Bu Lies,
Tetap optimis, yakin bahwa kita lebih besar dari semua
masalah, dan Tuhan pasti memberikan yg lebih baik.

Salam
Cintadi

--- Lies Sudianti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>  
>   VONIS...... dalam bidang apapun seringkali
> merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan,
> apakah itu menderita suatu penyakit yang mematikan,
> dipecat atau diputus kontrak, dituduh melakukan
> kejahatan yang membuat seseorang harus mendekam di
> penjara, ditolak, dicerai..... atau vonis dibidang
> apapun termasuk kegagalan dalam bidang pendidikan,
> semuanya sangat tidak menyenangkan dan terkadang
> bisa mempengaruhi kestabilan fisik maupun mental.
>    
>   Aku ingat sembilan tahun lalu aku divonis
> menderita kanker mulut rahim stadium 3 B dimana
> waktu itu dokter memberikan bayangan bahwa aku tidak
> perlu dioperasi yang membuat aku berpikir penyakit
> ku ternyata tidak parah dan hatiku terasa besar
> karena dibebaskan dari penyakit yang menakutkan itu.
> Tapi apa yang sebenarnya terjadi? ternyata aku tidak
> jadi dioperasi justru karena sel kankerku sudah
> menyebar kemana mana sehingga tidak ada gunanya
> dioperasi. Yang membuat aku merasa semakin down
> justru karena aku merasa penyakitku tidak
> berbahaya.... seandainya aku tidak merasa diberi
> harapan kemungkinan aku tidak se-shock saat itu. Ada
> kemarahan, ketakutan dan nyaris putus asa yang
> menyelimuti akal sehatku yang membuat aku merasa
> kematian sudah sangat dekat.
>   Tapi dengan serta merta aku melawan pikiran yang
> mengharu biru yang nyaris membuatku benar benar
> putus asa dan apatis karena merasa sudah tidak
> mungkin ada harapan. aku memang marah kepada suami
> dan adikku yang menerima message dari sang dokter
> yang tidak mau menyampaikan langsung pada pasien
> karena alasan keluarga lebih mengenal watak pasien
> sehingga diharapkan lebih mampu menyampaikan berita
> yang kurang menggembirakan tsb. ternyata penanganan
> seperti itu justru membuatku marah, tidak ada
> seorang pun di dunia ini yang lebih berhak tahu
> tentang nasib seseorang selain orang itu sendiri
> apalagi kalau menyangkut hidup dan mati.
>   Dengan segera kulawan semua pikiran dan perasaan
> negatip yang melemahkan itu, aku segera bangkit dan
> berkata pada diriku sendiri bahwa umur di tangan
> Tuhan, tidak ada seorang pun yang bisa menentukan
> kapan kita mati ... walau seorang dokter ahli
> sekalipun. Aku yakin sakit tidak berbanding lurus
> dengan kematian, sakit berbanding lurus dengan sehat
> sebagai bentuk hukum alam tentang keseimbangan
> karena itu sampai ajal menjemput kita tidak boleh
> menyerah separah apapun penyakit yang kita derita.
> Dan pada saat itu aku menanamkan pada diriku sendiri
> bahwa kalaupun sel sel kanker itu akan merenggut
> nyawaku maka dia harus bekerja keras untuk
> menaklukkan tubuhku karena aku tidak akan
> membiarkannya menaklukkan aku dengan mudah. Yang aku
> lakukan selanjutnya adalah bertanya langsung pada
> dokter tentang kondisi penyakitku serta kansku untuk
> sembuh sekecil apapun itu layak diperjuangkan dan
> waktu itu aku memperjuangkan peluang hidup yang 25%.
> Yang mengherankan saat aku mengembalikan
>  segalanya kepada realita tiba tiba semua rasa takut
> hilang yang ada justru semangat untuk melawan,
> semangat untuk menjalani proses kehidupan baru yang
> belum pernah kubayangkan sebelumnya, bahkan walau
> sering mendengar tentang kanker aku sendiri tidak
> punya bayangan seperti apakah bentuknya.
>    
>   Aku mencari bahan referensi tentang kanker dan
> membaca banyak tulisan tentang mereka yang sukses
> melawan kanker salah satunya adalah CHICKEN SOUP
> buat penderita kanker, aku terus menerus
> berkomunikasi dengan semua dokter yang menangani
> aku, aku membuat catatan dari semua peristiwa yang
> kujalani obat yang kumakan, kemoterapi, radiasi,
> sinar dalam, penderitaan yang harus kujalani selama
> 4 bulan di rumah sakit, doa dan sholat yang menjadi
> sangat nikmat karena jelas yang diminta, aku
> menjalani semuanya dengan santai, tanpa rasa takut,
> dan rasa sakit yang luar biasa pun tidak membuatku
> mau menelan morfin karena aku yakini ini adalah
> proses mengurangi dosa dosaku yang menggunung. Aku
> ikhlaskan semuanya hanya kepada Allah. Aku melakukan
> meditasi, visualisasi untuk bisa membunuh dan
> melawan sel sel kanker yang bersarang ditubuhku,
> setiap hari aku olah raga dan olah napas  di rumah
> sakit dan yang pasti aku tidak mau merasa seperti
> pasien yang sedang menunggu kematian, aku makan
>  apa saja seperti orang sehat. Dan aku akan marah
> sekali kalau ada pengunjung yang menangis karena
> buatku justru itu membuat aku menjadi lemah, aku
> juga menolak mereka yang sakit karena kondisiku
> sangat rentan akibat kemoterapi sehingga anti bodiku
> tidak akan sanggup melawan penyakit seringan flu
> sekalipun. Dengan segala daya akhirnya aku terbebas
> dari penyakit itu, walau dokter wanti wanti agar aku
> tetap kontrol karena katanya tidak ada istilah
> sembuh buat pasien kanker yang ada sel kankernya
> sudah tidak aktif tapi bisa saja kambuh lagi jika
> ada pemicunya yang salah satunya adalah STRESS
> selain hidup yang tidak teratur, kita harus kembali
> ke alam seperti yang memang sudah dirancang oleh
> Tuhan agar layak untuk menjadi tempat hidup makhluk
> ciptaanNya, sayangnya tangan tangan jail dan ambisi
> manusia yang seringkali justru merusaknya.Kini
> sembilan tahun sudah berlalu tapi aku tetap tidak
> berani takabur karena banyak orang yang kukenal
> pernah menderita kanker sekarang ini
>  terjangkit lagi dengan stadium yang lebih parah.
> Aku hanya ingin menekankan di sini bahwa VONIS
> apapun yang kita terima jangan langsung membuat kita
> terpuruk, percayalah segala sesuatu terjadi untuk
> sebuah alasan karena tidak ada yang sia sia di alam
> semesta ini.
>    
>   Hari ini aku baru saja mendapat VONIS ke dua yang
> aku anggap cukup berat yaitu KONTRAK KERJA ku di
> NISSAN akan berakhir bulan depan, aku sempat shock,
> gamang, sedih, merasa dicampakkan setelah
> pengabdianku selama ini, belum lagi membayangkan ke
> 3 anakku yang masih sekolah yang membutuhkan banyak
> biaya tapi kemudian aku sadar semua perasaan negatip
> itu justru akan membuat aku semakin lemah dan tidak
> berdaya karena itu langsung aku switch off. Aku
> tanamkan pada diriku bahwa WE ARE THE MASTER OF
> OURSELVES..... SO NEVER LET ANYTHING TAKE THE
> CONTROL.
>    
>    Aku percaya Tuhan tidak akan mencoba umatNya di
> luar kemampuannya, pasti ini hanya merupakan proses
> tertutupnya sebuah pintu untuk memberi kesempatan
> terbukanya  pintu pintu lain yang lebih menjanjikan.
>    
>   Beruntung aku kini punya PROFEC yang memberi
> sebuah arti buatku semoga aku bisa punya lebih
> banyak waktu untuknya. Akupun yakin keberadaan milis
> ini pasti bukan tanpa alasan, karena tak ada satupun
> kejadian di alam semesta ini tanpa ijin Tuhan bahkan
> sebuah daun kering pun berjatuhan karena ijin Nya.
>    
>   Salam EPOS,
>    
>   Lies Sudianti
>   Founder & Moderator the Profec
>   0816995258
>   [EMAIL PROTECTED]
>    
>    
> 



       
____________________________________________________________________________________
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's 
Comedy with an Edge to see what's on, when. 
http://tv.yahoo.com/collections/222

Kirim email ke