Inilah hasil dari candu yang 32 tahun disebarkan oleh bapak kita tercinta itu huahahaha ... Semua orang jadi terlena dan selalu mengenang masa - masa indah di dalam bayangan mereka ...
Dan saat candu - candu itu habis dan dihadapkan dengan realita ...
Para pecandu pun kelimpungan dan kebingungan ...

Ah, mungkin yang paling ditakuti bukan bahaya narkoba karena para pecandu pun ingin bersih lagi ...
Tapi bahaya candu orba ...

-winardi-
-http://winardi.wordpress.com-
cuman seorang wordpresser yang tidak nyandu orba ...

wayan suardana wrote:

Kalo ada yang rindu dengan keadaan seperti sebelum sepuluh tahun lalu.. di saat premium masih di kisaran seribuan per liter, atau bahkan merindukan masa jauh sebelum itu.. disaat merasakan bensin 500 rupiah/liter.

maka kita ada pada kerinduan yang sama tapi dengan keinginan yang berbeda!
saya sanmgat tidak ingin keadaan seperti sebelum atau bahkan jauh sebelum 10 tahun lalu...

betul harga bensun murah....
betul harga  sembako murah...
tapi semua adalah keadaaan MURAH yang seolah-seolah,
nyatanya semua itu disubsidi dengan hutang luarnegeri yang terus menerus menumpuk.
hutang-gutang yang selalu dikorup oleh kroni2 ORBA .

lalu ketika jatuh tempo...maka kiamatlah bagi rakyat Indonesia. Orang2 yang tidak tau apa2 tentang utang luar negeri tapi kemudian disuguhi dengan bayaran utang yang melimpah 7 juta per orang.

Gila!!!!! itukah kondisi yang kita inginkan?? kemakmuran semu.
sesungguhnya keadaan sekarang, keadaan yang selalu anda sesali ini adalah keadaan sesungguhnya pada zaman sebelum 10 tahun lalu.

harga-harga murah adalah alat tipu rezim. harga murah yang dibangun dari utang. mereka selalu membangga-banggakan utang luar negeri......... Ngutang kok bangga dan ga segan-segan berkata di media massa "kita bangsa yang terhormat karena asing percaya memberikan bantuan utang ke kita!" (hauhauauahua laknat).

hanya satu yang bener2 murag dan bukan tipuan rezim pada waktu sebelum 10 tahun yang lalu yaitu: HARGA NYAWA RAKYAT !!
thx

gendo (hanya seorang multiplyer, hehehe)

http://gendo.multiply.com/


*/"www.TonnyTrisnawan.com" <[EMAIL PROTECTED]>/* wrote:

    Dan Ironis nya.. setelah aksi demo pro reformasi sepuluh tahun
    lalu.. nasib bangsa ini tidak kunjung membaik.. dan boleh dibilang
    semakin terpuruk. Kita jadi berpikir.. ah... seandainya seperti
    sebelum sepuluh tahun lalu.. di saat premium masih di kisaran
    seribuan per liter, bahkan jauh sebelum itu.. saya masih sempat
    merasakan bensin 500 rupiah/liter.
    Seandainya seperti sebelum sepuluh tahun lalu.. di saat hanya
    dengan uang Rp 600, saya bisa beli sate kuah lengkap dengan nasi
    putih dan teh botol nya dibilangan GOR Ngurah Rai Denpasar.

    Hari ini 100 tahun kebangkitan Nasional, pemerintah memberikan
    kado istimewa berupa rencana kenaikan BBM tiga hari lagi. Beberapa
    hari yang lalu, saya mendapat forward-an email dari salah satu
    teman. Mungkin teman2 di sini juga sudah dapat. saya sendiri juga
    nggak tahu tingkat keakuratan dan kebenaran isi attachment nya.
    attachment berisi lebih kurang semacam perhitungan yg menyatakan
    bahwa BBM tidak perlu naik.

    Jadi teringat cerita cupak grantang ngadek Ratu... Cupak yg
    pertama jadi Raja.. yg haus kekuasaan dan keserakahan.. lalu
    digulingkan oleh I Grantang. Lalu I Grantang naik tahta jadi Raja.
    Apa yg terjadi? Lama-kelamaan, lambat laun, Wajah I Grantang
    berubah secara perlahan.. lama2 kok muka nya jadi mirip Cupak ya.. :D

    Selamet gen.... jeg benyahang mekejang Ru!!


    T.


    2008/5/20 yoskebe <[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>>:

        Semeton Blogger...

        Sepuluh tahun yang lalu, pasti masih melekat disemua ingatan
        bulan Mei
        1998 merupakan bulan penuh dengan gempita demonstrasi di seluruh
        pelosok negeri, terutama di kampus-kampus. Salah satunya di kampus
        Udayana.

        Cengkeraman kuku-kuku rejim Orde Baru yang semakin kalap berusaha
        menekan setiap elemen yang berusaha menyuarakan ketidakadilan yang
        semakin menjadi-jadi ditengah keterpurukan bangsa.

        Saya tidak bercerita tentang heroik binti nasionalisnya semua yang
        bergerak mengepalkan tangan dan melepas suara hingga habis demi
        menjadi bagian dari "voice of the voiceless" dan mewujudkan "vox
        populi vox dei"
        namun ada sisi menarik dari semua gegap gempita itu.

        Panggung demonstrasi dan ajang turun ke jalan kemudian menjadi
        satu
        lahan empuk bagi beberapa gelentir orang untuk unjuk muka
        disaat itu.
        Semua upaya unjuk muka itu entah dilatar belakangi oleh tujuan
        apa tak
        seorang pun bisa menebak, karena itulah dunia politik, penuh
        dengan
        intrik bermuka sepuluh.

        Maka tak heran, pada rapat2 persiapan demo dan dalam percakapan
        dikalangan terbatas muncul istilah 'SELEBRITI AKSI" yang ditujukan
        pada oknum2 yang berusaha mencari eksistensi diri demi
        melabelkan diri
        sebagai orang yang terdepan menyuarakan amanat penderitaan rakyat.

        Sungguh dan sungguh lucu jika melihat kelakuan para selebriti aksi
        itu. Pada saat panggung dibuka, mereka dengan sigap berdiri
        didepan
        kemudian jika suasana beralih ke warming up untuk head to head
        dengan
        barisan polisi anti huru hara posisi pindah menuju barisan paling
        belakang, nah pada saat pentungan pertama beradu dengan batok
        kepala
        maka para selibriti aksi dengan sigap mengambil langkah seribu
        menyelamatkan diri.

        Apa yang terjadi setelah semua adu pentungan dan harumnya gas
        air mata
        reda ? Selebriti aksi dengan gagah rupawan berada dibarisan depan
        dengan memasang tampang penuh percaya diri untuk siap berbicara
        didepan kamera, tape recorder para pemburu berita. Ah.. andaikata
        koran di kota kita sudah memberi ruang berita dengan tanda bintang
        (xx*) pasti sang selebriti aksi tak perlu sampai membuat rambutnya
        kacau baliau karena tertiup angin saat lintang pukang mencari
        persembunyian.

        Dari tingkah polah selebriti aksi itu aku sendiri bisa menilai
        siapa
        sebenarnya yang benar-benar menyuarakan semua ketidakadilan tanpa
        bermain sandiwara diatas penderitaan orang lain.

        Dari sana aku sendiri bisa menilai siapa yang konsisten akan
        sikap dan
        keberanian untuk mengambil segala risiko atas setiap cara-cara
        yang
        dipakai oleh sebuah rejim dalam memberangus kemerdekaan
        berpikir dan
        penyeragaman sosial di negara ini.

        Selibriti aksi tak mesti ada hanya diajang demontrasi jalanan,
        ia pun
        kadang hadir dalam kehidupan sehari-hari kita bahkan didunia
        yang ada
        persis di depan mata.

        Duduk diam dengan manis demi keselamatan diri sendiri disaat rejim
        baru mulai memberangus kemerdekaan kita dalam menyampaikan
        pendapat,
        sekalipun kita bisa mempertanggungjawabkannya, merupakan salah
        satu
        perbuatan yang dilakukan oleh selebriti aksi disepuluh tahun
        yang lalu.

        Matur suksma,

        Yos Kebe
        mosalaki.multiply.com <http://mosalaki.multiply.com>




-- --------------------------------------------
    www.tonnytrisnawan.com <http://www.tonnytrisnawan.com>

    Do not print this email, save your paper!
    paperless... paperless... paperless...


------------------------------------------------------------------------


.


Kirim email ke