Yamin Prabudy:
> "Buddhism EGOIS, mementingkan diri sendiri, mau menang sendiri.
> Mengatasnamakan Karma baik maka dia berbuat baik, coba saja ngak ada
> pahala (AKA karma baik)
> apakah yang namanya umat Buddhis mau berbuat baik? mau membantu?
> Untuk berbuat baik saja selalu ditambahin embel-embel demi Karma baik
> (mengharapkan Pahala lagi).
> Egois, karena tujuan berbuat baik adalah karena ada udang di balik
> kwetiau (gua ganti aja deh batu jadi kwetiau)
> supaya mendapatkan karma baik..ujung-ujungnnya yah untuk dia sendiri
> (demi karma baik itu lagi)
> Menakut-nakuti umatnya dengan nama Karma, ngak boleh berbuat jahat nanti
> dapat karma jelek."

Wijaya:
Perlu diluruskan dulu soal istilah.
Karma =  Perbuatan--yang didorong oleh kehendak, niat.
Hasil atau buah dari perbuatan disebut Karma Vipaka.
Jadi yang bener bukan dapat "karma jelek", tapi dapat "karma vipaka yang
jelek".


Memangnya anehkah, kalau seorang petani menanam benih karena  keinginan
memperoleh panen atau sesuatu? Sangat wajarlah.

Memangnya  teman Bro Yamin yang tanya itu berbuat baik karena apa? Tanya,
dong. Kan Ego juga, kecuali mereka yang egonya sudah total habis.

Karena masih punya ego, maka WAJAR kalau kita berbuat baik karena didorong
oleh ego kita. Karena mau dapat yang enak, bahagia. Surgakah; agar bisa
setelah mati di sisi Tuhan-kah; agar bisa meraih Nirvana-kah.

Justru kalau orang masih punya ego, tapi mampu SELALU berbuat baik tanpa
dipengaruhi ego, malah jadinya TIDAK WAJAR.... ANEH.... AJAIB!
Itu baru mukjijat sejati, namanya.


Berbuat baik karena ingin: namanya terkenal, dihormati, dapat pahala surga,
bisnis lancar, dapat jodoh adalah wajar. Normal. Walaupun keinginan itu
bukanlah keinginan yang terluhur.

Target yang lebih luhur adalah melakukan kebaikan karena ingin melakukan
kebaikan. Bila kita berbuat bohong sekali, maka kita mesti menyiapkan 1000
kebohongan lagi. Kalau kita melakukan perbuatan buruk, maka itu membuka
kondisi lebih besar untuk melakukan keburukan lagi. Demikian sebaliknya,
bila kita melakukan kebaikan, itu memberi kondisi atau jalan kepada kita
untuk melakukan lebih banyak kebajikan lagi.

Jadi, berbuat baik karena mengharapkan balasan, buah yang manis adalah
sesuatu yang wajar-wajar saja. Normal.

Cuma ingat juga.Kalau kita berbuat baik dengan target menengah, kita hanya
akan dapat yang menengah saja. Nama baik, terkenal, dapat relasi bisnis,
jodoh, dlsb.

Tapi kalau target kita--lebih luhur--, berbuat baik "agar bisa berbuat baik
lebih banyak lagi", maka selain target yg lebih luhur itu dicapai, target
menengah juga akan sekaligus diperoleh. Sekaligus dapat 2 target. Walau
mungkin kita tidak mengharapkan target yg lebih rendah tersebut.

Contohnya Sumedha(?), ia ingin jadi Sammasambuddha. Dengan menyempurnakan
semua paramita, ketika targetnya tercapai, maka bonus-bonus yang walau tak
diharapkan, otomatis diperoleh juga.

Selanjutnya adalah pilihan kita masing-masing. Dalam berbuat baik, kita
memilih target yang mana. Tapi dengan pemahaman di atas, tentunya kita akan
berusaha agar dalam berbuat baik, kita memiliki target yang lebih luhur.

Sebagai tambahan,
Seorang Arahat, yang egonya sudah habis total, berbuat baik bukan didorong
oleh ego lagi--karena itulah perbuatannya tidak disebut sebagai Karma--,
tapi didorong oleh Metta. Kita yang masih besar egonya, juga sewaktu-waktu
bisa berbuat baik karena metta. Berbuat baik hanya karena ingin
membahagiakan orang lain, tanpa ada harapan atau dorongan karena ingin
mendapat apapun. Walau kita sangat ingin diri kita mampu selalu berbuat
demikian[berbuat baik karena metta semata], belum tentu mampu kita lakukan.
Seberapa seringnya kita mampu, itu tergantung kualitas diri kita masing2.


Zhuge Liang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Hal-hal yg perlu diselidiki sebelum memutuskan
>bahwa buahnya adalah baik:
> 1. Selalu berprinsip bahwa benih yg baik
>tanpa perawatan ataupun pemupukan yg baik,
>maka buahnya belum tentu baik,
>walaupun telah menanam benih yg baik.

Wijaya:
Silahkan baca artikel yang saya kirim di bawah.

Tepatnya, menurut Hukum Karma, karma baik SUDAH PASTI akan membuahkan
kebaikan. Mustahil membuahkan penderitaan. Cuma, karma seperti benih, apakah
akan berbuah LEBAT atau SEDIKIT, tergantung pemupukan, perawatan. Bisa lihat
doktrin pembagian Karma. Ada yang disebut Karma penguat, penghancur,
pemotong dlsb.



==MENGAPA  BERBUAT  BAIK?==


Tidak perlu diragukan lagi, setiap agama mengajarkan umatnya untuk berbuat
baik. Perbuatan baik adalah hal yang sangat dipuji dan dihargai. Tetapi cara
yang ditempuh suatu agama dalam upayanya untuk membuat umatnya selalu
berbuat baik itu tidaklah sama dengan cara yang ditempuh agama lainnya.
Tiap-tiap agama mempunyai ciri khas tersendiri dalam membimbing umatnya.
Dengan demikian, alasan-alasan yang melatar belakangi perbuatan baik
seseorang itu juga bermacam-macam. Karena alasannya bermacam-macam maka
dengan sendirinya "TUJUANNYA" juga menjadi bermacam-macam.

Agama Buddha juga tentu saja mempunyai suatu cara tersendiri dalam mengajar
umatnya berbuat baik. KESADARAN SENDIRI dan KEYAKINAN adalah bagian paling
penting dan utama yang tidak boleh terpisahkan dari perbuatan baik.

Sang Buddha tidak menginginkan umatnya berbuat baik hanya karena PERASAAN
TAKUT kepada dewa, Tuhan, Arahat ataupun Sang Buddha sendiri. Menakut-nakuti
memang suatu cara yang mudah untuk memaksa manusia untuk berbuat baik.
Tetapi Sang Buddha sebagai pendobrak segala macam bentuk perbudakan tidak
dapat menyetujui cara-cara yang kurang bijak tersebut. Kebebasan bathin
lebih diutamakan daripada hanya sekedar berbuat baik dengan dilandasi
perasaan takut. Itu tak ubahnya seperti seorang budak yang bekerja karena
perasaan takut kepada tuannya.

Dalam pengertian Agama Buddha, rasa takut, walau dalam bentuk apapun juga,
tetap merupakan suatu penghalang yang membuat bathin manusia menjadi
tertekan dan tertindas sehingga tidak dapat berpikir dengan pandangan luas,
bebas dan terbuka. Sungguh menyedihkan, bila agama yang seharusnya bisa
membawa perasaan tenang malah mempertebal rasa takut yang tidak beralasan
dari para pengikutnya.

Bagakan seorang petani yang bekerja dengan penuh keyakinan; Yakin bahwa
benih yang ditanam adalah benih yang baik dan yakin bahwa dari benih yang
baik pasti akan membuahkan hasil yang baik, maka demikian juga seorang Umat
Buddha dalam melakukan perbuatan baik. Ia akan selalu berbuat baik dengan
penuh keyakinan. Yakin apa yang akan dikerjakannya adalah perbuatan baik dan
yakin bahwa perbuatan baik pasti akan membawa kebahagiaan.

Dengan kalimat yang lebih keren, Umat Buddha mengungkapkan pengertiannya
sebagai berikut:

"Sesuai dengan benih yang ditanam, begitulah buah yang akan dipetiknya.
Ia yang berbuat baik akan menerima kebaikan."

Hanya dengan pengertian dan pandangan demikianlah suatu perbuatan baik dapat
dikatakan bersih dan murni. Bebas dari paksaan maupun rasa takut.

Untuk menjawab pertanyaan yang menjadi judul artikel ini, seorang Umat
Buddha akan menyatakan dengan tegas,
"Kami berbuat baik karena kami sadar, tahu dan mengerti dengan jelas akan
manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan perbuatan itu."

(Oleh: Tan Jan Sui,  Majalah Pancaran Dharma)
oooOooo




Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke