Anu kieu jurig naon Kang? Pemuda Itu Kerasukan Penunggu Tangkubanparahu
ANGIN pagi terasa menusuk kulit. Bau belerang sesekali menyapa hidung. Gerakan pencak pria muda berpakaian serba hitam dengan sarung diselendangkan di leher, makin tidak teratur saat tiba di bibir Kawah Ratu, salah satu kawah aktif Gunung Tangkubanparahu. ARAK-arakan warga diiringi "kesenian terbang" berjalan perlahan dengan membawa persembahan, saat melakukan ritual "ruwat bumi" di kawasan Gunung Tangkubanparahu Kab. Bandung, Jumat (17/2). Upacara tradisi ini awalnya dilaksanakan para sesepuh sebagai ucapan syukur setelah wilayah ini terbebas dari serangan bom Belanda. Namun seiring perubahan zaman, kini ruatan dilaksanakan agar kawasan wisata ini menemukan kadamaian dan kesejahteraan bagi kehidupan warganya.*M. GELORA SAPTA/"PR" "Pria itu kerasukan penunggu Tangkubanparahu. Ia akan memberi petunjuk apakah kita boleh melakukan ritual ruat bumi di sini atau tidak," kata Sutisna, kokolot Desa Cikole, Kec. Lembang, Kab. Bandung, saat memimpin upacara Ruat Bumi di Gunung Tangkubanparahu, Jumat (17/2). Upacara diikuti warga Desa Cikole, pedagang, dan masyarakat yang selama ini mencari nafkah di sekitar Tangkubanparahu. Suara rebana terus terdengar sepanjang prosesi ngaruat. Rurujakan disertai kopi pahit dan manis, air teh, serta buah-buahan dan hahampangan berupa makanan ringan disimpan di atas tempurung kelapa menghadap empat penjuru mata angin. Diiringi untaian rajah mengagungkan pencipta dan mohon ampunan, Sutisna sebagai sesepuh adat Cikole, memimpin pemotongan hewan kurban. Kambing berwarna cokelat tua, merupakan hewan yang pertamakali yang dipotong. Kemudian diikuti ayam berbulu hitam dan merpati berwarna cokelat tua. "Semua itu hanya simbol dari nafsu hewani kita," ujar Sutisna. Prosesi Ngaruat Bumi usai sampai di situ. Angin yang tadinya menderu, berganti kabut tipis disertai bau belerang cukup menyengat. "Mudah-mudahan doa kita diterima Illahi," tuturnya. Usai prosesi, kaum ibu terlihat sibuk mempersiapkan makanan. Daging kambing, ayam, dan merpati yang dipotong, diolah untuk lauk pauk sebagai rasa syukur terhadap karunia yang telah diberikan-Nya. Beralaskan tikar pandan, masyarakat menikmati hidangan. "Dunia sudah semakin tua dan kita semakin terlena oleh hal-hal keduniawian, sementara alam yang merupakan karunia-Nya, kita lupakan. Sudah sewajarnya kita meminta maaf dan mensyukuri rahmat dan karunia yang sudah kita nikmati," tutur Sutisna. (Retno HY/PR)*** http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
