lalu I Grantang naik tahta jadi Raja. Apa yg terjadi? Lama-kelamaan, lambat laun, Wajah I Grantang berubah secara perlahan.. lama2 kok muka nya jadi mirip Cupak ya.. :D Selamet gen.... jeg benyahang mekejang Ru!! T. 2008/5/20 yoskebe <[EMAIL PROTECTED]>: > Semeton Blogger... > > Sepuluh tahun yang lalu, pasti masih melekat disemua ingatan bulan Mei > 1998 merupakan bulan penuh dengan gempita demonstrasi di seluruh > pelosok negeri, terutama di kampus-kampus. Salah satunya di kampus > Udayana. > > Cengkeraman kuku-kuku rejim Orde Baru yang semakin kalap berusaha > menekan setiap elemen yang berusaha menyuarakan ketidakadilan yang > semakin menjadi-jadi ditengah keterpurukan bangsa. > > Saya tidak bercerita tentang heroik binti nasionalisnya semua yang > bergerak mengepalkan tangan dan melepas suara hingga habis demi > menjadi bagian dari "voice of the voiceless" dan mewujudkan "vox > populi vox dei" > namun ada sisi menarik dari semua gegap gempita itu. > > Panggung demonstrasi dan ajang turun ke jalan kemudian menjadi satu > lahan empuk bagi beberapa gelentir orang untuk unjuk muka disaat itu. > Semua upaya unjuk muka itu entah dilatar belakangi oleh tujuan apa tak > seorang pun bisa menebak, karena itulah dunia politik, penuh dengan > intrik bermuka sepuluh. > > Maka tak heran, pada rapat2 persiapan demo dan dalam percakapan > dikalangan terbatas muncul istilah 'SELEBRITI AKSI" yang ditujukan > pada oknum2 yang berusaha mencari eksistensi diri demi melabelkan diri > sebagai orang yang terdepan menyuarakan amanat penderitaan rakyat. > > Sungguh dan sungguh lucu jika melihat kelakuan para selebriti aksi > itu. Pada saat panggung dibuka, mereka dengan sigap berdiri didepan > kemudian jika suasana beralih ke warming up untuk head to head dengan > barisan polisi anti huru hara posisi pindah menuju barisan paling > belakang, nah pada saat pentungan pertama beradu dengan batok kepala > maka para selibriti aksi dengan sigap mengambil langkah seribu > menyelamatkan diri. > > Apa yang terjadi setelah semua adu pentungan dan harumnya gas air mata > reda ? Selebriti aksi dengan gagah rupawan berada dibarisan depan > dengan memasang tampang penuh percaya diri untuk siap berbicara > didepan kamera, tape recorder para pemburu berita. Ah.. andaikata > koran di kota kita sudah memberi ruang berita dengan tanda bintang > (xx*) pasti sang selebriti aksi tak perlu sampai membuat rambutnya > kacau baliau karena tertiup angin saat lintang pukang mencari > persembunyian. > > Dari tingkah polah selebriti aksi itu aku sendiri bisa menilai siapa > sebenarnya yang benar-benar menyuarakan semua ketidakadilan tanpa > bermain sandiwara diatas penderitaan orang lain. > > Dari sana aku sendiri bisa menilai siapa yang konsisten akan sikap dan > keberanian untuk mengambil segala risiko atas setiap cara-cara yang > dipakai oleh sebuah rejim dalam memberangus kemerdekaan berpikir dan > penyeragaman sosial di negara ini. > > Selibriti aksi tak mesti ada hanya diajang demontrasi jalanan, ia pun > kadang hadir dalam kehidupan sehari-hari kita bahkan didunia yang ada > persis di depan mata. > > Duduk diam dengan manis demi keselamatan diri sendiri disaat rejim > baru mulai memberangus kemerdekaan kita dalam menyampaikan pendapat, > sekalipun kita bisa mempertanggungjawabkannya, merupakan salah satu > perbuatan yang dilakukan oleh selebriti aksi disepuluh tahun yang lalu. > > Matur suksma, > > Yos Kebe > mosalaki.multiply.com > > > -- -------------------------------------------- www.tonnytrisnawan.com Do not print this email, save your paper! paperless... paperless... paperless...

