Mr. nengah SUMERTA bagus genjing.

ini bukan persoalan "mekudus" ato ga "mekudus" (hehehehe) ini hanya persoalan 
kita bicara gagasan, kita bicara keyakinan politik dan kita bicara tentang 
basis argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan dari setiap gagsan yang kita 
tumpahkan.

kalo kemudian saya bicara,  itu hanya sebatas menjawab "gugatan" dari nengah 
tentang metode yang kami lakukan, serta  keyakinan kami para "anak jalanan" ini 
mengenai sikap penolakan kami tentang kenaikan harga BBM.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya paham keinginan untuk berteriak, kebencian akan ketertindasan, saya 
memiliki rasa itu kawan…gak usah khawatir, saya juga nasionalis yang pro rakyat.
  Tapi, saya berhasil menyadari, bahwasanya jalan kita dijalanan, hanya menjadi 
bahan tertawaan, tanpa menjadi memiliki titik tawar sedikitpun….
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
saya tidak pernah kuatir dengan dengan pilihan dan jalan seseorang
tapi saya punya keyakinan bahwa setiap orang bisa saja berubah dari sikap dan 
komitmen.
sederhana saja... sekian tahun saya ada dijalanan, sekian banyak pula saya 
kehilangan kawan (entah karena bosan ato karena mereka mulai"sadar" seperti 
"kesadaran" yang Nengah sampaikan), bahkan yang lebih parah kadang kawan 
berubah tempat ada disebrang kita dan kemudian menjadi "lawan".

Ketika Nengah bicara bahwa ada "kesadaran" baru tentang metode jalanan hanya 
bahan tertawaan dan tidak memiliki daya tawar, maka saya juga berhak untuk 
"menggugat" "kesadaran" yang seperti itu.

1.metode jalanan (parlemen jalanan) memang banyak menjadi tertawaan (saya akui 
itu. Tertawa paling lebar akan dilakukan oleh orang2 yang menganggap dirinya 
intelektual (tanpa tau makna dan hakikat intelektual yang sejati). 
tapi sejarah menyatakan metode jalanan sangat efektif untuk melakukan 
perubahan. 
2.Tidak punya nilai tawar, apa ukurannya?
kerap kali kita lupa bahwa nilai tawar itu kerap sudah teruji.
tidakkah refresifitas yang ditujukan terhadap metode ini adalah merupakan 
gambaran bahwa posisi tawar itu cukup besar. 
harus disadari bahwa parlemen jalanan kerap mampu mendorong perubahan d





I Nengah Sumerta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                   
  Peh jeg mekudus I Gendo we!
  Kaden pidan bareng ajak demo nolak kenaikan harga BBM pasti sing inget ajak 
raga!
   
  Jadi gini boss….I have been in your position, cumin (belum pernah dipenjara 
aja)
  Saya paham keinginan untuk berteriak, kebencian akan ketertindasan, saya 
memiliki rasa itu kawan…gak usah khawatir, saya juga nasionalis yang pro rakyat.
  Tapi, saya berhasil menyadari, bahwasanya jalan kita dijalanan, hanya menjadi 
bahan tertawaan, tanpa menjadi memiliki titik tawar sedikitpun….
  Dulu aku masih inget sekali seperti apa orasinya David, ketika pembacaan 
Vonis-mu di PN Denpasar, seperti apa Coki dan rekan berapi-api menyebutkan 
penghianatan pemerintah terhadap tujuan bernegara, seperti apa tertekanya 
rakyat kecil akibat kenaikan harga BBM, 
  AKu masih inget, tapi “apakah ada ”direct effect ” dari semua itu, enam bulan 
kau dipenjara, juga rekan kita di makassar, apakah itu memberi sebuah pengaruh 
pada kebijakan ESBEYE?? Tidak ada bukan?? 
   
  Jika kia berharap sebuah system bisa berubah, sangat kecil kita bisa 
merubahanya sebagai opposite , opposite  hanya menimbulkan permusuhan....dan 
incumbent tidak mungkin akan berkorporasi dengan opposite. 
  Jika kita memang sepakat berdemokrasi, memang demonstrasi tidak akan pernah 
basi, tapi percayalah…sebuah pernyataan sikap yang disampaikan dengan teriakan 
dan hujatan, niscaya akan menjadi sia-sia adanya. Yang mendengar dan tidak 
paham akan berantipati, pihak yang kita hujat akan memusuhi…lalu seperti apa 
sebuah Negara bisa kondusif dengan pola pikir berseberangan seperti itu?
  Kembali lagi ke truk tua, jika truknya tidak bisa berjalan, apakah kita harus 
membakarnya?? Tidak bukan….saya yakin kita masih punya solusi lain.
   
  Bagi saya,perubahan bisa kita buat jika berada di dalam sesuatu yang kita 
ingin perbaiki. Berada diluar dan berterika kedalam tidak akan banyak 
berpengaruh, mempengaruhi masyarakat dengan cara yang TIDAK disukai masyarakat, 
hanya akan membuat mereka berantipati ria terhadap kita.
  Cross the bridge when you cross it, not before you cross it
  kalau menurut anda hari ini adalah fase INFORMATION AGE, kira rumusan apa 
yang bisa menjelaskan bahwa pada saat memasuki fase Information AGE (anggap 
saya sepakat dengan istlah yang anda ucapkan) ternyata ada "setan" yang bernama 
UU ITE dan RUU TIPITI yang siap "meng aborsi" fase INFORMATION AGE sebelum dia 
lahir sempurna
   
  Disinilah intelktualitas berperan. Ada sedemikian banyak media yang kita bisa 
pakai untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang sebuah 
pemikiran….ada media, ada forum, ada organisasi. 
  Jalanan bukanlah sarana yang bijak dan effective untuk membuat “seruan” yang 
sebenarnya.
  Apa bedanya kita dengan anak yang menangis minta perment?? 
   
  Saya tidak bilang kalau gerakan jalanan anda tidak berfungsi baik, tapi 
jujur, saya pribadi tidak bisa melihat effektivitas dan effisiensi dari gerakan 
itu. Kalau hanya untuk menyuarakn aspirasi, kenapa mesti buang energi seperti 
itu (beberapa pihak bahkan menganggap sebagai menganggu ketertiabn umum)
   
  Saya tidak bisa menelaah lebih jauh effect-effect buruk dan semua kemungkinan 
negative akibat kenaikan BBM, karena pemahaman saya terbatas tentang itu.
   
  Back to work for Your very own freedom
   
  Nengah
      
---------------------------------
  
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
wayan suardana
 Sent: Wednesday, May 21, 2008 4:56 PM
 To: [email protected]
 Subject: Balasan: RE: Balasan: Re: [baliblogger] Sepuluh Tahun Lalu...
  
   
        haloo juga,
  kira2 apa ya cara mahasiswa???
 trus kalo berdemo itu salah??? kira2 apa yang benar.kira2 apa yang humanis??? 
tidakkah sesungguhnya humanisme itu adalah bicara tentang nasib kemanusiaan?? 
 kalo untuk bersuara saja kita mesti dibatasi dengan keakuan metode lalu metode 
apa yang anda tawarkan, kalau anda juga sepakat bicara perubahan??
 
 kalau menurut anda hari ini adalah fase INFORMATION AGE, kira rumusan apa yang 
bisa menjelaskan bahwa pada saat memasuki fase Information AGE (anggap saya 
sepakat dengan istlah yang anda ucapkan) ternyata ada "setan" yang bernama UU 
ITE dan RUU TIPITI yang siap "meng aborsi" fase INFORMATION AGE sebelum dia 
lahir sempurna???
 
 ijinkan saya ikut mengutip tulisan di tiang itu ya:
 “BUTA LEBIH BAIK DARIPADA MELIHAT ROMANTISME KEAKUAN, TULI LEBIH BAIK DARIPADA 
MENDENGAR ROMANTISME KEAKUAN”
 
 apakah KEAKUAN itu Romantisme,  pada saat anda berucap keakuan tentang fase 
INRFOMATION AGE??? 
 
 thx 
 GENDO
 I Nengah Sumerta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Hallo Semeton
  
     
  
    Ijinkanlah saya menutip sebuah tulisan yang pernah tertulis oleh orang tak 
dikenal di Kusen dan Tiang ruang Senat Faksas Unud:
  
    “BUTA LEBIH BAIK DARIPADA MELIHAT ROMANTISME KEAKUAN, TULI LEBIH BAIK 
DARIPADA MENDENGAR ROMANTISME KEAKUAN”
  
     
  
    Bagi saya pribadi, masa depan hanya bisa dihadapi dengan perencanaan untuk 
kesejahteraan pribadi, kita wajib berjuang untuk menyambung hidup kita sendiri.
  
    Berhentilah mengharapkan kebahagiaan palsu yang dijanji-janjikan oleh 
incumbent, Jika anda punya tanah, rajinlah menanam, jika anda mengerti 
teknologi, berkreasilah untuk berbagi, jika anda seorang mahasiswa, kritislah 
terhadap perubahan, tapi akan lebih humanistis jika mengkritisi sesuatu 
menggunakan cara mahasiswa.
  
     
  
    Kita tidak lagi berada di AGRICULTURAL atau INDUSTRIAL AGE, kita sudah di 
information AGE, jadi sadarlah…..bahwa sudah bukan saatnya seorang warga Negara 
berdemo ke pemerintah, untuk memaksa pemerintah menambah hutang, dan memaksa 
agar anak cucu kita yang bahkan belum lahir untuk menanggungnya.
  
     
  
    Janganlah membicarakan daya beli yang turun…kita harus berjuang sendiri 
untuk menngkatkan daya beli kita sendiri….
  
     
  
    TUNDUK KELAPARAN, ATAU BANGKIT MENCARI NAFKAH, KARENA DIAM ADALAH SIMBUL 
KEMALASAN
  
     
  
    Nengah
  
     
  
      
---------------------------------
  
    From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
yoskebe
 Sent: Wednesday, May 21, 2008 1:10 AM
 To: [email protected]
 Subject: Balasan: Re: [baliblogger] Sepuluh Tahun Lalu...
  
  
     
  
          Semeton Blogger, Pan Gendo dan Pan Tri...
 
 Sudah kodrat alam, jika engkau putus hubungan dengan pacar lama
 kemudian memutuskan menjalin hubungan dengan orang baru maka akan
 terucap janji-janji dan cita-cita baru dan tidak berusaha mengalami
 pengalaman pahit dengan mantan.
 
 Sudah kodrat alam pula jika kemudian dalam hubungan dengan pacar baru
 terdapat kesulitan-kesulitan yang dilihat lebih parah dengan yang
 dialami maka ROMANTIKA MASA LALU pun muncul dan kemudian dalam benak
 tertanam "ah.. ternyata dia lebih baik walaupun dia suka memnampar aku
 kalo kami berbeda pendapat"
 
 Dalam kontek jawaban Bli Tri maka tidak ada yang salah dengan
 ROMANTIKA ORDE BARU kawan, hal yang wajar. 
 
 Ini semata karena salah menilai kenyataan yang ada dan melihat
 kesulitan saat ini disebabkan oleh situasi saat ini semata bukan
 menanyakan secara kritis kenapa ini terjadi ! Hanya yang perlu kita
 kritisi adalah kenapa keadaan sekarang ini "lebih buruk dengan keadaan
 yang lalu" !
 
 ...edited
 ...edited
 ...edited
 
 Ah... singkat kata daripada berbicara panjang lebar, bagi yang lagi
 asyik masyuk dengan Romantika Orde Baru cuman satu yang ingin saya
 tanyaken :
 
 apakah hukum "atas petunjuk daripada bapak presiden" bisa menurunkan
 harga minyak dunia dan harga pangan global ?
 
 Jika memang bisa, mari kita pilih salah satu anak Soeharto sebagai
 presiden !
 
 Matur suksma,
 
 Yos Kebe
 mosalaki.multiply.com
 
 quote :
 "atas petunjuk daripada bapak presiden yaitu harga cabe keriting lima
 rupiah maka besok di pasar harga cabe semua lima rupiah !" harmoko
 dalam kick andi
 
 --- In [email protected], wayan suardana <[EMAIL PROTECTED]>
 wrote:
 >
 > Kalo ada yang rindu dengan keadaan seperti sebelum sepuluh tahun
 lalu.. di saat premium masih di kisaran seribuan per liter, atau
 bahkan merindukan masa jauh sebelum itu.. disaat merasakan bensin 500
 rupiah/liter.
 > 
 > maka kita ada pada kerinduan yang sama tapi dengan keinginan yang
 berbeda!
 > saya sanmgat tidak ingin keadaan seperti sebelum atau bahkan jauh
 sebelum 10 tahun lalu...
 > 
 > betul harga bensun murah....
 > betul harga sembako murah...
 > tapi semua adalah keadaaan MURAH yang seolah-seolah,
 > nyatanya semua itu disubsidi dengan hutang luarnegeri yang terus
 menerus menumpuk.
 > hutang-gutang yang selalu dikorup oleh kroni2 ORBA .
 > 
 > lalu ketika jatuh tempo...maka kiamatlah bagi rakyat Indonesia.
 Orang2 yang tidak tau apa2 tentang utang luar negeri tapi kemudian
 disuguhi dengan bayaran utang yang melimpah 7 juta per orang.
 > 
 > Gila!!!!! itukah kondisi yang kita inginkan?? kemakmuran semu. 
 > sesungguhnya keadaan sekarang, keadaan yang selalu anda sesali ini
 adalah keadaan sesungguhnya pada zaman sebelum 10 tahun lalu.
 > 
 .....deleted
 > 
 > hanya satu yang bener2 murag dan bukan tipuan rezim pada waktu
 sebelum 10 tahun yang lalu yaitu: HARGA NYAWA RAKYAT !!
 > thx
 > 
 .... deleted
 
 > "www.TonnyTrisnawan.com" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
 
 Dan Ironis nya.. setelah aksi demo pro reformasi sepuluh tahun lalu..
 nasib bangsa ini tidak kunjung membaik.. dan boleh dibilang semakin
 terpuruk. Kita jadi berpikir.. ah... seandainya seperti sebelum
 sepuluh tahun lalu.. di saat premium masih di kisaran seribuan per
 liter, bahkan jauh sebelum itu.. saya masih sempat merasakan bensin
 500 rupiah/liter.
 
 > Seandainya seperti sebelum sepuluh tahun lalu.. di saat hanya
 dengan uang Rp 600, saya bisa beli sate kuah lengkap dengan nasi putih
 dan teh botol nya dibilangan GOR Ngurah Rai Denpasar.
 > 
 
 > Hari ini 100 tahun kebangkitan Nasional, pemerintah memberikan kado
 istimewa berupa rencana kenaikan BBM tiga hari lagi. Beberapa hari
 yang lalu, saya mendapat forward-an email dari salah satu teman.
 Mungkin teman2 di sini juga sudah dapat. saya sendiri juga nggak tahu
 tingkat keakuratan dan kebenaran isi attachment nya. attachment berisi
 lebih kurang semacam perhitungan yg menyatakan bahwa BBM tidak perlu naik.
 > 
 > Jadi teringat cerita cupak grantang ngadek Ratu... Cupak yg pertama
 jadi Raja.. yg haus kekuasaan dan keserakahan.. lalu digulingkan oleh
 I Grantang. Lalu I Grantang naik tahta jadi Raja. Apa yg terjadi?
 Lama-kelamaan, lambat laun, Wajah I Grantang berubah secara perlahan..
 lama2 kok muka nya jadi mirip Cupak ya.. :D
 > 
 > Selamet gen.... jeg benyahang mekejang Ru!!
 > 
 > 
 > T.
 > 
 > 
 > 
 > 2008/5/20 yoskebe <[EMAIL PROTECTED]>:
 > Semeton Blogger...
 > 
 > Sepuluh tahun yang lalu, pasti masih melekat disemua ingatan bulan Mei
 > 1998 merupakan bulan penuh dengan gempita demonstrasi di seluruh
 > pelosok negeri, terutama di kampus-kampus. Salah satunya di kampus
 
 ............deleted
  
  
  
    No virus found in this incoming message.
 Checked by AVG.
 Version: 8.0.100 / Virus Database: 269.23.21/1455 - Release Date: 5/19/2008 
5:04 PM
  
  
  
  
     
      
    
---------------------------------
  
  Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
  
  
            No virus found in this incoming message.
 Checked by AVG.
 Version: 8.0.100 / Virus Database: 269.23.21/1457 - Release Date: 5/20/2008 
4:45 PM
 



     
                                       
 
       
---------------------------------
 Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist.   Download sekarang juga.

Kirim email ke