Yth.Pak Ibnu Taufan,
Kami sekeluarga pun ikut berduka dengan berpulangnya istri / ibunda dari 3
anak, semoga arwah ybs telah diterima disisiNya sesuai dengan amal dan
perbuatannya, serta Pak Taufan sendiri dan anak anak diberikan kekuatan iman
dan penghiburan.
Salam dari kami yang juga baru ditinggalkan oleh istri tercinta / ibunda 3
anak kami, dengan mendadak juga (tanpa ada tanda tanda akan meninggalkan kami
semua).
D.Budi Eman
NB : Saya setuju dengan : Kalau Bu Lies berkenan membukukan pengalaman hidup
/ kesaksian untuk saling menguatkan, seperti yang diusulkan Pak Taufan.
Kebetulan kami (seorang sahabat/sekaligus penerbit, alm.istri saya (dulu
editor di PN Balai Pustaka) & saya, kemarin juga menyusun Kesaksian seorang
sahabat Lion, tentang pengalaman serta kesaksian tentang GLAUKOMA. Belum
terbit, istri saya keburu berpulang, buku tsb tetap diteruskan / proses editing
sudah selesai.
Bisa sharing Bu Lies.
Ikhwan Sopa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Innalillahi wa inna illaihi rajiun.
Yth Pak Taufan. Saya kaget sekali menerima posting ini, sebab sampai
hari ini memang tidak ada yang memberitahu tentang musibah yang Pak
Taufan alami.
Dalam kesempatan ini, saya secara pribadi dan keluarga, dan sekaligus
mewakili keluarga besar Milis Bicara, ikut berduka cita. Semoga arwah
almarhumah di terima di sisi Allah SWT, dan Pak Taufan serta keluarga
lain yang ditinggalkan, diberi kekuatan untuk bisa bersabar dan
ikhlas. Amiieen.
Ikhwan Sopa
Moderator Milis Bicara.
--- In [email protected], "IBNU TAUFAN" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ibu Lies yang tegar ...
>
> Luar biasa !
>
> Saya pikir pengalaman Bu Lies dapat menjadi "knowledge" yang akan
membantu bukan cuma dokter, tetapi juga penderita (pasien) dan lebih-
lebih juga keluarga penderita ... seperti yang baru saja saya alami !
>
> Saya baru saja kehilangan, ditinggal pergi oleh isteri saya,
Shermine atau Cherry (sempat juga bertemu dengan Bu Lies) ..
persisnya tanggal 17 Agustus 2007, pukul 22.45.. Ketika meninggal
dunia, kami keluarga besar belum percaya dengan indikasi suspect
multiple myeloma ...CA pada plasma darah.... Kamis 16/8 pagi masih
bisa mandi sendiri, bahkan sekitar pukul 13.00 masih sempat
mengubungi saya per telpon mengabarkan kesulitan bernafas ... Minta
agar saya menghubungi dokter ahli pernafasan yang merujuk kami untuk
observasi ke RS PELNI ... Sayangnya, --meskipun saya ikhlas dan
menilai ini adalah keputusan Allah-- pihak rumah sakit atau tim
dokter terlambat mengambil tindakan .. Bayangkan keluhan semakin
sesak sejak menjelang siang (pk 11 - 12) ..kok baru ditangani sekitar
pukul 21.00. Itu pun gagal karena perlu guided CT scan yang
Alhamdulillah karena 17/8 hari libur (dokter dan sistem pelayanan di
RS juga libur !!??) ..katanya baru bisa dilakukan hari Sabtu 18/8 ..
Sekali lagi, mungkin ini juga karena sudah keputusan Allah, tengah
malam (pk 24,00) ternyata ruang/petugas CT Scan bisa membantu dan
dokter bedah pun siap untuk melakukan tindakan (memasang selang semi
permanen guna mengeluarkan cairan dari rongga paru & diafragma) ..
Memang hasilnya tidak banyak menolong, bahkan Almarhumah semakin
merosot kondisinya setelah masuk ICU pada pkl 02.00 dinihari, dan
bertahan sampai pukul 22.45 WIB. Innalillahi wa inna illaihi rajiun
! Mohon doanya ...
>
> Hikmah yang ingin saya sharing, karena tidak puas dengan penjelasan
dokter, --makanya saya ingin mendorong Bu Lies untuk menuliskan
pengalaman hebat-nya menghadapi CA dengan sangat luarbiasa--, ketika
mendapat kabar isteri suspect MM ... saya dan anak2 saya setiap malam
browsing internet. Menelusuri semua situs yang bisa menjelaskan
"what, why, when, how" tentang MM ... sumber2 di negeri kita memang
sangat sedikit .. Alhamdulillah kami belajar sangat banyak, dari
tidak tahu sama sekali, sampai mengenai cukup banyak semua gejala
awal, symptom dan keluhan2 yang sering ditemukan, berbagai tes klinik
dan lab yang harus dilewati, stadium dan setiap implikasinya..sampai
pengobatan yang hanya memberikan "perpanjangan waktu" saja ...
BAHKAN, ini yang sangat menjadi inspirasi kami ... kami menemukan
banyak sekali (sekitar 150-an) tulisan dari beberapa situs dan blog
para survivor MM .. yang menceritakan indikasi awal, masa
penderitaan, masa pengobatan ..dan yang melewati vonis waktu secara
klinis tetapi masih bertahan hidup ... apa saja yang mereka lakukan,
bagaimana upaya untuk menjaga kondisi tubuh dan metabolismanya, diet
dan suplemen2 yang mereka pergunakan .. Pokoknya kami belajar banyak
..meski pun pelajaran tersebut tidak dapat kami lakukan untuk isteri/
ibu kami tercinta, karena Allah lebih menyayangi-Nya dan memanggil
lebih dahulu ...
>
> NAH, Ibu Lies yang super ... saya sudah dua-tiga kali mendengar dan
juga membaca cuplikan cerita tentang perjuangan Ibu Lies memerangi CA
... Alangkah bagus-nya seperti yang Ibu sampaikan untuk menyusun
CHICKEN SOUP tentang CA itu .. Ibu sudah memulainya, mohon untuk
diteruskan serta dilengkapi dengan sisi human interest-nya ..
termasuk atau yang paling penting menguraikan gejala awal yang Ibu
alami ... juga peran keluarga untuk memotivasi sampai Ibu bertekad
untuk terus berjuang .. Semoga Allahu Rabbi memberikan hidayah-Nya
..dan karena Dia yang memiliki semua penyakit, maka pasti Dia juga
punya Penawar terbaik ..dan dengan ridha-Nya juga mengangkat
penyakit Ibu ..serta tentu menyembuhkan dengan sesembuh-sembuhnya ..
Amin.
>
> Sekedar catatan ... yang saya pahami, untuk jenis penyakit
tertentu, seperti CA yang serius dan pasti punya pengaruh psikologis
kepada penderita mau pun keluarga, sebaiknya disampaikan kepada
keluarga terdekat ....untuk kemudian dengan bijakasana disampaikan
kepada penderita, pertimbangnya keluarga yang tahu persis kondisi
psikologis penderita... TETAPI dalam kasus Almarhumah isteri saya,
justru disampaikan langsung oleh dokter kepada isteri saya ... dan
bayangkan stress yang dihadapi, dampaknya menghadapi kami semua ..
sampai tidak mengijinkan kami menunggui di rumah sakit, kecuali yang
diijinkan hanya pada hari Kamis 16/7 karena esoknya adalah hari libur
nasional ..dan akhirnya hari itulah hari terbaik dia pergi
meninggalkan kami semua, --terutama saya bersama tiga puteri saya
...
>
> Ibu Lies ... terus tegar... !!
> Saya dan saya pikir kita semua ingin Ibu terus berjuang dan Insya
Allah semua perhitungan akan dilakukan oleh Allahu Rabbi sesuai
dengan kemampuan dan ikhtiar Ibu .. Dan doa kami, agar Ibu terus
sehat dan disempatkan menuliskan/melengkapi semua pengalaman tersebut
... Saya juga sedang mencoba menuliskan pengalaman kami berempat
"mengenali dan memahami serta mendampingi penderita MM" ...
>
> Salam dan Doa dari saya,
>
> Ibnu Taufan
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Lies Sudianti
> To: [EMAIL PROTECTED] ; milis Bicara ; lintas milis ;
lintasmilis ; KemahmarComm ; [EMAIL PROTECTED] ; hobby club ;
Komunikasi Empati ; mayapadaprana
> Cc: Dede Farhan ; Yetti ; tevy ambara ; muhammad ridwan
> Sent: Tuesday, August 28, 2007 5:24 PM
> Subject: [Bicara] BAGAIMANA CARA MENGHADAPI SEBUAH VONIS
>
>
>
>
> VONIS...... dalam bidang apapun seringkali merupakan sesuatu yang
sangat tidak menyenangkan, apakah itu menderita suatu penyakit yang
mematikan, dipecat atau diputus kontrak, dituduh melakukan kejahatan
yang membuat seseorang harus mendekam di penjara, ditolak,
dicerai..... atau vonis dibidang apapun termasuk kegagalan dalam
bidang pendidikan, semuanya sangat tidak menyenangkan dan terkadang
bisa mempengaruhi kestabilan fisik maupun mental.
>
> Aku ingat sembilan tahun lalu aku divonis menderita kanker mulut
rahim stadium 3 B dimana waktu itu dokter memberikan bayangan bahwa
aku tidak perlu dioperasi yang membuat aku berpikir penyakit ku
ternyata tidak parah dan hatiku terasa besar karena dibebaskan dari
penyakit yang menakutkan itu. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?
ternyata aku tidak jadi dioperasi justru karena sel kankerku sudah
menyebar kemana mana sehingga tidak ada gunanya dioperasi. Yang
membuat aku merasa semakin down justru karena aku merasa penyakitku
tidak berbahaya.... seandainya aku tidak merasa diberi harapan
kemungkinan aku tidak se-shock saat itu. Ada kemarahan, ketakutan dan
nyaris putus asa yang menyelimuti akal sehatku yang membuat aku
merasa kematian sudah sangat dekat.
> Tapi dengan serta merta aku melawan pikiran yang mengharu biru
yang nyaris membuatku benar benar putus asa dan apatis karena merasa
sudah tidak mungkin ada harapan. aku memang marah kepada suami dan
adikku yang menerima message dari sang dokter yang tidak mau
menyampaikan langsung pada pasien karena alasan keluarga lebih
mengenal watak pasien sehingga diharapkan lebih mampu menyampaikan
berita yang kurang menggembirakan tsb. ternyata penanganan seperti
itu justru membuatku marah, tidak ada seorang pun di dunia ini yang
lebih berhak tahu tentang nasib seseorang selain orang itu sendiri
apalagi kalau menyangkut hidup dan mati.
> Dengan segera kulawan semua pikiran dan perasaan negatip yang
melemahkan itu, aku segera bangkit dan berkata pada diriku sendiri
bahwa umur di tangan Tuhan, tidak ada seorang pun yang bisa
menentukan kapan kita mati ... walau seorang dokter ahli sekalipun.
Aku yakin sakit tidak berbanding lurus dengan kematian, sakit
berbanding lurus dengan sehat sebagai bentuk hukum alam tentang
keseimbangan karena itu sampai ajal menjemput kita tidak boleh
menyerah separah apapun penyakit yang kita derita. Dan pada saat itu
aku menanamkan pada diriku sendiri bahwa kalaupun sel sel kanker itu
akan merenggut nyawaku maka dia harus bekerja keras untuk menaklukkan
tubuhku karena aku tidak akan membiarkannya menaklukkan aku dengan
mudah. Yang aku lakukan selanjutnya adalah bertanya langsung pada
dokter tentang kondisi penyakitku serta kansku untuk sembuh sekecil
apapun itu layak diperjuangkan dan waktu itu aku memperjuangkan
peluang hidup yang 25%. Yang mengherankan saat aku mengembalikan
segalanya kepada realita tiba tiba semua rasa takut hilang yang ada
justru semangat untuk melawan, semangat untuk menjalani proses
kehidupan baru yang belum pernah kubayangkan sebelumnya, bahkan walau
sering mendengar tentang kanker aku sendiri tidak punya bayangan
seperti apakah bentuknya.
>
> Aku mencari bahan referensi tentang kanker dan membaca banyak
tulisan tentang mereka yang sukses melawan kanker salah satunya
adalah CHICKEN SOUP buat penderita kanker, aku terus menerus
berkomunikasi dengan semua dokter yang menangani aku, aku membuat
catatan dari semua peristiwa yang kujalani obat yang kumakan,
kemoterapi, radiasi, sinar dalam, penderitaan yang harus kujalani
selama 4 bulan di rumah sakit, doa dan sholat yang menjadi sangat
nikmat karena jelas yang diminta, aku menjalani semuanya dengan
santai, tanpa rasa takut, dan rasa sakit yang luar biasa pun tidak
membuatku mau menelan morfin karena aku yakini ini adalah proses
mengurangi dosa dosaku yang menggunung. Aku ikhlaskan semuanya hanya
kepada Allah. Aku melakukan meditasi, visualisasi untuk bisa membunuh
dan melawan sel sel kanker yang bersarang ditubuhku, setiap hari aku
olah raga dan olah napas di rumah sakit dan yang pasti aku tidak mau
merasa seperti pasien yang sedang menunggu kematian, aku makan apa
saja seperti orang sehat. Dan aku akan marah sekali kalau ada
pengunjung yang menangis karena buatku justru itu membuat aku menjadi
lemah, aku juga menolak mereka yang sakit karena kondisiku sangat
rentan akibat kemoterapi sehingga anti bodiku tidak akan sanggup
melawan penyakit seringan flu sekalipun. Dengan segala daya akhirnya
aku terbebas dari penyakit itu, walau dokter wanti wanti agar aku
tetap kontrol karena katanya tidak ada istilah sembuh buat pasien
kanker yang ada sel kankernya sudah tidak aktif tapi bisa saja kambuh
lagi jika ada pemicunya yang salah satunya adalah STRESS selain hidup
yang tidak teratur, kita harus kembali ke alam seperti yang memang
sudah dirancang oleh Tuhan agar layak untuk menjadi tempat hidup
makhluk ciptaanNya, sayangnya tangan tangan jail dan ambisi manusia
yang seringkali justru merusaknya.Kini sembilan tahun sudah berlalu
tapi aku tetap tidak berani takabur karena banyak orang yang kukenal
pernah menderita kanker sekarang ini terjangkit lagi dengan stadium
yang lebih parah. Aku hanya ingin menekankan di sini bahwa VONIS
apapun yang kita terima jangan langsung membuat kita terpuruk,
percayalah segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan karena tidak
ada yang sia sia di alam semesta ini.
>
> Hari ini aku baru saja mendapat VONIS ke dua yang aku anggap
cukup berat yaitu KONTRAK KERJA ku di NISSAN akan berakhir bulan
depan, aku sempat shock, gamang, sedih, merasa dicampakkan setelah
pengabdianku selama ini, belum lagi membayangkan ke 3 anakku yang
masih sekolah yang membutuhkan banyak biaya tapi kemudian aku sadar
semua perasaan negatip itu justru akan membuat aku semakin lemah dan
tidak berdaya karena itu langsung aku switch off. Aku tanamkan pada
diriku bahwa WE ARE THE MASTER OF OURSELVES..... SO NEVER LET
ANYTHING TAKE THE CONTROL.
>
> Aku percaya Tuhan tidak akan mencoba umatNya di luar
kemampuannya, pasti ini hanya merupakan proses tertutupnya sebuah
pintu untuk memberi kesempatan terbukanya pintu pintu lain yang
lebih menjanjikan.
>
> Beruntung aku kini punya PROFEC yang memberi sebuah arti buatku
semoga aku bisa punya lebih banyak waktu untuknya. Akupun yakin
keberadaan milis ini pasti bukan tanpa alasan, karena tak ada satupun
kejadian di alam semesta ini tanpa ijin Tuhan bahkan sebuah daun
kering pun berjatuhan karena ijin Nya.
>
> Salam EPOS,
>
> Lies Sudianti
> Founder & Moderator the Profec
> 0816995258
> [EMAIL PROTECTED]
>
---------------------------------
Building a website is a piece of cake.
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.